Sebuah karya akan menjadi bernilai, manakala bisa membawa manfaat bagi orang lain, dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. (QS.59:18)
Banner
Thursday, April 20, 2006
Gerakan Sholat Bermanfaat Untuk Kesehatan
eramuslim - Sholat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tapi juga gerakan-gerakan salat adalah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, sholat adalah gudang obat dari berbagai jenis penyakit.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaannya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan sholat, merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam salat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:
Takbiratul Ihram:, berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.
Ruku':, Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Manfaat, Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.
I'tidal:, Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga. Manfaat: i'tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.
Sujud:, Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.
Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma'ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.
Duduk:,Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. Manfaatnya, saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.
Salam:, Gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Manfaatnya untuk relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.
Gerakan sujud dalam sholat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.
Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Bahwa darah tidak akan memasuki urat syaraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang bersembahyang yakni ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti kadar salat waktu yang diwajibkan oleh Islam.
Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan sholat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam sholat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan sholat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar. Yang menarik, menurut penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul "Pengaruh Sholat Tahajjud terhadap Peningkatan Perubahan Respons Ketahan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Siko Neuroimunologi" dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahannkanya beberapa waktu lalu.
Salat tahajud ternyata bukan hanya sekadar salat tambahan (sunnah muakkad) tapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis sholat ini menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imonolagi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfositnya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulanggi masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kotrisol pada pagi hari normalnya anatra 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kotrisolnya normal, bisa didindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Bergitu sebaliknya, ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.
Menurut DR. Sholeh. Orang stes itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infkesi. Dengan tahajjud yang dialakukan secara rutin dan disertai perasaan ihklas serata tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan berdasarkan hitungan teknik medis menunjukkan, salat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahan tubuh yang baik. (to/berbagai sumber)
Hidup penuh ujian

- Kenali sang pemberi ujian, Allah SWT.Sebagai mahasiswa, kita harus mengenali tipe dosen yang mengajar dan mengetahui cara mengajarnya, pun dalam memberikan nilai. Apa yang dinilai dan bagaimana ia menilai. Seorang dosen tentu memiliki bobot penilaian sekian persen untuk nilai uts, uas, kehadiran, quiz dan tugas. Allah SWT memiliki 99 asmaul husna. Rasulullah SAW bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu).” (HR. Bukhari). Ia Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi jangan lupa, Ia juga Maha Keras Siksanya.
- Simak apa yang diajarkan sang pemberi ujian Dosen biasanya memberi kisi-kisi ketika mendekati ujian, bahkan jauh hari, saat tengah mengajar, dengan kata-katanya, “Catat ini, karena biasanya akan keluar dalam soal ujian.” Kisi-kisi ujian itu difirmankan Allah SWT, “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dan sedikit ketakutan, penyakit, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar ". (QS. Al Baqarah : 153 )
- Banyak latihan Mahasiswa harus berlatih dengan mengerjakan soal-soal dan banyak membaca. Ini akan memudahkan ketika menghadapi ujian. Seorang muslim pun demikian, ia harus menempa dirinya dengan ibadah harian, dan tidak memanjakan diri dengan kesenangan duniawi. Orang beriman, mereka telah dilatih oleh-Nya untuk hanya bergantung pada-Nya melalui shalat, doa dan zikir. Mereka dilatih untuk hidup Zuhud (dunia ditangannya namun tidak di hati) melalui zakat, infaq dan shodaqoh. Mereka dilatih untuk bersabar, menahan hawa nafsu melalui puasa. Mereka dilatih untuk bersatu antar sesamanya, kaum mu'minin, melalui haji. Semua itu adalah bekal untuk mempersiapkan pejuang sejati.
- Jangan absen untuk menghadap-Nya. Mahasiswa absen lebih dari 4 kali di kelas? Dapat dipastikan, tidak akan bisa mengikuti ujian akhir. Shalat wajib Anda tinggalkan? Maka kesempatan untuk berkompetisi hilang sudah. Shalat adalah tiang agama. “Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi.” (HR. Annasa’i dan Attirmidzi)
- Kerjakan tugas-tugas dari Allah SWT. Dosen memberi tugas? Kerjakan, karena jika tidak, kita tidak akan bisa mendapat nilai A. Apa yang ditugaskan Allah SWT pada kita? “Dan hendaklah ada diantara kamu orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, dan menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104) “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Naml : 120)
- Bertanya jika ada yang tidak diketahui. Mahasiswa belajar sendiri, mungkin bisa saja dilakukan, namun belum tentu sempurna hasilnya karena terkadang ada catatan yang tak lengkap atau ada ilmu yang diketahui teman, tetapi tak diketahui oleh kita. Bertanya, adalah kunci pembuka ilmu. Seorang muslim dapat saja belajar sendiri dengan membaca buku-buku Islam, tetapi ia tetap harus bertanya pada teman yang lebih paham ataupun kepada para ulama. " Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."(QS.16 : 43)
Menjelang Ujian
Waktu ujian tengah semester maupun akhir semester, telah ditetapkan waktunya. Dalam hidup, tidak bisa tidak, cepat atau lambat, ujian pasti terjadi. Ada 4 hal yang harus dipersiapkan ketika ujian semakin dekat, yaitu :
- Persiapkan ilmu, analisa ujian Analisa ujian yang dihadapi, jangan reaktif. Siapkan jurus-jurus untuk menghadapi ujian, karena setiap soal berbeda bobotnya. Bekal ilmu untuk menghadapi ujian hidup, sangat penting. Dengan ilmu, kita dapat mengetahui mana jalan yang diridhai-Nya dan mana yang tidak. “Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri.” (HR. Athabrani).
- Belajar dari soal-soal sebelumnya Mahasiswa harus rajin mencari foto kopi soal di semester sebelumnya, karena soal ujian biasanya mirip. Pelajarilah ujian yang dihadapi para nabi, ambil hikmah dari setiap ujian. Bagaimana ending penderitaan yang dialami para nabi? Semuanya ada di dalam Al Qur’an. "Apakah kamu mengira akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (ujian) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kami. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, diguncang (dengan berbagai cobaan). Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (QS. al-Baqarah: 214)
- Belajar dari buku wajib dan buku tambahan Ada buku wajib kampus dan buku tambahan. Buku wajib seorang muslim adalah Al Qur’an dan Hadits. Dan untuk buku tambahan adalah buku-buku Islam kontemporer agar wawasan bertambah. “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah saw.” (HR. Muslim).
- BerdoaBerdoalah kepada Allah SWT semoga Ia memudahkan dalam mengerjakan soal-soal ujian.Senjata orang-orang beriman adalah doa. “Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi.” (HR. Abu Ya’la)
Saat Ujian
- Hadapi dengan tenang dan sabar. Saat memasuki ruang ujian, hadapilah dengan tenang dan sabar, jangan tergesa-gesa. Pun di dalam menghadapi ujian hidup, wajib sabar ketika ujian itu datang. Rasulullah SAW bersabda, ”Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula tertimpa musibah.” (HR. Al Bukhari)
- Konsentrasi pada soal ujian, jangan curang. Soal telah dibagikan. Konsentrasilah pada soal ujian dan jangan coba-coba menyontek!Saat ujian datang, seorang muslim jangan justru lari dari-Nya dengan cara bermaksiat kepada-Nya. Berapa banyak kita saksikan manusia yang ditimpa ujian dan cobaan, bukannya mendekat kepada-Nya, tetapi justru bermaksiat dengan lari dari jalan da’wah ataupun memisahkan diri dari barisan. "syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan keluarga" (QS. 48:11)
- Selesaikan yang mudah dahulu.Menghadapi ujian dari dosen, membutuhkan strategi, jangan mengerjakan soal-soal yang sulit dahulu, tetapi kerjakan yang mudah. Jangan memasuki bidang ujian yang kita tidak mampu memasukinya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya.”(HR. Ahmad dan Attirmidzi)
- Jangan mengeluh bila soalnya sulit.Ujian kita sangat sulit? Jangan mengeluh. Karena percuma saja, toh ujian tak akan selesai dengan keluhan. Seorang muslim janganlah sampai mengeluh ketika ujian menimpa, karena Rasulullah SAW bersabda, “Ada 3 hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sodaqoh (yang kita keluarkan).” (HR. Athabrani).
Sesudah Ujian
- Evaluasi Apakah ujian itu dapat kita lalui dengan baik? Ucapkan hamdalah bila berhasil melaluinya. Seorang muslim ketika telah melewati ujian berupa penderitaan dan kesedihan, hendaknya tetap istiqomah di jalan-Nya. Dari Abu Hurairah ra katanya, sabda Rasulullah saw, “Tidak disengat seseorang mukmin itu dua kali dalam satu lubang.”
- Ambil hikmahnya. Ada hikmah di setiap kejadian. Karena khasanah kebaikan kembali kepada-Nya. Bahkan ketika tertusuk duri, ada hikmahnya. “Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Al Bukhari)
- Bersiap menghadapi ujian selanjutnya. Ujian mahasiswa tentu tidak hanya satu mata kuliah, tetapi ada beberapa macam. Selama hayat masih dikandung badan, maka bersiaplah menghadapi ujian-ujian yang beraneka ragam bentuknya. “Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al Ankaabut: 2-3)
Untuk Apa Ujian Itu?
Untuk apakah ujian itu Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya? Ujian adalah sunnatullah dari Allah untuk memisahkan orang-orang munafik dari barisan orang-orang beriman, memisahkan antara loyang dengan emas. “Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Athabrani)
Ujian adalah tarbiyah dari Allah untuk meningkatkan derajat hamba-Nya, sebagai wujud kasih sayang-Nya. “Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (HR. Athabrani).
Ujian adalah sunntullah untuk orang-orang yang berada di jalan Al Haq. Jika kita tidak merasakan adanya ujian yang berat, maka patut dipertanyakan apakah jalan yang kita lalui adalah jalan yang benar. Saad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seroang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Al Bukhari)
Dalam menghadapi ujian, seorang mu’min harus selalu berprasangka baik kepada Tuhannya. “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah.” (HR. Attirmidzi).
Allah SWT menghibur orang-orang beriman dalam menghadapi ujian dengan firman-Nya, “Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. 3 : 139).
Penutup Ujian hidup tidak selamanya berbentuk penderitaan dan kesedihan hati, tetapi bisa juga dalam bentuk kenikmatan dan kesenangan. Bila ujian itu dalam bentuk kesenangan, apakah sang hamba dapat bersyukur? Bila dalam penderitaan, apakah sang hamba bersabar? Syukur dan sabar adalah keistimewaan orang-orang yang beriman, yang dikagumi oleh sang nabi. Surga memiliki kriteria (muwashofat) untuk orang-orang yang akan memasukinya. Nilai A, B, C, D, atau E, adalah hak prerogatif Allah SWT. Tugas manusia adalah berdoa, berikhtiar dan bersabar. Dan tentu saja, untuk mengetahui apakah kita benar-benar lulus atau tidak, jawabannya ada di hari akhir nanti.Lulus ujian, akan menaikkan derajat kita di sisi-Nya dan tiada lain balasannya adalah ridha-Nya, surga-Nya, dan bidarari yang bermata jeli. Allah SWT berfirman, “Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik." (QS. Al Waqiah : 22-23). Bidadari menantimu, akh… Selamat ujian. (Ayat al akrash)
Di waktu ujian badai terus melanda
Engkau tetap gigih berjuang
Membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji,
Pastilah Islam gemilang lagi
Ujian bukan batu penghalang
Karena itulah syarat dalam berjuang
Ujian adalah tarbiyah dari Allah
Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya
- The Zikr -
Wednesday, April 19, 2006
SABAR MENGHADAPI UJIAN
Dengan Menyebut Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang==========================================================
"Sesungguhnya kami akan uji kalian dengan suatu cobaan berupa ketakutan , kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang shabar yaitu orang-orang yang ketika ditimpa musibah mereka berkata, "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepda Nya pula kami akan kembali." Mereka orang-orang yang mendapat karunia, kehormatan dan rahmat dari Allah dan merekalah orang-orang yang memperoleh hidayah". (QS Al Baqarah:155-157)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: "Siapa yang beroleh limpahan kebaikan dari Allah lebih dulu akan diberiNya cobaan" (HR Bukhari dan Muslim)
Kesemua bala ujian dan cobaan tersebut mungkin terjadi karena:
1. Hasil undangan dari kedurhakaan manusia sendiri, hasil usaha perbuatan dan kelakuannya sendiri yang dihukum di dunia oleh Allah sebagai pembalasan kontan dan spontan. Kemungkinan ini dapat terjadi sebagai tanda kasih sayangNya untuk menghapus dosa dan kedurhakaannya di dunia ini dan ia akan keluar dari dunia ini dalam keadaan suci bersih.
Dari Ibnu Mas'ud katanya, Rasulullah juga bersabda: Saya bertamu kepada Rasulullah SAW kebetulan ia sedang menderita demam. Maka kataku kepadanya: "Ya Rasulullah, badan anda panas sekali?” Ujarnya: "Memang, suhuku naik, sampai 2 kali lipat suhu badan tuan-tuan dikala demam! Kataku pula: "Sebabnya mungkin karena anda diberi pahala 2 kali lipat pula". Benar demikian! ujar Nabi, "Dan juga, tidak seorang muslim-pun yang ditimpa kesakitan mulai dari tusukan duri hingga yang lebih berat dari itu, kecuali dihapuskan Allah dengan kesalahan-kesalahannya tak ubah bagai kayu yang menggugurkan ranting-ranting dan daun-daunnya" (HR Bukhari)
2. Kemungkinan lainnya ialah untuk meninggikan martabatnya baik di dunia maupun di akhirat, apabila ia tidak mempunyai dosa (kedurhakaan lain yang patut dihukum) Dari Shuheib bin Sanan, Nabi bersabda: "Sungguh ajaib perihal seorang mukmin itu. Bagaimana juga keadaannya, semuanya baik dan ini tidak akan ditemukan kecuali pada orang mukmin, jika ia mendapat kegembiraan ia akan bersyukur dan itu merupakan kebaikan dan jika ia ditimpa kemalangan, ia akan bersabar dan itu juga merupakan kebaikan baginya." (HR Muslim)
Takdir Allah sendiri untuk menguji hambaNya terus menerus dirundung malang, kelak akan diganti di akhirat dengan rahmat dan keridhaanNya. Apabila seseorang menghadapi cobaan dan penderitaan dengan ridha, ikhlas dan mencari jalan ke luar dengan cara yang sebaik-baiknya, tidak mengeluh, mengaduh apalagi merintih, maka Allah pasti akan memudahkan baginya urusan hisabnya. Allah akan mensegerakan pahalanya, memberikan kehidupannya sehingga timbangannya tidak berat kepada kejahatan, tetapi akan berat ke arah ketaatan dan pahala, yang berkesudahan masuk surga jannatun-na'im
Dari 'Atha bin Ribah yang diterimanya dari Ibnu Abbas yang menanyakan kepadanya: "Inginkah anda melihat seorang wanita penduduk syurga?" Jawabku, "Memang". Katanya, "Nah, wanita yang hittam itu!" Ia pernah datang kepada Nabi SAW dan mengadu: "Saya ini sering jatuh pingsan dan suka membukakan aib, maka doakanlah oleh anda kepada Allah agar disembuhkanNya." Ujar Nabi: "Jika anda mau, anda terima itu dengan sabar dan sebagai ganjarannya anda akan mendapat surga atau kalau tidak, saya doakan kepada Allah Ta'ala agar disembuhkanNya." Ujar wanita itu, "Baiklah saya akan bersabar." Kemudian ujarnya, "Tetapi saya sering membukakan rahasia, maka doakanlah oleh anda agar saya tidak berpenyakit seperti itu lagi! Maka didoakanlah oleh Nabi."
Begitu pula Allah SWT tidak akan memberikan buku catatannya yang membukakan rahasianya di hadapan khalayak ramai di yaumil Masyar kelak. Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: "Perumpamaan orang mukmin itu adalah seperti tanaman yang penyakitan, ia bergoyang dan condong kemana dibawa angin. Maka bila ia ditimpa musibah ia akan condong, tetapi akan tegak kembali. Sebaliknya orang durjana adalah seperti tanaman padi yang lurus dan kaku, hingga mudah patah dan tercabut bila dikehendaki Allah."
Sabar adalah menghadapi ujian dan cobaan dengan cara yang baik, berikhtiar mencari jalan keluar dengan cara yang baik pula dan membiasakan diri melakukan amal perbuatan yang sholeh dan usaha yang terpuji, sambil menjadikan pengalamannya itu duatu dorongan untuk mempunyai kemauan yang keras, keimanan dan keyakinan (istiqomah).
1. as-shabru fil ibadah (shabar dalam beribadat) yaitu tekun mengendalikan diri melaksanakan syarat-syarat dan tata tertib ibadah
2. as-shabru 'indal mushibah (shabar ditimpa malapetaka atau musibah) yaitu teguh hati ketika mendapat musibah baik yang berbentuk kemiskinan, kematian, kecelakaan, kejatuhan dst
3. as-shabru 'anid dunya (shabar terhadap kehidupan dunia) yaitu shabar terhdap tipu daya dunia tidak terpaut kepada kenikmatan hidup dunia dan tidak menjadi kehidupan dunia sebagai tujuan tetapi hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal.
4. as-shabru 'anil ma'shiah (shabar terhadap ma'siat) yaitu mengendalikan diri supaya tidak berlaku ma'siat. shabar bagian ini tidak hanya mengenai diri sendiri namun dari orang lain yaitu amar ma'ruf nahi munkar, berusaha agar orang lain tidak sampai terperosok ke jurang kema'siatan.
5. as-shabru fil jihad (shabar dalam perjuangan) yaitu menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami masa naik dna turun, masa menang dan kalah.
Keadilan Allah
KEADILAN ALLAH, KARUNIA DAN KEKUASAAN-NYA
(Hadits Arbain, Hadits ke- 37)
Dari IbnuAbbas RadhiyallahuAnhu,dia meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, beliau meriwayatkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia berfirman, "Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menerangkannya. Barangsiapa berhasrat mengerjakan kebaikan namun tidak jadi mengerjakannya, Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan seutuhnya. Jika ia berhasrat mengerjakan kebaikan lalu benar-benar mengerjakannya, Allah mencatat nilai kebaikan itu sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan berlipatganda lagi. Dan barangsiapa berhasrat mengerjakan keburukan namun tidak jadi mengerjakannya, Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan seutuhnya. jika ia berhasrat mengerjakan keburukan lalu benar-benar mengerjakannya, Allah hanya mencatat satu keburukan untuknya." (Riwayat Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Shahihnya dengan lafazh seperti ini)
Komentar Imam Nawawi terhadap Hadits diatas:
Lihatlah wahai saudaraku, -semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan kepada anda sekalian- kepada keMahalembutan Allah Ta'ala. Lihatlah lafazh-lafazh berikut ini:
"Di sisinya" menunjukkan perhatian Allah kepada kebaikan.
"Sempurna" penegasan tentang betapa besar perhatian yang diberikan Allah kepada kebaikan.
Dia berkata tentang keburukan yang diniatkan seseorang kemudian ditinggalkannya. Allah menuliskan di sisi-Nya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna. Dia menguatkannya dengan kata "sempurna" dan jika mengerjakannya, Dia menulis sebagai satu keburukan, dia menegaskan atas sedikitnya keburukan yang diperbuatnya dengan kata "satu", dan tidak menegaskannya dengan kata "sempurna". Segala puji dan karunia milik Allah. Kita tidak dapat menghinggakan pujian kepada-Nya dan kita mohon taufik kepada-Nya.
Hadits ini diriwayatkan Bukhari dalam kitab ar-Rigaq (penyucian jiwa), bab: Barangsiapa yang berniat untuk melakukan kebaikan dan keburukan, nomor 6126. dan dalam bab: Tauhid. Diriwayatkan Muslim dalam kitab: Imam, bab: Jika seorang hamba berniat melakukan kebaikan, dituliskan niatnya dan jika berniat keburukan, niatnya tidak ditulis. Nomor 131.
Pemahaman Hadits dan Pelajaran yang Dikandungnya :
Hadits ini mencakup kebaikan dan keburukan, niat untuk berbuat baik dan berbuat buruk.
1. Balasan 1 kebaikan dibalas Allah SWT 10 - 700 kali lipat bahkan berlipat ganda.
"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya." (Al-An'am: 160)
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menaf kahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (kurnia-nya) lagi Maha Mengetahui. " (Al-Baqarah: 261)
"Barangsiapa menafkahkan hartanya dijalan Allah SWT, Allah SWT membalas dengan 700 kebaikan. Dan barangsiapa menafkahkan untuk dirinya, keluarganya, dan orang yang sakit, Maka Allah SWT akan membalasnya dengan 10 kebaikan." (HR Ahmad)
Subhanallah, begitu penuh rahmat dan kasih sayangnya ajaran Islam, dengan menafkahkan dirinya, memuliakan dirinya, tidak merusak dirinya saja sudah mendapat pahala. Seorang Ayah yg memberi nafkah keluarganya dengan nafkah yang halal, yang baik maka akan mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT.
Pelipatgandaan kebaikan lebih daripada sepuluh kali adalah berbanding lurus dengan kualitas keislaman, sempurnanya keikhlasan dan ketepatan waktu dalam beramal.
2. Perbuatan buruk. Setiap perbuatan buruk yang dilakukan seorang hamba ditulis tanpa dilipatgandakan.
Allah Ta'ala berfirman : “Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberikan pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”. (Al-An'am: 160)
Tetapi keburukan adakalanya membesar/berlipat ganda disebabkan karena kemuliaan waktu dan tempat atau pelakunya.
a. Keburukan lebih ditekankan keharamannya pada bulan-bulan haram (Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, Penj) karena mulianya bulan-bulan tersebut. Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya bilangan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (At-Taubah: 36)
Termasuk Bulan Ramadhan.
b. Keburukan yang dikerjakan di tanah haram lebih besar dosanya, karena kemuliaan tempat. Allah Ta'ala berfirman, "(Musim haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." (Al-Baqarah: 197)
Ibnu Umar berkata, "Fasik adalah melakukan kemaksiatan di tanah haram, sebagaimana firman-Nya, "Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih." (Al-Hajj: 25)
c. Keburukan pada sebagian hamba Allah lebih besar dosanya dibandingkan dengan keburukan yang ada pada sebagian yang lain.
Hal itu karena kemuliaan yang dimilikinya, ketinggian ma'rifatnya kepada Allah dan kedekatannya dengan Allah. seperti, Para Nabi, Isteri2 Nabi, Para sahabat, 'ulama.
Allah berfirman, "Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia. " (Al-Ahzab: 30-31)
Tuesday, April 18, 2006
Sebesar apa kecintaan kita terhadap Rasullullah ???
Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang==================================================
Jemputlah Dia yang Menggumamkan Namamu!
KH. Jalaluddin Rakhmat
Pada pertengahan tahun enam puluhan, saya membentuk keluarga sederhana di tengah tetangga-tetangga yang sederhana dan di perumahan sangat sederhana. Pendapat saya tentang agama juga sederhana. Pegangan saya Al-Quran dan hadis, titik. Saya tidak suka pada peringatan maulid, karena tidak diperintahkan dalam Al-Quran dan hadis. Saya tidak suka salawat yang bermacam-macam selain salawat yang memang tercantum dalam hadis-hadis sahih. Saya senang berdebat mempertahankan paham saya.
Saya selalu menang, sampai saya bertemu dengan Mas Darwan.
Mas Darwan adalah orang yang jauh lebih sederhana dari saya. Mungkin pendidikannya tidak melebihi sekolah dasar. Ia pensiunan PJKA. Usianya boleh jadi sekitar enam puluhan. Tetapi penderitaan hidup membuatnya tampak lebih tua. Pendengarannya sudah rusak. Karena itu, ia sedikit bicara, banyak bekerja. Ia sering memperbaiki rumahku tanpa saya minta. Ia sangat menghormati saya, yang dianggapnya seorang kiyai muda di kampung itu. Padahal ia tahu bahwa saya selalu datang terlambat ke mesjid untuk salat subuh.
Untuk mengisi waktunya, ia mencangkul petak-petak kosong yang terletak di antara rel kereta api di dekat stasiun Kiaracondong. Ia menanaminya dengan ubi. Pada suatu hari, ketika ia asyik mencangkul, kereta api cepat dari Yogya menyenggol belakangnya. Ia jatuh terkapar berlumuran darah. Ketika saya mengunjunginya di kamar gawat darurat, saya mendapatkan tubuh Mas Darwan sudah dipenuhi dengan slang-slang transfusi. Saya melihat matanya mengedip padaku dan pada isterinya. Istrinya mendekatkan telinganya ke mulut Mas Darwan. Saya tidak mendengar apa-apa. Sesaat kemudian, ia menghembuskan nafas terakhir.
Saya pulang dengan sedih dan rasa ingin tahu. Apa gerangan yang dibisikkan oleh Mas Darwan pada detik-detik terakhir kehidupannya?
Pada hari berikutnya, isterinya mengantarkan nasi tumpeng ke rumahku. Saya hampir menolaknya, karena saya tidak suka selamatan kematian yang biasa disebut sebagai tahlilan. Isterinya bertutur, “Pak Kiyai ingat ketika Masku berbisik padaku? Ia berpesan: Bulan ini bulan maulid. Jangan lupa slametan buat Kanjeng Nabi saw.”
Pada saat-saat terakhir, Mas Darwan tidak ingat petak-petak ubinya. Ia lupa isteri dan anak-anaknya. Ia lupa dunia dan segala isinya. Yang diingatnya pada waktu itu hanyalah Rasulullah saw. Kepongahan saya sebagai orang yang mengerti agama runtuh. Mas Darwan tidak banyak membaca hadis atau tarikh Nabi saw. Ia memang buta huruf. Ia hanya mendengar tentang Nabi dari guru-gurunya. Ia tidak mengerti apa bedanya sunah dan bid’ah. Ia hanya tahu bahwa Kanjeng Nabi adalah sosok manusia suci yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Tak terasa airmata menghangatkan pipiku. Saya hanya bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada Mas Darwan dengan dua patah kata: Cinta Nabi.
Mas Darwan memiliki kecintaan kepada Rasulullah saw yang jauh lebih tulus dariku. Kemampuanku berdebat habis dibakar oleh api cintanya.
Pesan terakhir Mas Darwan adalah definisi cinta yang paling tepat. “Tidak mungkin cinta didefinisikan secara lebih jelas kecuali dengan cinta lagi. Definisi cinta dalah wujud cinta itu sendiri. Cinta tidak dapat digambarkan lebih jelas daripada apa yang digambarkan oleh cinta lagi,” kata Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin.
Cinta menurut Ibn Qayyim
Cinta tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi menurut Ibn Qayyim, cinta dapat dirumuskan dengan memperhatikan turunan kata cinta, mahabbah, dalam bahasa Arab. Mahabbah berasal dari kata hubb. Ada lima makna untuk akar kata hubb :
- al-shafâ wa al-bayâdh, putih bersih. Bagian gigi yang putih bersih disebut habab al-asnân.
- al-‘uluww wa al-zhuhûr, tinggi dan tampak. Bagian tertinggi dari air hujan yang deras disebut habab al-mâi. Puncak gelas atau cawan disebut habab juga.
- al-luzûm wa al-tsubût, terus menerus dan menetap. Unta yang menelungkup dan tidak bangkit-bangkit dikatakan habb al-ba’îr.
- lubb, inti atau saripati sesuatu. Biji disebut habbah karena itulah benih, asal, dan inti tanaman. Jantung hati, kekasih, orang yang tercinta disebut habbat al-qalb.
- al-hifzh wal-imsâk, menjaga dan menahan. Wadah untuk menyimpan dan menahan air agar tidak tumpah disebut hibb al-mâi.
Marilah kita ukur kecintaan kita kepada Rasulullah saw dengan lima hal di atas. Pertama, cinta ditandai dengan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaan. Anda tidak akan mengkhianati orang yang Anda cintai. Jika Anda mencintai Rasulullah saw, Anda akan tetap setia kepadanya. Anda tidak akan mencampurkan kecintaan Anda kepadanya dengan motif-motif duniawi. Anda akan memberikan seluruh komitmen Anda.
Rasulullah saw pernah menguji kecintaan sahabat sebelum perang Badar.
Kepada para sahabat dihadapkan dua pilihan: Menyerang kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan atau menyerang pasukan Quraisy. Kebanyakan sahabat menghendaki kafilah dagang karena menyerang mereka lebih mudah dan lebih menguntungkan. Nabi saw menghendaki musuh yang akan menyerang Madinah dan berada pada jarak perjalanan tiga hari dari Madinah. Tuhan berfirman, “Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu dari kedua kelompok, yang satu untuk kamu, tetapi kamu menginginkan yang tidak mempunyai senjata untuk kamu. Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan kalimat-Nya dan menghancurkan pusat kekuatan orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal; 7).
Rasulullah saw bersabda: “Tuhan menjanjikankepada kalian dua pilihan – menyerang kafilah dagang atau menyerang pasukan Quraisy” Abubakar berdiri, “Ya Rasulallah, itu pasukan Quraisy dengan bala tentaranya. Mereka tidak beriman setelah kafir dan tidak akan merendah setelah perkasa.” Beliau menyuruh Abu Bakar duduk, seraya berkata, “Kemukakan pendapatmu kepadaku.” Umar berdiri dan mengucapkan pendapat sama seperti pendapat Abu Bakar. Rasulullah saw pun menyuruhnya duduk kembali.
Kemudian Miqdad berdiri, “Ya Rasul Allah, memang itulah Quraisy dan bala tentaranya. Kami sudah beriman kepadamu, sudah membenarkanmu, dan kami bersaksi bahwa yang engkau bawa itu adalah kebenaran dari sisi Allah. Demi Allah, jika engkau memerintahkan kami agar kami menerjang pohon yang keras dan duri yang tajam, kami akan bergabung bersamamu. Kami tidak akan berkata seperti Bani Israil kepada Musa – Pergilah kamu bersama Tuhanmu, beperanglah kalian berdua, kami akan duduk di sini saja. Tetapi kami akan berkata: Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah dan kami akan berperang bersamamu.”
Wajah Nabi saw bersinar gembira. Beliau mendoakan Miqdad. Beliau juga meminta pendapat Anshar, kelompok mayoritas yang hadir di situ. Berdirilah Sa’ad bin Mu’adz: “Demi ayah dan ibuku, ya Rasul Allah, sungguh kami sudah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan menyaksikan bahwa apa yang engkau bawa itu adalah kebenaran dari Allah. Perintahkan kepada kami apa yang engkau kehendaki... Demi Allah, sekiranya engkau perintahkan kami untuk terjun ke dalam lautan, kami akan terjun ke dalamnya bersamamu. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan kepadamu yang menentramkan hatimu. Berangkatlah bersama kami dalam keberkahan dari Allah.” Berangkatlah Rasulullah saw bersama sahabatnya meninggalkan kota Madinah untuk menyongsong musuh yang bersenjata lengkap. Pada waktu itulah turun ayat, “Sebagaimana Tuhanmu mengeluarkan kamu dari rumahmu dengan kebenaran, walaupun sebagian dari kaum mukminin membencinya.” (QS. Al-Anfal; 5).
Sikap Miqdad dan Mu’adz menunjukkan cinta setia mereka kepada Rasulullah saw. Mereka segera menangkap kehendak kekasihnya – Rasulullah saw - dan mereka mengesampingkan tujuan-tujuan duniawi demi membahagiakan Nabi saw yang dicintainya. Di dalamnya juga ada tanda kedua dari cinta, yakni pengutamaan kehendak Rasulullah saw di atas kehendak dan keinginan mereka.
Abdullah bin Hisyam bercerita, “Kami sedang bersama Nabi saw. Ia memegang tangan Umar bin Khaththab. Umar berkata: Ya Rasul Allah, engkau lebih aku cintai dari apa pun kecuali dari diriku sendiri. Nabi saw berkata: Tidak. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, belum sempurna iman kamu sebelum aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri. Umar berkata lagi: Sekarang memang begitu demi Allah. Sungguh engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri. Nabi saw bersabda: Sekaranglah, hai Umar.”
Ali bin Abi Thalib ditanya: Bagaimana kecintaan kalian kepada Rasulullah saw? Ia menjawab: Demi Allah, ia lebih kami cintai dari harta kami, anak-anak kami, orangtua kami dan bahkan lebih kami cintai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan. Kebenaran ucapan Ali itu dibuktikan dalam peristiwa Uhud. Kepada seorang sahabat perempuan Anshar diperlihatkan anggota keluarganya yang syahid di situ – ayahnya, saudaranya, dan suaminya. Ia bertanya: “Bagaimana keadaan Rasulullah saw?” Orang-orang menjawab: “Ia baik-baik saja, seperti yang engkau sukai.” Ia berkata lagi: “Tunjukkan beliau kepadaku supaya aku pandangi beliau.” Ketika ia melihatnya, ia berkata: “Sesudah berjumpa denganmu, ya Rasul Allah, semua musibat kecil saja!”
Atau ketika Zaid bin Al-Datsanah ditangkap oleh kaum musyrikin. Sambil tidak henti-hentinya menerima penganiayaan dan siksaan, ia diseret dari Masjidil Haram ke padang pasir untuk dibunuh. Abu Sofyan berkata kepadanya: “Hai Zaid, maukah Muhammad kami ambil dan kami pukul kuduknya, sedangkan engkau berada di tengah keluargamu?” Zaid melonjak, seakan-akan seluruh kekuatannya pulih kembali. Ia membentak: “Tidak, demi Allah. Aku tidak suka duduk bersama keluargaku sementara sebuah duri menusuk Muhammad.” Kata Abu Sufyan: “Aku belum pernah melihat manusia mencintai seseorang seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai Muhammad.”
Kecintaan kepada Rasulullah saw seperti ditampakkan oleh Zaid adalah tanda puncak keimanan. Nabi saw bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada anaknya, orangtuanya dan semua manusia.” Beliau hanya menegaskan apa yang difirmankan Tuhan: Katakanlah, jika orang tua orang tua kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, kaum kerabat kalian dan kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai dari Allah dan rasul-Nya dan dari jihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik (QS. Al-Tawbah; 24).
Jika pencinta telah mendahulukan Rasulullah saw ketimbang siapa pun dan apa pun, hatinya akan selalu terpaut kepadanya. Secara jasmaniah ia ingin selalu berdekatan dengan Nabi saw, memandang wajahnya, dan menikmati kehadirannya. Secara ruhaniah, hatinya tidak dapat melepaskan diri dari kenangan kepadanya. Inilah tanda cinta yang ketiga - tidak mau berpisah atau jauh dari kekasih, al-luzûm wa al-tsubût.
Di Madinah pernah tinggal seorang pedagang minyak. Setiap pagi, sebelum berangkat ke warungnya, ia singgah dulu di halaman rumah Nabi saw. Ia menunggu sampai junjungannya muncul. Dengan penuh cinta ia memandang wajah Nabi saw yang mulia. Pada suatu hari, ia datang. Seperti biasa ia memuaskan hatinya dengan memandang wajah Rasulullah saw. Setelah itu, ia pergi ke tempat kerjanya. Tidak lama kemudian ia balik lagi. Ia mohon izin untuk memandang beliau sekali lagi. Setelah puas, ia berangkat ke pasar. Selama seminggu setelah itu, Rasulullah saw tidak pernah melihatnya lagi. Ketika beliau menanyakan perihal dia kepada para sahabatnya, beliau mendapatkan jawaban bahwa ia sudah meninggal seminggu sebelumnya. Rupanya itulah pertemuan terakhir antara dia dengan Nabi saw. Untuk orang itu, Rasulullah saw bersabda, “Karena kecintaannya kepadaku, Allah mengampuni dosa-dosanya.”
Seorang laki-laki Anshar datang menemui Nabi saw. Ia mengadu, “Ya Rasul Allah, aku tidak tahan berpisah darimu. Jika aku masuk ke rumahku, lalu aku ingat dikau, aku tinggalkan harta dan keluargaku. Aku lepaskan kerinduanku dengan memandangmu. Lalu, aku ingat pada hari kiamat. Pada hari itu, engkau dimasukkan ke surga dan ditempatkan di tempat yang paling tinggi. Bagaimana aku, ya Nabi Allah? Beliau tidak menjawab. Tidak lama setelah itu, turun ayat: Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shidiqin, orang-orang yang syahid dan orang-orang saleh, dan alangkah baiknya berteman dengan mereka. (QS. Al-Nisa; 69). Begitu ayat ini turun, Nabi saw memanggil lelaki itu, membacakan kepadanya ayat itu dan memberikan kabar gembira kepadanya. Ia dijanjikan bahwa ia akan digabungkan dengan Rasulullah saw. Di sana, ia tidak akan berpisah lagi dari Nabi saw. (Bersambung)
Dikutip dari buku “Merindukan Muhammad”, Jalaluddin Rakhmad , Penerbit Rosda.
Keutamaan zikir
Di antara ayat-ayat al-Quran, firman Allah Ta’ala :“Maka berzikirlah (ingatlah) kepadaKu, niscaya Aku akan mengingati kamu sekalian…..” (al-Baqarah: 152)
"Berzikirlah (ingatlah) kepada Allah dengan zikir yang banyak.” (al-Ahzab: 41)
"Mereka yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri duduk dan sedang berbaring.” (al-Imran: 191)
“Dan apabila kamu telah selesai menunaikan sembahyang maka berzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan sedang berbaring.” (an-Nisa’: 103)
Apabila Rasulullah s.a.w ditanya: Mana satu amalan yang paling utama sekali?, beliau lalu menjawab: “Yaitu apabila engkau menghadap maut sedangkan lidahmu lembut berzikir kepada Allah azzawajalla".
Berkata Rasulullah s.a.w. “Tiada sesuatu kaum pun yang duduk di dalam satu majlis sedang mereka berzikir kepada Allah azzawajalla, melainkan para Malaikat berkerumun di sisi mereka dan rahmat akan mencucuri mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada sesiapa yang ada di sisinya.”
Bersabda Rasulullah s.a.w. “Seutama-utama ucapan yang saya katakan, begitu juga para Nabi yang sebelumku ialah: Laa Ilaha Illallahu Wahdahuu Laa Sayariikalah (Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya),”
Bersabda Rasulullah s.a.w: “Barangsiapa membaca subhaanallah selepas setiap sembahyang 33 kali, dan membaca Alhamdulillaah 33 kali dan membaca Allahu Akhbar 33 kali, kemudian mencukupkan bilangan 100 dengan Laailaha Illallaahu Wahdahu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Walahul hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli syai’in Qadir diampunkan dosa-dosanya.”
(2) Subhaanallahil ‘Azhiim.”
Sekiranya ada berkata: Mengapa zikir kepada Allah itu, meskipun amat ringan disebutkan oleh lidah dan amat ringan disebutkan oleh lidah dan amat mudah untuk dilakukan, menjadi lebih utama dan lebih berfaedah dari berbagai-bagai ibadat yang lain yang lebih berat dan sukar melakukannya.
--------------------------------------------------------------------------------
INTISARI KITAB Mau'izhatul Mu'minin min "IHYA' ULUMIDDIN" ==Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali== (Bimbingan Mu'min dari Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama)
Kenali-lah Allah
Hadits ini merupakan petikan dari sebuah hadits panjang yang dikemukakan saat Ibnu Abbas membonceng di belakang Rasulullah SAW yang mengendarai keledainya. Beliau bersabda kepada Ibnu Abbas yang saat itu menjelang usia remaja dan belum memahami apa yang akan dilakukan oleh Allah terhadap dirinya. Rasulullah pun menggunakan kesempatan yang baik lagi jarang ini (untuk mulai mendidiknya). Untuk itu, beliau bersabda: "Hai anak muda!" Ibnu Abbas menoleh dan mendengar apa yang akan disabdakan kepada dirinya dengan penuh perhatian lalu beliau bersabda: "Hai anak muda! sesungguhnya aku (Rasulullah) akan mengajarkan kepadamu beberapa pesan berikut: peliharalah Allah, niscaya Dia akan memeliharamu; peliharalah Allah, niscaya engkau akan menjumpai-Nya dihadapanmu; kenalilah Allah saat senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kamu susah; apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah; dan apabila kamu meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu umat sepakat untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak dapat memberikan manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditaqdirkan oleh Allah atas dirimu. Seandainya mereka sepakat untuk menimpakan bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan bahaya kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditaqdirkan oleh Allah atas dirimu. Qalam telah diangkat dan lembaran telah kering." (HR Tirmidzi dengan sanad yang berpredikat shahih)
Alangkah indahnya hadits ini!
Alangkah besarnya wasiat ini!
Alangkah agungnya pembicaraan ini!
Kemarilah bersama dengan kami, wahai manusia, untuk mengamalkan seruan yang dianjurkan oleh Rasulullah saat beliau mengajarkan kepada mereka bagaimana mereka harus mengenal Allah saat senang agar Allah balas mengenal mereka saat mereka sedang susah, Ini merupakan sunnatullah pada makhluk-Nya yaitu bahwa barang siapa yang mengenal Allah pada waktu senang, Allah akan mengenalnya pada waktu susah. Hal inilah yang didambakan oleh orang-orang yang shalih, baik yang terdahulu maupun yang sekarang, juga para nabi dan orang-orang yang berada di bawah mereka tingkatannya, yaitu senantiasa memohon agar Allah memelihara mereka saat mereka dalam kesulitan.
Ibrahim AS mengatakan sebagimana yang disitir oleh firman-Nya: "dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahan-kesalahanku pada hari kiamat" (QS Asy-Syu'araa (26): 82)
Saking berharapnya kepada rahmat Allah, Ibrahim lupa akan jerih payah dan pengorbanannya dan dia lupa kepada amal-amal sholih yang telah dilakukannya dan menganggap dirinya sebagai seorang yang berdosa: "dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahan-kesalahanku pada hari kiamat." (QS Asy-Syu'araa (26): 82).
Ibrahim menjalani hidupnya dengan senang hati seraya memelihara Allah tetap dalam kalbunya saat-saat manusia berpaling dari-Nya. Dia senantiasa menghadapkan dirinya kepada Allah dengan mengesakan-Nya, cenderung pada agama yang hak lagi berserah diri, dan dia sama sekali bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Manusia bersujud menyembah berhala, sedang Ibrahim sujud menyembah Allah. Manusia bergantung kepada berhala-berhala, sedangkan Ibrahim hanya bergantung pada Allah. Manusia menyucikan khurafat, sedangkan Ibrahim menyucikan Allah. Mereka menyalakan api besar untuk membakar Ibrahim setelah dia masuk menemui Raja Namrudz yang pembohong lagi pendusta.
Ibrahim mengatakan: "...Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan... " (QS Al Baqarah (2) : 258). Tiada yang dapat menghidupkan dan mematikan selain hanya Allah, tiada yang mengetahui apa yang terdapat di dalam rahim , kecuali hanya Allah; tiada yang mengetahui apa yang bakal diupayakan oleh seseorang besok pagi, kecuali hanya Allah; dan tiada yang mengetahui di bumi manakah seseorang akan mati selain dari Allah.
Si pendusta (Namrudz) itu mengatakan dalam jawabannya sebagaimana yang disitir oleh firmanNya: "...Saya pun dapat memghidupkan dan mematikan..."(QS Al Baqarah (2) : 258)
Ibrahim bertanya, "Bagaimana caranya? ". Raja Namrudz itu mengeluarkan dua tahanan lalu ia membebaskan salah seorang darinya dan mengatakan : "orang ini aku hidupkan," dan ia membunuh yang lainnya seraya berkata: "Dan yang ini aku matikan".
Ibrahim tidak menyanggah ketololan ini, karena dia mengetahui bahwa hujjah berikutnya yang akan dilemparkan ke wajah lawannya adalah lebih keras daripada yang pertama dan lawannya pasti tidak akan dapat menyanggahnya. Sesungguhnya ulama ahli manthiq (logika) telah menasehatkan bahwa cara debat seperti yang akan dikemukakan oleh Ibrahim ini merupakan cara yang paling canggih untuk membungkam lawan debat.
Ibrahim mengatakan sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya: "...Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat, lalu heran terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (QS Al Baqarah (2) : 258).
Mereka mengumpulkan kayu bakar untuk Ibrahim dan menyalakannya dengan apai sehingga menjadi besar. Selanjutnya mereka meletakkan Ibrahim pada ketapel raksasa dan menembakkannya agar jatuh ke tengah apai yang sedang berkobar itu, tanpa teman, tanpa sejawat, tanpa keluarga dan tanpa penolong kecuali hanya Allah.
Maka eratkanlah pegangan tanganmu pada tali Allah yang akan melindungimu karena sesungguhnya tali Allah itu pengaman yang dapat dipercaya manakala semua pengaman tidak dapat diandalkan.
"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat) yaitu hari yang tidak beguna bagi orang-orang yang zhalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk." (QS Al Mukmin (40): 51-52).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa firman-Nya: "Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung". (QS Ali Imran (3) : 173)
Kalimat itulah yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan kedalam api besar, maka Allah menyelamatkannya.
Kalimat ini pula yang diucapkan Rasulullah ketika dikatakan kepadanya: "...Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka, maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung'. Mereka pun kembali dengan nikmat (pahala) dan karunia (yang besar) dari Allah. Mereka tidak tertimpa keburukan (musibah) dan mereka senantiasa mengikuti keridhaan Allah. Allah memiliki karunia yang amat besar." (QS Ali imran (3) : 173-174)
Maka apakah kita mampu mengucapkan "Hasbunallah wa ni'mal wakill" ketika kita ditimpa oleh berbagai macam kesusahan dan kesulitan dan ketika kita melihat kedurhakaan, berbagai macam fitnah, dan kejadian mewabah di kalangan kita? Apakah kita mengatakan hal yang sama? Semua ini dimaksudkan agar kita kembali dengan membawa nikmat Allah dan karunia-Nya, dan kita tidak tersentuh oleh bencana apa pun.
Nabi Ibrahim jatuh kedalam kobaran api, maka api menjadi dingin dan membawa keselamatan berkat karunia Allah, karena dia telah merealisasikan ajaran: "Kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kamu sedang susah." Jadi, kenapa kita tidak pula merealisasikanya mulai sekarang?
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan menjadikan cambuk bagi hati kita untuk lebih mengenal Allah SWT, Amin.
(Sumber: Cambuk Hati, karya Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, Seri Penyejuk Hati, 2004)
Wali Paidi (Eps.12)
Gus Dur menerima dengan lapang dada isyarah yang ditafsirkan Kiai Rohimi. Gus Dur tidak peduli jika dalam kepimpinanya kelak, akan direcoki ...
-
Gus Dur menerima dengan lapang dada isyarah yang ditafsirkan Kiai Rohimi. Gus Dur tidak peduli jika dalam kepimpinanya kelak, akan direcoki ...
-
Suatu ketika, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu ?“ Para sahabat yang ada ketika ...
-
Sehabis dari acara peresmian toko mas kiai Mursyid, wali Paidi pamit pulang, sebenarnya uang wali Paidi ini sudah habis sama sekali dikasihk...
