Banner

Thursday, December 29, 2022

Wali Paidi (Eps.10)

Terlihat di sudut terminal, orang gila itu tertawa cekikikan menikmati makanan dan minuman hasil rampasan dari Wali Paidi.

Melangkah lambat, Wali Paidi mendekati orang gila tersebut. Sekitar jarak 10 meter, sambil makan dan minum, orang gila itu berkata.

"Tak usah heran Di, orang yang dekat dengan Tuhannya, apa sih yang tidak diketahui di muka bumi ini. Yang diketahui oleh Gusti Allah juga diketahui oleh para kekasih-Nya, apalagi namamu, yang sudah terkenal di langit sana. Namamu seringkali muncul karena keseringan cerewet dan usul ke Gusti Allah".

Minuman Sprite kaleng masih diminum si orang gila tersebut.

"Para malaikat sering berkata, Gusti, Wali Paidi usul begini, Gusti, Wali Paidi minta begini. Gara-gara sering usul itu, hampir semua malaikat mengenalmu. Karena seringnya kamu minta dan usul ke Gusti Allah, seharusnya kamu malu Di! Wali kok minta-minta terus seperti pengemis begitu. Ha ha ha...."

Wali Paidi terdiam seperti tengah ditelanjangi, Ia menghampiri orang gila tersebut dan mencium tangannya. Wali Paidi kaget karena ketika dipegang, tangan orang gila berambut gimbal itu seperti tidak bertulang, terasa halus, begitu lembut dan baunya sangat wangi.

Sementara itu, ketika Wali Paidi hendak menanyakan nama, orang gila itu buru-buru berkata:

"Kamu tak usah tahu namaku. Sudah sana, kamu pergi sowan ke kiaimu. Nanti kita bertemu di sana. Dan kalau kamu melihat kiaimu sedang ada tamu agung, kamu sebaiknya langsung pamit saja," saran sang gila itu hanya disambut anggukan oleh Wali Paidi.

"Kok dia tahu ke mana tujuanku". Makin bingung. Tapi dia hanya membatin saja. Menyimpan penasaran.

Setelah pamit salam, Wali Paidi pergi dari situ melanjutkan sowan ke kiainya pakai becak. Sesampainya di ndalem kiai, Wali Paidi langsung menuju ruang tamu. Ia disambut salah satu santri abdi dalem kiai yang memang bertugas melayani para tamu yang datang.

Belum lama duduk, ada dua laki-laki lain yang juga hendak sowan ke kiai. Mereka berdua duduk disamping Wali Paidi. Tak seperti biasanya, kali ini kiai tidak langsung menemui mereka bertiga. Wali Paidi dan kedua tamu lainnya menunggu lama. Sekitar satu jam kemudian, kiai baru keluar menemui di ruangan.

Wali Paidi dan kedua tamu langsung bersalaman dengan kiai, cium tangan penuh ta'dzim. Saat itulah Wali Paidi tampak sangat ta’dzim berhadapan dengan kiai melebihi ta'dzimnya di hari-hari biasa. Ia hanya bisa menunduk di hadapan kiai. Butiran air mata tiba-tiba mulai membasahi pipi.

Baru saja duduk, Wali Paidi malah mohon pamit dan bersalaman lagi ke kiai, minta doa restu. Kiai hanya tersenyum.

"Iya Di, rapopo, salam saja ke dulur-dulur semua," begitu dawuh kiai.

"Inggih kiai". Wali Paidi masih saja menunduk, tidak berani menatap wajah gurunya yang sangat meneduhkan itu.

Tentu kedua tamu yang bersamanya tadi heran melihat sikap Wali Paidi. Mereka sudah menunggu begitu lama di ruang tamu, namun begitu kiai keluar, Wali Paidi justru langsung mohon pamit. Penasaran, salah satu di antara mereka akhirnya menanyakan kepada kiai.

"Mas tadi itu menunggu panjenengan bersama kami begitu lama. Tapi setelah kiai datang, dia langsung mohon pamit, boleh tahu kenapa, kiai?"

"Hmm, gimana yah, kamu langsung saja ke orangnya dan tanyakan hal itu. Dia belum pergi jauh. Sekarang dia sedang duduk-duduk di pagar jembatan sebelah sana".

Setelah mohon ijin dan keluar sebentar, tamu itu nekad mencari Wali Paidi, mengejarnya. Dan benar apa yang dikatakan kiai, Wali Paidi masih duduk di pinggir jembatan yang dimaksud.

"Assalamuailaikum, maaf mas, saya penasaran dengan sikap sampeyan tadi. Kok langsung mohon pamit ketika baru ketemu kiai". Ia hanya dijawab salam oleh Wali Paidi. Makin nampak berkaca-kaca matanya, setengah menangis.

"Gimana tidak langsung mohon pamit kang, wong di samping kanan kiai ada Baginda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dan di samping kiri kiai ada Nabiyullah Khidir alaihis salam, apa yang mau saya omongkan kalau beliau berdua hadir di samping kanan dan kiri kiai. Saya tidak berani melihat nur cahaya dua Nabi Allah tersebut".

Tamunya setengah tidak percaya, tapi dia hanya melongo. "Kok mas ini tahu ada Rasulullah dan Nabi Khidzir ada di samping kiai," gumamnya. Ia buru-buru kembali ke ndalem kiai, tapi kedua orang yang ada di samping kiai sudah tidak ada lagi.

Wali Paidi terus menerawang, jangan-jangan orang gila yang merampas tas kresek berisi makanan dan minuman pemberian Gohell dari terminal tadi adalah Nabi Khidzir. Cirinya jelas, tangannya tidak bertulang. Jarinya lembut, tidak bisa digunakan untuk "njempol" (tanda pujian Top) yang tidak pantas dipakai untuk memuji selain kepada Allah.

Ia semakin yakin orang gila tersebut adalah Nabi Khidzir karena tadi sempat bilang begini, "Nanti kita bertemu di sana. Dan kalau kamu melihat kiaimu sedang ada tamu agung, kamu sebaiknya langsung pamit saja".

Wali Paidi mengikuti saran orang gila itu. Tunduk dan malu telah menyadarkan Gohell, yang bisa mengakibatkan hatinya muncul kesombongan. Padahal hidayah seorang hamba hanya diberikan atas kehendak Allah. Dipaksa pakai penthungan pun, kalau hidayah belum turun, tak akan berhasil. Apalagi dengan demo yang sangat cerewet.

Bersambung...

Saturday, December 03, 2022

Wali Paidi (Eps.9)




Anak buah Gohell yang berjumlah tujuh orang ini lebih heran lagi melihat pemimpin mereka terduduk dan menangis tersedu-sedu dihadapan wali Paidi, tanpa dikomando mereka mendekati pimpinan mereka dan membuat pagar betis melingkari wali Paidi dan Gohell, mereka berdiri melingkar menutupi mereka supaya orang-orang tidak tahu kalau pimpinan mereka menangis, mereka malu kalau orang-orang melihat pimpinan mereka menangis, masak pimpinan preman kok nangis…(he..he..he..)

Wali Paidi menepuk-nepuk pundak Gohell, dan menariknya untuk berdiri lalu berkata:

“Udah mas, aku sama sampeyan ini masih saudara jadi gak usah sungkan…”

Gohell berdiri dan mengusap air matanya, kemudian merangkul wali Paidi

“Makasih mas…” ucap Gohell kepada wali Paidi.

Mereka lalu bersalaman diikuti seluruh anak buah Gohell juga bersalaman kepada wali Paidi. Suasana menjadi cair kembali, tidak lama kemudian suasana jadi akrab, seakan wali Paidi dan gerombolan Gohell ini adalah teman yang sudah lama kenal, karena wali Paidi ini pintar mengeluarkan joke-joke segar yang membuat Gohell dan anak buahnya tertawa terpingkal-pingkal.

“Ayo ngopi dulu mas….” Ajak Gohell kepada wali Paidi.

“Monggo…..” jawab wali Paidi.

Mereka berdua dan seluruh anak buah Gohell menuju ke warung dipinggir jalan, setelah mengambil tempat duduk mereka memesan kopi, anak buah Gohell menunggu diluar warung.

“Mas kalo bisa sampeyan berhenti malak orang, kasihan gurumu mas…” ucap wali Paidi.

“Iya mas, saya akan berusaha mencari kerja yang bener, do’akan aja…” sahut Gohell.

“Jangan sampai perguruan sampeyan Setia Hati (SH) itu menjadi singkatan Perguruan Sakit Hati, gunakan kepandaian silatmu itu sebagai senam untuk kesehatan, itu yang cocok untuk jaman sekarang ini, beda dengan jaman ketika orang islam masih punya musuh dulu, jangan belajar silat untuk mencari kesaktian atau untuk perisai diri,
karena perisai diri yang lansung dari Allah adalah shodaqoh, belajarlah silat hanya untuk kesehatan, maka kamu tidak akan mencari musuh atau dicari musuh…” kata wali Paidi.

Sambil nyeruput kopinya wali Paidi berkata lagi kepada Gohell:

“Kalo belajar silat untuk mencari kesaktian atau kekuatan jadinya ya seperti ini, sesama saudara seperguruan tawur, tidak rela melihat perguruan lain unjuk kekuatan, seperti kemarin terjadi penyerbuan terhadap konvoi perguruan kera sakti yang diduga dilakukan oleh perguruan Setia Hati…”

“Iya mas, memang aku dulu belajar ilmu silat untuk mencari kesatian/ kekuatan, setelah lulus aku bingung gimana cara melihat kalau aku ini sudah kuat, akhirnya aku mencari gara-gara supaya punya musuh dan keterusan sampai jadi seperti sekarang ini..” ucap Gohell sambil menunduk.

Setelah ngobrol-ngobrol yang cukup lama Gohell ini akhirnya terbuka hatinya, mengerti tentang apa arti hidup ini, mengerti manusia itu tinggal menjalankan peran dari Allah, mengerti akan dirinya berperan sebagai apa dan menjalankan sebaik-baiknya peran tersebut, ada yang berperan sebagai ulama, guru, pedagang, petani, dll, hanya ketaqwaan kepada Allah yang dinilai dari menjalankan peran tersebut.

“Terus sampeyan sekarang mau kemana?“ tanya Gohell kepada wali Paidi.

“Mau ke terminal “ jawab wali Paidi singkat.

“Hehehe... maksudku tujuan sampeyan dari terminal?“ tanya Gohell lagi.

“Mau sowan kepada salah satu guruku…” jawab wali Paidi

“Kalau begitu mari saya antar“ Gohell menawari wali paidi

“Baiklah, ayo…” ucap wali Paidi

Gohell mendekati pemilik warung dan menanyakan habis berapa semuanya, pemilik warung terdiam merasa heran dengan sikap Gohell, karena biasanya Gohell ini kalau makan minum di warungnya tidak pernah bayar, pemilik warung tersebut sangat gembira dengan perubahan sikap Gohell ini.

“Udah gak usah bayar mas, anggap saja ini sebagai selamatan buat mas, selamatan kalau sampeyan telah terlahir kembali, mudah-mudahan tobat sampeyan ini sebagai taubatan nasuha...” ucap pemilik warung kepada Gohell.

Setelah mengucapkan terimakasih Gohell mengantarkan wali Paidi ke terminal, dalam perjalanan Gohell menanyakan perihal tentang orang-orang sholeh yang di ketahui wali Paidi, wali Paidi menceritakan dengan singkat perihal mereka, tentang sifat dan kelebihan para orang-orang sholeh tersebut, tidak begitu lama akhirnya mereka sampai keterminal, Gohell memanggil salah satu anak buahnya dan membisikkan sesuatu kepadanya, lalu anak buahnya itu pergi.

“Jangan berangkat dulu mas, tunggu sebentar” kata Gohell kepada wali Paidi.

Tidak begitu lama anak buah Gohell itu datang sambil menyerahkan sesuatu kepada Gohell, lalu Gohell mendekati wali Paidi dan menyerahkan sesuatu kepada wali Paidi.

“Ini mas tolong jangan ditolak“ ucap Gohell kpd wali Paidi.

Ternyata sesuatu tersebut didalamnya ada uang ribuan yang sebagian sudah kumal, dan ada 2 atau 3 uang lima ribuan, wali Paidi terkejut ketika menerima uang dari Gohell tersebut.

“Jangan kuatir mas, itu bukan uang haram, itu uang sumbangan dari teman-teman, dan saya minta dengan sangat jangan ditolak“ jelas Gohell kpd wali Paidi.

Wali Paidi menerima pemberian Gohell tersebut, setelah bersalaman wali Paidi naik ke atas bus, masih banyak bangku kosong, wali Paidi mencari tempat yang enak buat duduk, akhirnya wali Paidi memilih tempat ditengah, setelah bus baru berjalan tampak pedagang rokok naik ke atas bus menjajakan dagangannya, ketika wali Paidi hendak memanggilnya sipedagang tersebut sudah menghampiri wali Paidi dan menyerahkan sebungkus rokok Dji Sam Soe dan berkata:

“Ini pemberian dari mas Gohell sebagai rasa terimakasih.”

Begitu juga dengan pedagang-pedagang yang lain, di dalam perjalanan mereka semua mengasihkan satu barang dagangannya kepada wali paidi atas nama Gohell, mulai penjual minuman sampai penjual kacang, bahkan penjual bollpoint dua ribu dapat 3 juga menyerahkan bollpointnya atas nama dan rasa terimakasih Gohell kepada wali Paidi, ketika wali Paidi mau membayar karcis bus, pak kondektur juga membebaskan wali Paidi atas nama Gohell juga, wali Paidi hanya geleng-geleng kepala.0

“Gendeng, sholeh ini….” bathin wali Paidi tersenyum sambil teringat wajah Gohell.

Sekitar dua jam perjalanan, wali Paidi akhirnya sampai disebuah kota yang dulunya adalah sebuah wilayah kerajaan Majapahit, wali Paidi turun sambil membawa satu kresek besar yang berisi minuman dan makanan ringan pemberian dari pedagang-pedagang asongan di atas bus, baru melangkah turun dari bus wali Paidi lansung dihampiri seorang gila yang berambut gimbal, orang gila tersebut langsung menarik-narik tas kresek wali Paidi.

“Di... Paidi… sini minuman dan makanan ini punyaku...” ucap orang gila tersebut, lalu ngeloyor pergi.

Wali Paidi membiarkan saja tas kreseknya direbut, dan dia hanya terus mengikuti orang gila tersebut karena dia penasaran, orang gila ini kok tahu namanya….

Bersambung...

Thursday, June 08, 2017

Wali Paidi (Eps.8)

Sehabis dari acara peresmian toko mas kiai Mursyid, wali Paidi pamit pulang, sebenarnya uang wali Paidi ini sudah habis sama sekali dikasihkan kepada tamu-tamu mas kiai Mursyid yang bersarung dan berpeci itu, sebagai uang kaget, kaget atas acara yang begitu menghebohkan. Mas kiai Mursyid yang tahu kalau wali Paidi ini kehabisan uang malah menggodanya, ketika wali Paidi pamit padanya.

“Kang... duwit sampeyan kan masih banyak, jadi aku wes gak usah nyangoni, ini garam aja sampeyan bawa…” ucap mas yai Mursyid.

"Hehehe… iya mas yai terimakasih…” ucap wali Paidi.

Memang mulai mbah yai, abah yai sampai mas yai Mursyid ini garam adalah cenderamata pondok beliau-beliau ini, garam “suwuk” ini bisa digunakan untuk apa saja, mengobati penyakit dhohir maupun bathin, dan masih banyak kegunaan lainnya tinggal niatnya apa bagi yang menggunakannya…

Adik mas kiai Mursyid menawarkan untuk mengantar wali Paidi ke terminal tapi wali Paidi tidak mau.

“Saya jalan kaki saja sambil jalan-jalan menikmati pemandangan..” ucap wali Paidi kepada adik mas kiai Mursyid.

Setelah bersalam-salaman wali Paidi pamit dan meneruskan berjalan ke arah terminal, dzikir selalu menyertai setiap langkah wali Paidi ini, ketika wali Paidi melintasi jalan dipinggir alun-alun ada segerombolan pemuda yang
mengawasi wali Paidi, dengan tersenyum wali Paidi meneruskan langkahnya, wali Paidi sebenarnya sudah tahu kalau sebentar lagi dia akan dicegat dan di palak dimintai duwit oleh mereka, ini yang jadi ganjalan hati wali Paidi, karena dia sudah gak punya uang sama sekali, dia akan malu sekali karena tidak bisa memberi kepada orang yang meminta.

“Kasihan mereka kalau sampai tidak mendapatkan uang dariku” bathin wali Paidi.

Wali Paidi berusaha menghidar karena malu, dia menyeberang jalan berusaha menghindari mereka tapi gerombolan pemuda ini mengikutinya dan satu orang maju kedepan mencegat wali Paidi.

“Duwit... serahkan duwitmu... ayo cepat…” ucap pemuda itu yang rupanya pimpinan gerombolan ini.

Wali Paidi dengan tersenyum membuka kaca mata hitamnya dan melihat satu persatu para pemuda gerombolan ini, di kaos pimpinan gerombolan ini ada symbol hati yang bersinar yang bertuliskan “SH”,
mereka yang melihat wali Paidi yang begitu tenang jadi keder, dan mereka heran melihat ketenangan dan tampak tidak ada ketakutan sama sekali diwajah wali Paidi.

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya aku tidak punya uang sama sekali, maaf aku membuat kalian kecewa, uangku sudah habis kukasihkan kepada orang lain“ ucap wali Paidi kepada ketua gerombolan ini.

Ketua gerombolan ini hatinya jadi bergetar ketika melihat tatapan mata wali Paidi yang begitu teduh, hati pemuda ini jadi damai, dan tanpa disadari mata pemuda ini mulai berkaca-kaca, pemuda ini mulai teringat dengan dosa-dosanya selama ini, pemuda ini juga tidak tahu mengapa hatinya begitu trenyuh dan teringat dengan masa lalunya, teringat dengan pesan-pesan gurunya dahulu.

Kawanan gerombolan ini juga ikut terdiam melihat pimpinan mereka diam tak bergerak sama sekali, mereka jadi heran, biasanya mas Gohell (yg nama aslinya sholeh) ini kalau ada orang dimintai duwit tapi tidak memberi lansung dipukulinya sampai kelenger tapi sekarang tidak bergerak menghadapi pemuda ini.

“Saya tidak bisa memberi apa-apa, ini ada garam kalau sampeyan mau, katanya ibu sampeyan sekarang sakit…” ucap wali Paidi kepada pimpinan gerombolan ini yang ternyata bernama Gohell.

Pemuda yang bernama Gohell ini jadi heran setengah mati, pemuda distro ini (wali Paidi) kok bisa tahu kalau sekarang ibunya lagi sakit dan sudah berhari-hari ini hatinya galau memikirkan penyakit ibunya yang gak sembuh-sembuh, hatinya begitu trenyuh dengan perhatian wali Paidi terhadap ibunya, karena selama ini semua orang dikampungnya tidak ada yang perduli dengan keluarganya mereka hanya mencibir tidak pernah memperhatikan keluarganya.

Tanpa bisa ditahan pemuda ini terduduk dihadapan wali Paidi dan menangis tersedu-sedu…….

Bersambung...

Wali Paidi (Eps.7)

Wali Paidi berpenampilan lain dari biasanya, dia tampil gaul sekali, memakai sepatu unkl347, celana jeans pensil airplane system, dan kaos merk spilis infection, walaupun semua pakaiannya ini pemberian dari adik mas kiai Mursyid yang kebetulan buka toko pakaian distro… dan dengan memakai kaca mata BL hitam invictus, wali Paidi berangkat untuk memenuhi undangan mas kiai Mursyid dalam rangka tasyakuran dan pembukaan toko onderdil barunya yang mana semua barangnya langsung didatangkan dari luar negeri, mas kiai Mursyid ini kalau bisnis memang tidak mau setengah2, sekali terjun beliau langsung menyelam sekalian.

Sekitar jam 09:00 pagi wali Paidi sudah sampai ditoko mas kiai Mursyid, tampak terop yang mewah yang tidak begitu besar berada di depan toko, dibawah terop sudah berjajar rapi kursi yang terbungkus kain putih yang sebagian besar sudah terisi, di depan terop ada geladak kecil yang juga tertutup kain putih yang diatasnya ada karpet merah yang disebelah kirinya ada piano semacam elektone, music barat slowrock berkumandang mulai awal acara,
yang unik, ada sebagian tamu yang datang memakai kopyah dan sarung sedang tamu lainnya berpaikan ala executive muda, memang mas kiai Mursyid ini mengundang seluruh pelaku bisnis didalam kota dan sebagian dari luar daerah, mas kiai Mursyid ini men-setting acara pada pembukaan tokonya ini dengan model seperti acara pembukaan toko onderdil pada umumnya tidak seperti acara yang biasa dilakukan seorang kiai di kalangan pesantren apalagi mas kiai ini adalah seorang Mursyid.

Wali Paidi tidak lansung duduk ditempat acara, tapi langsung menuju dapur umum mecari kopi, setelah dapat kopi wali Paidi duduk di podjok toko, mengeluarkan sebatang rokoknya sambil menunggu kedatangan mas kiai Mursyid, sambil menyedot rokok 'mastna wastulasa warruba’ wali Paidi mengawasi semua temu yang datang, wali paidi tersenyum kecil ketika melihat kekikuk-an para tamu yang memakai kopyah dan sarung itu, mereka tampak rikuh duduk dikelilingi para tamu yang berpenampilan beda dari mereka dan di tempat yang acaranya tidak diduga oleh mereka sebelumnya.

Dari arah belakang datanglah seorang pemuda yang penampilannya seperti wali Paidi ini, mengahampiri dan duduk disamping wali Paidi, pemuda ini adalah adik mas kiai Mursyid.

‘’Udah lama kang...’’ tanya pemuda ini setelah mereka bersalaman.

‘’Oh gak, barusan aja datang…” jawab wali Paidi

Sebelum wali Paidi bertanya soal tamu yang berkopyan dan sarungan itu, adik mas kiai Mursyid ini sudah menjelaskan kepada wali Paidi tetang mereka.

‘’Anu kang... sebenarnya mas kiai Mursyid meminta bantuan kepada kiai Akhmad untuk mendatangkan santri–santrinya untuk datang kesini guna membantu bagian akomodasi (bagian angkat2 meja) tapi terjadi salah paham, ternyata yang dikirim kiai Akhmad kesini adalah para ustads dan penggede2 thoriqoh, dikiranya mas kiai Mursyid mengadakan acara kumpulan thoriqoh, jadinya ya seperti ini hehehe…” adik mas kiai Mursyid menjelaskan kpd wali Paidi.

“Oh... begitu tho ceritanya…” jawab wali Paidi

Tidak lama kemudian datanglah mas kiai Mursyid dengan bercelana jeans diiringi cewek2 cantik yang berpakaian minim, tampak seksi2 dan mulus2…. mereka ini para sales promotion girl yang didatangkan mas kiai Mursyid untuk mengisi diacara pembukaan tokonya ini.

Para tamu bertepuk tangan menyambut kedatangan mas kiai Mursyid ini, kecuali para tamu yang berkopyah dan sarungan, mereka hanya melongo dan terheran-heran melihat tingkah dan gaya mas kiai Mursyid ini, memakai jeans dan dikelilingi cewek2 cantik… dihati sebagian para penggede2 thoriqoh ini mulai timbul keraguan atas ke-mursyidan mas kiai ini, dan memang para penggede2 thoriqoh ini sebagian besar dulunya adalah murid abahnya…

Setelah acara ceremonial dimulai dan peresmian atas dibukanya toko onderdil ini sudah dilakukan tibalah waktu hiburan, music mulai mengalun lagi dan yang lebih menggeparkan, mas kiai mursyid ini tampil di panggung mini berjoget ria bersama para sales promotion girl yang berjumlah 15 orang ini...

Para penggede2 thoriqoh semakin melongo melihat kiai Mursyid mereka berjoget dan bersenda gurau dengan para sales promotion girl yang rata–rata cantik dan seksi ini, wali Paidi hanya tersenyum melihat tingkah dan gaya mas kiai Mursyid, wali Paidi melihat diantara sales promotion girl ini ada satu yang wajahnya sangat mirip dengan Mulan Jameela… wali Paidi hanya membathin.

“Ada–ada aja mas kiai Mursyid ini..”

Tiba –tiba mas kiai Mursyid ini turun dari panggung mini dan menghampiri wali Paidi, selanjutnya menggandeng tangan wali Paidi, ditarik ikut dan diajak joget diatas panggung mini dan mas kiai Mursyid ini menggandengkan wali Paidi dengan cewek yang wajahnya mirip Mulan Jameela itu.

Ketika wali Paidi memegang tangan cewek yang sangat mirip Mulan Jameela ini detak dzikir jantung wali Paidi semakin kencang, dari tangan cewek ini terdengar kalimat “yaa latief… yaa latief… yaa latief…”
Dan dari paha dan pantat sicewek keluar kalimat “yaa jamal… yaa jamal…” dari seluruh anggota badan si cewek ini mengeluarkan kalimat2 asmaul husna…

Wali Paidi seakan berjoget ditaman surga, music dan suasana berubah seperti di surga, bunga-bunga yang indah bermunculan disekitar taman harum semerbak mewangi… wali Paidi berjoget berputar-putar mengikuti alunan musik yang begitu indah….

Wali Paidi baru tersadar ketika mendengar suara mas kiai Mursyid “wes kang… ayo balik ke dunia lagi, jangan disurga terus…ini acara jualan onderdil belum selesei…hehehe…..

Bersambung...

Wali Paidi (Eps.6)

Wali Paidi menyusuri jalan, pergi tanpa arah dan tujuan, dia hanya berjalan dan berjalan, lupa akan makan dan minum, wali Paidi pingin menghindari orang2 yang mulai tahu kedudukannya, mulai banyak orang sekarang yang memanggilnya gus, memanggilnya kiai bahkan ada yang terang2an menggangilnya sang wali.

Kehidupan wali Paidi sekarang tampak ramai, ada saja orang yang memerlukan bantuannya, soal jodoh, soal penglaris dan ada juga yang hanya minta barokah do'a dan yang paling berat ada yang minta diakui murid. Wali Paidi merasa terusik, dia kepingin merasakan kehidupannya yang dulu, orang2 hanya mengenalnya sebagai penjual minyak wangi, dengan pengajar alif2an di musholla kecilnya.

Dan sekarang banyak orang yang berlomba2 pingin membangun mushollanya, Wali Paidi pingin menghindari itu semua, dia jengah akan semua pujian yang dialamatkan pada dirinya, lebih2 akan datangnya malaikat yang mengunjunginya baru2 ini.

Wali Paidi mulai memasuki hutan belantara, dia berjalan terus dan berhenti ketika dia melihat didepannya ada sungai, Dia mendekati bibir sungai, dilihatnya airnya begitu jernih, dia menunduk dan mulai membasuh tangan dan mukanya, lalu wali Paidi memperbarui wudlunya, karena wali Paidi ini diberi kemampuan oleh Allah untuk selalu dalam keadan suci (punya wudlu) atau bahasa ngaji sak paran-parannya "da'imul wudlu"

Setelah wudlu wali Paidi baru sadar kalau ada orang yang agak jauh disampingnya, orang itu sedang memancing. Wali Paidi mendekati orang itu, dia merasa orang itu bukan orang sembarangan, melihat wajah orang tersebut tiba2 saja hati wali Paidi semakin tentram, Wali Paidi mau mengucapkan salam tapi kedahuluan orang tersebut.

"Assalamu'alaikum kang Paidi " ucap orang itu.

"Wa'alaikum salam, kalau boleh tahu siapakan anda?" tanya wali Paidi keheranan.

"Untuk saat ini namaku Syukron Fahmi" jawab orang itu.

Wali Paidi terdiam, dia hanya menunduk memikirkan jawaban orang tersebut, dan tiba2 saja sikap wali Paidi berubah dengan sendirinya tanpa ia sadari, wali Paidi bersikap seakan menghadapi gurunya.

"Kang Paidi, sampeyan tidak seharusnya menghindari semua itu, pujian2 itu adalah ujian buatmu, ujian yang berupa pujian itu lebih berat dari penghinaan, Allah mau meningkatkan derajad sampeyan..." ucap orang itu.

Wali Paidi semakin menunduk, ternyata orang yang sedang memancing ini tahu akan keadaan dirinya.

"Kang paidi, dengan menghidari pujian2 itu sama saja sampeyan menafikan kekuatan Allah, karena sampeyan merasa tidak mampu, padahal Allah-lah yang memberi kekuatan" kata orang itu lagi.

Wali Paidi hanya bisa diam dan semakin menunduk, air mata mulai meleleh dari matanya.

"Ingat, la haula wala quwwata illa billah, merasa mampu dan merasa tidak mampu itu tidak boleh, itu sudah syirik khofi bagi orang setingkat sampeyan, karena Allah yang memberi kekuatan, Allah meliputi segalanya".

Wali Paidi menangis sesunggukan, dia yakin orang yang di depannya adalah Nabiyullah Khidir, dia ingin bersalaman dengan-nya untuk memastikannya, setelah menangisnya agak reda, wali Paidi mengangkat wajahnya dan mau bersalaman dengan orang itu.

Tapi orang yang mengaku bernama Syukron Fahmi sudah hilang dari hadapannya....

Setelah bertemu sosok yang mengaku bernama Syukron Fahmi, wali Paidi masih terdiam dalam duduknya, masih terngiang2 ucapan sosok misterius yang menggugah jiwanya itu.

Wali Paidi berdiri membersihkan tempat duduknya dan mulai melaksanakan sholat, setelah salam, wali Paidi berdiri lagi dan melakukan sholat lagi, begitu terus sampai malam kira2 sekitar jam 9 malam, wali Paidi berhenti dan melanjutkan dengan melakukan wirid.

Dia duduk bersila, memusatkan pikirannya, membuang jauh2 pikiran2 tentang dunia, menggerakkan hatinya untuk berdzikir sirr, dan entah berapa lama hal ini terjadi, dan kemudian wali Paidi merasakan alam disekitarnya begitu hampa, tidak ada suara, semua yang berada disekitarnya jadi hitam gelap gulita, wali Paidi seakan menjadi udara yang hampa dan bergerak mengitari alam yang hitam pekat ini.

Setelah berkeliling tampak didepannya ada dua sosok manusia yang sedang duduk seperti duduknya orang tahiat, dan berdiri disamping keduanya sosok berjubah putih yang bercahaya, lamat-lamat wali Paidi mengenali salah satu sosok yang duduk didepannya tersebut.

"Tidak salah lagi, beliau adalah Imam Ghozali Mujtahid Islam" bathin wali Paidi

Lalu wali Paidi melihat sosok baju putih itu maju kedepan dan berkata kepada sesuatu yang didepannya, sesuatu yang tidak terlihat

"Gusti... bagaimana menurut njenengan terhadap kedua kekasihmu ini Nabi Musa dan Al-Ghozali...?" tanya sosok putih itu.

Lalu ada suara yang mengatakan

"Musa dengan ijinku bisa menghidupkan orang yang telah mati, tapi aku lebih suka terhadap Al-Ghozali karena dia demgan ijinku pula bisa menghidupkan hati hamba2ku yang telah mati, banyak menghilangkan kebodohan dan membuka jalan buat hamba2ku untuk lebih mengenalku...."

Lalu ketiga sosok itu samar2 hilang dari pandangan wali Paidi.

Lalu lamat2 terdengarlah adzan subuh, sedikit demi sedikit alam mulai terlihat kembali.

Setelah sholat, wali Paidi bangkit dan kembali pulang....

Bersambung...

Wali Paidi (Eps.5)

Setelah beberapa hari bersama wali Paidi, pemuda thoriqoh ini menghadap kepada guru Mursyid-nya guna melaporkan peristiwa yang dialaminya..

Kira2 sepuluh meter dari gerbang pondok, pemuda ini sudah disambut kawannya yg juga mondok disitu dengan berkata:

“Kang... sampeyan udah ditunggu pak yai didepan mushollah pondok...”

“Lho... pak yai sudah menunggu tho...” jawab si pemuda ini.

“Iya kang... tadi kira-kira 1/5 jam yang lalu aku disuruh pak yai membuat dua kopi dan beliau berpesan, setelah membuat kopi tolong taruh di depan mushollah dan cepat2 kamu kepintu gerbang karena dulurmu akan datang...” terang kawan si pemuda.

Mereka berdua memasuki pintu gerbang pondok yang begitu kecil. Pintu gerbang pondok disini memang beda dengan pintu gerbang pondok2 lainnya, pintu gerbang disini Cuma satu daun pintunya dengan ukuran 1 meter x 2 meter terbuat dari kayu yang dilapisi seng, kalau ada orang yang tidak pernah kepondok ini pasti tidak tahu pintu gerbangnya...

Pernah dulu abahnya pak yai ini mau merenovasi pintu gerbang ini dengan membuatnya agak lebar dan diperbagus, tapi malamnya abahnya pak yai ini mimpi bertemu mbah yai yang mengatakan

“Nak... jangan dipugar pintu gerbang itu, biarlah seperti itu saja, biarlah orang mengira kalau disini tidak ada pondok..”

Setelah mimpi tersebut abah yai urung merenovasi pintu gerbang pondok, Setelah melewati pintu gerbang pondok si pemuda dan kawannya ini melihat pak yai sudah duduk sambil merokok di depan mushollah pondok dan didepannya ada dua cangkir kopi....

Si pemuda mengucapkan salam kepada pak yai:

“Assalamu ‘alaikum..”

“Wa alaikum salam” jawab pak yai

Setelah mencium tangan gurunya pemuda ini duduk di depan pak yai sedang kawannya pamit pergi tidak ikut duduk dengannya, karena yang dipanggil pak yai bukan dia...(inilah adab seorang murid)

Setelah menceritakan pengalamannya, si pemuda ini bertanya kepada guru Mursyid-nya:

“Pak yai... ketika sholat dulu, saya mendengar bacaan wali Paidi itu tidak sempurna tapi lama kelamaan suara wali paidi ini berubah menjadi sempurna dan sangat merdu... apa maksud semua itu...”

Setelah menghisap rokoknya dalam2 pak yai ini berkata:

“Kamu kan jelas pernah mendengar, kata Nabi: bau mulut orang yang berpuasa itu wangi bagaikan minyak kesturi dihadapan Allah.... ketika kamu mendengar suara kang Paidi itu menjadi merdu, sesungguhnya kuping yang kamu pakai untuk mendengar itu kupingnya gusti Allah... kalau kupingmu sendiri yang kamu pakai maka terdengar seperti itu jadi terdengar tidak sempurna menurutmu, tapi dihadapan Allah bacaan kang Paidi ini begitu merdu... begitu juga dengan bau mulut orang yang berpuasa, akan tercium sangat busuk kalau menciumnya itu dengan hidung kita sendiri...”

Pemuda ini bertanya lagi:

“Apakah kang Paidi ini juga orang thoriqoh...”

“Iya... dia murid abahku, kang Paidi ini sebelum masuk thoriqoh perilakunya sudah sangat berthoriqoh... kalau kamu melihat tingkah polahnya yang awur2an itu hanya untuk menutupi ke-sejati-an dirinya... setahu saya kang Paidi ini orang yang tidak punya su’udzon kepada orang lain, kepada siapapun orangnya baik anak kecil maupun maling, kang Paidi ini tetap husnudzon, inilah salah satu kelebihan kang Paidi..” jawab pak yai

“Tapi... mengapa bukan pak yai sendiri yang mengatakan kepada saya kalau selama ini tempat yang saya kira Makkah itu sebenarnya tempat pembuangan sampah..” tanya si murid lagi

“Hahahaha.... itu memang tugasnya kang Paidi... dan lagi, tempat pembuangan sampah itu kan dekat dengan mushollah kang Paidi... kalau aku yang menunjukkan, kamu akan bingung berada dimana, sedangkan TPA itu jauh dari sini....

****
Di tempat lain wali Paidi sedang kedatangan seorang tamu yang pingin sekali bisa berangkat haji.

“Kang... saya ingin sekali bisa berangkat haji... tolong saya dikasih amalan yang bisa membuat saya bisa berangkat haji...” pinta orang tersebut.

“Saya tidak bisa... coba sampeyan minta kepada yai yang lebih mengerti soal itu... saya ini orang bodoh..” jawab wali Paidi

“Tidak kang... saya tidak keliru karena saya bermimpi kalau sampeyanlah yang bisa menunjukkan jalan tersebut...” bantah orang tersebut.

“Baiklah... kalau sampeyan memaksa... sehabis sholat shubuh sampeyan baca surat yasin sebanyak 7x... kalau ada apa2 sampeyan kesini lagi..” jawab wali Paidi.

Setelah orang tersebut membacanya selama 1 bulan tapi tidak terjadi apa2, orang ini kembali kepada wali Paidi,

“Tidak ada apa-apa kang....” kata orang yang kepingin haji ini,

“Kalau gitu bacaan surat yasinnya ditambah surat waqiah sebanyak 7x... nanti kalau ada apa-apa sampeyan kesini lagi...” kata wali Paidi.

Setelah dibaca selama 1 bulan surat yasin dan surat waqiah ini tetap tidak mengeluarkan tanda apa-apa, akhirnya orang ini kembali lagi ke wali paidi,

“Masih belum ada tanda apa-apa kang....” kata orang yang kepingin haji,

Wali Paidi terdiam dan memejamkan matanya sebentar selanjutnya dengan mantab dia berkata kepada orang tersebut :

“Kalau begitu... tambah lagi dengan surat tanah... pasti sebentar lagi sampeyan akan berangkat haji....”

“Ha..ha..ha...” orang yang kepingin haji ini tertawa terbahak bahak mendengar jawaban wali Paidi....“

“Anu kang... katanya para kiai... haji itu tidak hanya ibadah ruhani saja tapi juga ibadah jasadi terutama ibadah dengan bondo atau duit....” jawab wali Paidi dengan mimik serius tapi terlihat lucu.

Bersambung....

Wali Paidi (Eps.4)

Sesampainya dirumah sehabis dari gunung arjuna, wali Paidi menjalankan aktifitas sebagaimana biasanya. Tiap pagi wali Paidi pergi kepasar berjualan minyak wangi, orang2 dipasar dan dirumahnya biasa memangilnya kang Paidi tukang minyak. Sekitar jam 1 siang wali Paidi ini menutup tokonya dan pulang, setelah sholat ashar sehabis istirahat siang wali Paidi mengajari anak2 kecil dilanggarnya belajar membaca alQur'an sampai waktu magrib.

Dulu dilanggar wali Paidi yang sederhana ini ramai sekali dipenuhi anak2 kecil yang belajar mengaji, tapi setelah ada sistem iqro' dan qira'ati, langgar wali Paidi ini sepi, anak2 pada pindah ke TPQ2 yang memang banyak tersebar dikampungnya ini.

Wali Paidi sebenarnya juga ikut pelatihan metode iqro maupun qiroati yang diwajibkan kepada seluruh guru TPQ guna mendapatkan syahadah (semacam ijazah), tapi wali Paidi tidak lulus dalam pelatihan ini karena seringnya wali Paidi merokok dan bawa kopi didalam kelas.

Jadinya di langgar wali Paidi ini metode yang digunakan tetap memakai metode lama yaitu metode bagdadi, karena bagi guru TPQ yang tida punya syahadah tidak boleh mengajar dengan memakai metode iqro maupun qiroati dan lama kelamaan murid2 wali paidi habis tinggal 5 anak saja yang tetap mengaji di langgarnya wali Paidi.

Orang tua dari kelima murid wali Paidi ini tetap mempercayakan anaknya ke wali Paidi ini disebabkan masalah ekonomi, mereka adalah orang2 miskin yang tidak mampu membelikan seragam TPQ dan buku terhadap anak mereka, daripada tidak mengaji mereka tetap menitipkan anak2nya kepada wali Paidi, karena dilanggar wali Paidi ini tidak ada tarikan uang, mereka bebas dari biaya apapun, malah mereka sering dikasih uang jajan oleh wali Paidi ini.

Menjelang magrib datanglah seorang pemuda yang kira2 berumur 35 tahun mencari wali Paidi, pemuda ini adalah seorang murid thoriqoh yang disuruh gurunya mencari wali Paidi.

"Nak carilah kiai didaerah ini namanya Ali Firdaus, tapi orang2 dikampungnya biasa memanggil dengan sebutan Paidi (orang yang memberi faedah), umurnya kira2 seumuran dengan-mu, dan hanya beliau satu2nya yang bernama Paidi dikampung itu, kalau kamu ketemu dengannya sampaikan salamku dan mintalah nasehat padanya" begitulah yang dikatakan guru pemuda ini kepadanya waktu itu.

Pemuda ini disuruh mencari wali Paidi karena seringnya pemuda ini mengalami hal2 aneh, seperti ketika sholat, tiba2 ia sudah berada di Makkah dan sholat dihadapan Ka'bah, dan banyak orang yang melihatnya sholat diatas daun padahal dia ada dirumah, pemuda ini akhirnya sowan kepada gurunya dan melaporkan semua kejadian yang dialaminya, dan disuruh mencari kiai Ali atau kiai Paidi. Sesampai dikampung yang dimaksud, pemuda ini bertanya2 kepada orang2 dimanakah rumah kiai Paidi.

"Disini tidak ada yang namanya kiai Paidi, yang ada kang Paidi seorang penjual minyak wangi.." begitu jawab orang kampung ketika ditanya pemuda ini.

"Baiklah, dimana rumah kang Paidi penjual minyak wangi itu?" tanya pemuda ini, pemuda ini yakin bahwa kang Paidi itulah kiai Paidi yang dicarinya karena gurunya juga bilang bahwa nama Paidi hanya satu2nya orang dikampung ini.

Pas waktu magrib pemuda ini sampai dirumah wali Paidi, pemuda ini bertanya kepada seorang wanita yang berada didepan rumah wali Paidi
"Apakah benar ini rumah kang Paidi penjual minyak wangi?"

"Benar nak, dia ada dilanggar itu, sedang ngimami sholat magrib" jawab wanita itu sambil menunjukkan langgar yang berada disebelah rumah wali Paidi.

"Terima kasih bu.." jawab pemuda ini sambil menuju ke langgar guna sholat magrib dan sekalian sowan kepada kiai Paidi.

Sehabis wudlu pemuda ini masuk kelanggar sholat berjamaah bersama yang lain, dilihatnya yang sholat dilanggar ini cuma 3 orang, dia berdiri disamping mereka, ketika pemuda ini mendengar surat alfatihah yang dibaca wali Paidi, hati pemuda ini menjadi galau karena wali Paidi ini ketika membaca huruf "ain" menjadi "ngg", robbil 'alamin menjadi robbil ngalamin.....

"Gimana mau khusu' dan diterima sholatnya wong bacanya aja udah keliru, apakah tidak salah gurunya menyuruhnya sowan kepadanya" gumam pemuda ini dalam hati..

Setelah salam dan melakukan wirid seperti biasa pada umumnya wali Paidi ini melanjutkan dengan sholat sunnah dan sehabis sholat sunnah wali Paidi ini keluar dari langgar dan duduk2 diteras sambil merokok...

Pemuda ini menghadap kepada wali Paidi,
"Assalamu'aaikum..." salam pemuda ini.

"Wa ngalaikum salam..." jawab wali Paidi sambil tersenyum.

Setelah menyampaikan salam gurunya kepada kiai Paidi, pemuda ini menceritakan maksud kedatangannya dan menceritakan hal2 aneh yang dialaminya kepada wali Paidi.

"Hmm...saya juga heran, kok kamu sampai bisa seperti itu yah... mengalami hal2 yang menakjubkan padahal sholat kamu tadi aja masih sibuk ngurusi tajwid dari pada ingat kepada Allah..." kata wali Paidi kepada pemuda ini.

Seketika pucatlah wajah pemuda ini, dan dalam hati pemuda ini berkata:
"Masya Allah... ternyata gurunya tidak salah mengenai kiai muda ini"
pemuda ini semakin menundukkan kepalanya dihadapan wali Paidi ini...

Pemuda santri thoriqot ini hanya diam, tidak berani berkata banyak didepan wali Paidi, suasana jadi hening, hanya terdengar suara wali Paidi yang menghisap rokoknya,

“monggo kopine kang, dan ini rokoknya “wali paidi menawarkan kopi dan rokok dji sam soenya
“iya terimakasih...” setelah menyeruput kopinya pemuda ini mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya.

“gimana khabarnya mas kiai Mursyid “ tanya wali Paidi

“alhamdulillah baik-baik saja “jawab pemuda ini.

“nanti sehabis sholat isya’ kamu dzikir aja dimusholla sini, kalau nanti kamu tiba2 berada di tempat yang asing , kamu baca la haula wala quwwata illa billah 3x“ pesan wali paidi.

“Iya, mas Paidi “jawab pemuda ini.

Tidak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang, menunjukkan kalau waktu sholat isya’ telah tiba, tampak 3 orang yang tadi sholat magrib telah datang, setelah berwudlu mereka bertiga masuk ke musholla menunggu wali Paidi.

Wali Paidi berdiri masuk kedalam musholla dan mempersilahkan pemuda thoriqot ini untuk ngimami sholat isya’, tapi pemuda ini tidak mau, Wali Paidi akhirnya maju dan dimulailah sholat isya’ berjamaah.

Pemuda thorqot ini sholat tepat dibelakang wali Paidi, jadi pemuda ini dapat mendengar dengan jelas suara wali Paidi, tapi pemuda ini tidak mau mengulangi kesalahnnya diwaktu sholat magrib tadi, sambil membaca fatihah pemuda ini mulai mengajak hatinya berdzikir Allah...Allah...Allah...

Pemuda ini mulai merasakan ketenangan dalam sholatnya, suara hiruk pikuk disekitar musholla mulai hilang, suasana menjadi hening yang terdengar hanya suara wali Paidi dan suara hatinya yang berdzikir, lama kelamaan suara wali Paidi yang tadinya cemplang dan terdengar tidak bertajwid, berubah menjadi sangat merdu dan sangat fasih, suara dan bacaan wali Paidi bagaikan suara dan bacaan imam masjidil haram.

Setelah mendengar salam barulah pemuda ini seakan tersadar kembali lagi kedunia. Setelah membaca wirid seperti pada umumnya wali Paidi mundur, melaksanakan sholat sunnah dua rokaat, setelah sholat wali Paidi mendekati pemuda thoriqot ini.

“Sampeyan disini aja, dan mulailah berdzikir seperti yang sampeyan lakukan“ kata wali Paidi

“Iya mas Paidi“ jawab pemuda ini singkat

“Ingat pesan saya tadi“ kata wali Paidi lagi

Pemuda ini menggangguk, setelah ke tiga orang yang ikut jamaah tadi keluar, wali Paidi berdiri mematikan lampu musholla dan ikut keluar. Tinggallah pemuda ini sendirian didalam musholla.

Pemuda thoriqot ini lalu duduk bersila, dan memulai membaca fatihah, tawasul kepada kanjeng Nabi Muhammad dan diteruskan tawasul kepada guru2nya, setelahnya barulah pemuda ini mulai membaca wirid yang selama ini selalu istiqomah ia baca, lama kelamaan suasana mulai berubah, angin yang tadinya menghembus sepoi2 berubah menjadi kencang, benda-benda yang berada didalam musholla mulai hilang satu persatu, bahkan dirinya juga terasa ikut hilang, beriringan dengan hilangnya tubuh pemuda ini, tampak dipengimaman ada cahaya putih yang kecil, hanya cahaya ini yang tampak karena semuanya telah hilang dalam pandangan mata pemuda ini, dan dengan sayup2 mulailah terdengar suara orang yang berlalu-lalang membaca ta’bir dan tahmid, cahaya yang tadinya kecil mulai membesar dan teranglah seluruhnya, dan tampaklah dengan jelas didepan pemuda ini bangunan segi empat yang tertutup kain hitam yang disekelilingnya terlihat banyak orang yang berjalan mengitarinya.

Masya Allah ternyata pemuda ini telah berada di Makkah, didalam masjidil haram. Pemuda ini membathin, benarkah aku ini sekarang berada di masijidil haram, timbul keraguan didalam hati pemuda ini, dengan perlahan dia meletakkan tangannya di atas marmer masjid, ada sesuatu yang hangat yang mengalir ketangannya,

“Ini marmer sungguhan “bathin pemuda ini lagi.

Lalu pemuda ini berdiri melihat lalu lalang orang2 yang sedang ber-thowaf, ratusan ribu orang berjubel jadi satu dengan pakaian putih saling bersahutan memuji Allah, pemuda ini lalu teringat dengan pesan wali Paidi, kemudian duduklah pemuda ini dan mulai membaca
la haula wala quwwata illa billah” 

Ketika bacaannya sampai ke bacaan yang ketiga, datanglah angin yang sangat kencang, bumi Makkah serasa bergoncang, seakan kena gempa, dan tampa bisa dicegah tubuh pemuda thoriqot ini terguling-guling, suasana menjadi gelap, tubuhnya baru terhenti ketika menabrak sesuatu.
Berangsur angsur suasana menjadi tenang kembali, pemuda ini mulai membuka matanya.

Betapa kaget dirinya, ternyata dia sekarang berada diatas tumpukkan sampah, tempat yang tadinya dikira masjidil haram ternyata Tempat Pembuangan Sampah.....

Bersambung.....

Wali Paidi (Eps.12)

Gus Dur menerima dengan lapang dada isyarah yang ditafsirkan Kiai Rohimi. Gus Dur tidak peduli jika dalam kepimpinanya kelak, akan direcoki ...