Banner

Sunday, June 04, 2017

Wali Paidi (Eps.1)

Setiap tgl 10 arofah ada perkumpulan 40 wali diatas gunung di daerah Makkah, 40 wali ini tersebar dari seluruh pelosok dunia, dan setiap tahun mereka berkumpul di atas bukit di daerah Makkah ini (maaf tempat dirahasiakan) yg datang ada yg terbang, ada yg naik sajadah seperti aladin, ada yg muncul dari bumi, ada yg naik burung, ada yg cling tahu2 sudah ditempat.

Acara tahunan ini (semacam reuni) di pimpin lansung oleh king of the king sulthonul aulia (gak pake pohan) rajanya para wali yg setiap masa hanya satu orang di JAGAD SELURUH ALAM SEMESTA ini.

Dari atas bukit mulai terdengar dentuman2 lantunan dzikir yang terpancar dari hati mereka, diatas bukit para malaikat berwujud awan ikut menyemarakkan acara reuni tahunan ini dengan hembusan angin yang sepoi2 berlantunkan takbir, tahmid dan tahlil.

Tampak dikejauhan dibawah bukit ada orang yang tidak terlalu tua tampak tertatih2 dan sangat kesulitan mencoba menaiki bukit, berbeda dengan wali2 yang datang sebelumnya, seorang tua ini tampak sangat kesulitan menaiki bukit dengan tongkatnya dia berusaha melewati bebatuan yang terjal dan berliku, kadang dia berhenti sebentar untuk mengatur pernafasannya lalu melanjutkkan perjalanan menaiki bukit lagi.

Setelah sampai dipuncak tampak jelaslah orang ini, gemuruh nafasnya masih tampak tersenggal2 kecapekan, pakaiannya biasa, jubah putihnya agak kecoklatan dan sedikit kotor. Walaupun kelelahan tapi wajahnya nampak selalu tersenyum, dari raut wajahnya bisa tercermin bahwa orang ini tidak pernah meremehkan orang lain, tawadhu dan sopan...

Para wali menghentikan aktifitasnya setelah melihat kedatangan orang tua ini, suasana tiba2 hening, satu persatu para wali menyalami orang ini dengan penuh hormat dan takdzim...
''ahlan wa sahlan ya habiballah ya sulthanul aulia...'' ucap mereka

Eh... ternyata orang yang tampak biasa sekali ini adalah rajanya para wali, keramatnya dan kesaktiannya se-akan tidak ada sama sekali....

''Tolong panggilkan Paidi arek indonesia itu suruh kesini...'' ucap sang sultonul aulia kepada para wali.

Disela2 kerumunan para wali muncullah seorang pemuda dengan jas layaknya tentara dan peci hitam yang agak tinggi, dari wajahnya terlihat kalo Paidi ini pemuda yang kocak, dengan wajah cengar-cengir pemuda ini mendekati sang sultan aulia dan mencium tangannya.

Setelah wali Paidi ini menghadap, sang sulthon ini berkata kepadanya: ''Di... Paidi sini aku minta rokoknya dan tolong sekalian masak air buatkan kopi..''
hehehe...ternyata wali yg kemana2 bawa rokok dan kopi hanya wali dari Indonesia..

Sehabis dari pertemuan di Makkah, wali Paidi kembali lagi ke Indonesia. Wali Paidi pingin mencoba ilmu yang baru saja didapat dari temannya wali dari India, Naseer Khan yaitu ilmu melipat bumi. Teman wali Paidi ini memang terkenal sakti, seluruh biksu di India tidak dapat menandingi kesaktiannya, bahkan biksu dari Tibet banyak yang masuk islam, setelah kalah bertarung dengan Naseer Khan ini.

Ketika berangkat ke Makkah wali Paidi “nunut” temannya dari India ini, wali Paidi hanya disuruh menggandeng tangannya lalu tiba-tiba saja cling wali Paidi dan temannya Naseer Khan sudah berada di Makkah diatas bukit tempat pertemuan. Dan karena kasihan wali Naseer Khan ini meng-ijazahkan ilmu melipat bumi kepada wali Paidi, supaya diacara pertemuan-pertemuan yang akan datang wali Paidi tidak repot mencari tunutan lagi.

Wali Paidi memejamkan matanya dan mulutnya mulai berkomat-kamit membaca doa-doa khusus, tiba-tiba tubuh wali Paidi terasa dingin, bumi yang didudukinya terasa seperti es. Wali Paidi membuka matanya tampak didepannya bukit yang tertutup es, dia melihat kebawah, bumi yang didudukinya juga terbuat dari es. “Dimanakah aku ini?“ bathin wali Paidi.

Wali Paidi berdiri, melihat sekelilingnya, semuanya tampak putih tertutup salju. wali Paidi berjalan mengitari tempat yg belum pernah dilihat selama hidupnya, sepi tiada orang sama sekali. Lamat-lamat wali Paidi mendengar ada orang yg bersenandung membaca sholawat, wali Paidi dengan langkah perlahan-lahan mengikuti asal suara senandung sholawat tersebut, dan tampaklah didepannya beruang besar putih, membungkuk ditepi sungai mencari makanan ikan segar.

Masya Allah ternyata yang bersenandung itu bukan manusia tapi beruang putih ini. Wali Paidi berhenti, beruang putih itu menoleh kepada wali Paidi dan berkata kepadanya “assalamu’alaikum“ ucap beruang itu “wa'alaikumussalam“ jawab wali Paidi dengan perasaan kaget dan heran. “Kamu wali paidi ya, aku tadi dapat kabar kalau nanti ada orang yang kesasar kesini, namanya wali Paidi, “ucap beruang itu.

Setelah memakan ikan yang baru didapatnya, beruang putih itu melanjutkan berkata lagi “Kamu jangan kuatir memang sudah biasa orang belajar itu tidak bisa langsung menguasai ilmu yang baru didapatnya, cobalah sekali lagi” kata beruang tersebut lalu pergi meninggalkan wali Paidi.

Wali Paidi diam seribu bahasa, wali Paidi mendongak ke atas melihat posisi matahari, ternyata dia kesasar ke kutub selatan, dan bertemu beruang putih yang bisa bicara.

Setelah sholat sunnah dua rokaat, wali Paidi mulai merapal doanya kembali dan cling.......

Bersambung

Tuesday, October 25, 2016

Sudahkan ada paham arti kata "Aamiin" ?

PERBEDAAN ARTI KATA : AMIN, AAMIN, AMIIN, AAMIIN:

Dalam Bahasa Arab, terdapat empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :

1. ”AMIN” (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM.

2. "AAMIN” (alif panjang dan mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN.

3. ”AMIIN” (alif pendek dan mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA.

4. “AAMIIN” (alif dan mim sama-sama panjang), artinya, KABULKANLAH DO'A KAMI.

Jangan menulis do'a ini dengab disingkat :

Aamiin YRA : karena YRA oleh orang Nasrani memaknainya sbg "Yesus Roh Allah"

Tulislah secara lengkap :
Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin
(kabulkanlah do'a kami, wahai Robb semesta alam).

Apabila tidak sempat menulis lengkap, maka cukup dengan menuliskannya secara singkat :  ~ Aamiin...

Jadi tulislah dengan benar supaya apa yang kita lafalkan sesuai dengan arti yang k ita inginkan.

Wallaahu a'lam bishshowab
Semoga bermanfaat...

Source: copas dr salah satu group wa

Sunday, October 23, 2016

Tunggulah... Tunggulah barang sebentar

Belakangan ini marak aksi pembelaan terhadap sang penista Agama...

Berawal dari sebuah sensasi menarik simpati, justru berbuah blunder dan caci.
Ayat suci diperdagangkan dan dijadikan kambing hitam
Tanpa tedeng aling2, alim ulama ikut disalahkan dan dianggap penyebar kebencian
Ramai-ramai pendukung membela habis2an Sang jagoan kesiangan
Ironi, untuk sebuah negeri yang aman damai lagi tenteram

Jum'at 14 Oct2016 menjadi saksi
Seluruh umat Nabi bergerak menuntut diadilinya sang penista Agama
Tidak hanya Jakarta, hampir diseluruh kota besar di Indonesia bersuara sama
Tututannya sama adili sang penista agama
Tapi media tv bayaran semua diam, bungkam, atau kontrak tak diteruskan
Tapi pengambil kebijakan semua galau, saling menunggu petunjuk pimpinan

Ada apa dengan negeri yang mayoritas penduduknya islam?
Ada apa dengan pemimpin negeri ini?
Saat kebenaran harus ditegakkan kepada penguasa
Saat keadilan harus ditegakkan kepada sang penyandang dana
Semua pihak berwenang menggalau
Semua buru2 diam dan mencoba mengalihkan issue
Issue penusukan aparat di Cikokol Tangerang menjadi menarik diliput seluruh media ketimbang demo penuntutan sang penista agama yang merebak diseluruh kota
Dengan dalih jangan menjadikan issue SARA ke ranah politik
Atau dengan dalih ini negara pancasila bung, pemimpin tidak harus dari kalangan mayoritas..

Ada apa dengan negeri ini?
Ada apa dengan pemimpin negeri ini?
Ironi, untuk sebuah negeri yang aman, damai lagi tenteram
Tahukah kamu... beberapa minggu ini bumi pertiwi (khususnya Jakarta) menangis
Allah Swt turunkan bala tentaranya berupa hujan
Sebagai ujian bagi sang penista agama
Sebagai bukti kebenaran bagi orang yang beriman
Ucapan dan janji sudah terlanjur mengalir
Jakarta dijamin tidak akan lagi banjir
Kawasan elit Kemang, menjadi salah satu saksi nyata
Makin nyatalah sudah semua kebohongan
Lebih baik diam, bekerja dan santun berbicara
Jika nanti hasilnya tetap saja melukai jiwa

Tunggulah.
Tunggulah barang sebentar
Kalau kalian para pemimpin tetap tidak mau melaksanakan hukuman
Kami berlindung kepada Allah, biarlah Allah swt yang akan meluruskan ke dzoliman kalian...
....
*Demi langit yang mengandung hujan.
*dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan,
*sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil.
*dan sekali-kali bukanlah Dia (Allah) senda gurau.
*Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya.
*Dan Akupun (Allah) membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.
*Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.
    == QS Atthoriq (86) : 11-17 ==

Monday, June 06, 2016

Do'a Puasa Ramadhan Hari ke-1

Doa Hari ke-1 Puasa Ramadhan

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِي فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ، وَقِيَامِي فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ، وَنَبِّهْنِي فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ، وَهَبْ لِي جُرْمِي فِيْهِ يَا اِلَهَ الْعَالَمِيْنَ، وَاعْفُ عَنِّي يَا عَافِياً عَنْ الْمُجْرِمِيْنَ
Allâhummaj’al shiyâmî fîhi shiyâmash shâimîn, wa qiyâmî fîhi qiyâmal qâimîn, wa nabbihnî fîhi ‘an nawmatil ghâfilîn, wa hablî jurmî fîhi yâ Ilâhal ‘âlamîn, wa’fu ‘annî yâ ‘âfiyan ‘anil mujrimîn.

    Artinya :
    Ya Allah, jadikan puasaku di bulan ini sebagai puasa orang-orang yang berpuasa sebenarnya, shalat malamku di dalamnya sebagai orang yang shalat malam sebenar¬nya, bangunkan daku di dalamnya dari tidurnya orang-orang yang lalai. Bebaskan aku dari dosa-dosaku wahai Tuhan semesta alam. Maafkan aku wahai Yang Memberi ampunan kepada orang-orang yang berbuat dosa."

Meet and Greet Ramadhan (5)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Sya'ban 1437 H / 30 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 5)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-05
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 5)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(6) Yang keenam*

Sebelum 1 Ramadhan buat target.

Buat target lalu buat schedule untuk Ramadhan dan berani meng-cancel dan mengorbankan sebagian aktivitas dunia kita.

Target penting, kalau kita tidak punya target repot kita. Kita akan menunda dan menunda.

Misalnya membaca Al Qurānul karīm, kita harus buat target.

"Saya harus khatam Al Qurānul karīm. Kalau bisa lebih baik dari tahun lalu, minimal satu kali khatam. Harus satu kali khatam."

وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

"Barang siapa membaca 1 huruf dalam Al Qur'an maka Allāh akan berikan pahala. Dan satu pahala Allāh kalikan 10. Aku tidak pernah mengatakan  الم itu satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf."

(HR Tirmidzi nomor 2835, versi Maktabatu al Ma'arif Riyadh nomor 2910)

Masa kita tidak tertarik?

Ini promo dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, الم itu 30 pahala lho.
Harus sekali khatam.

Nah, setelah kita pastikan satu kali khatam, maka berikutnya buat schedule (jadwal).

Satu kali khatam berarti satu hari satu juz. Satu juz itu ada 10 lembar, maka antum bagi.

Misalnya, ini contoh saja:

√ sebelum sahur 1 lembar,
√ ba'da subuh 2 lembar, jadi 3,
√ nanti dhuha misalnya 2 lembar, jadi 5,
√ ba'da dzuhur biasanya kita makan siang 2 lembar lagi, jadi 7,
√ lalu ashar bikin 1 lembar, jadi 8,
√ magrib, isya, selesai.

Jika tidak maka akan kita tunda terus. Harus ada schedule, tidak bisa tidak.

Para ulama mengatakan:

التَّزْوِيْزُ مِنْ جُنُوْدِ إِبْلِيْس

"Menunda-nunda itu adalah bala tentara iblis."

Jadi harus pakai schedule.

Infaq, sedekah misalnya, antum harus punya target.

Misalnya, "Sehari, 50.000 harus hilang dari dompet saya."

Harus begitu. Tidak mau tahu caranya, 50.000 harus hilang.

Jadi, jika maghrib, 50.000 masih utuh, antum sudah panik, antum galau.

Jika tidak ada target, kita akan nunda lagi, "Besok aja, pasti in syā Allāh ketemu faqir miskin."

Tapi kalau sudah target 50.000 harus hilang, kita akan cari.

Ada tukang ketoprak, "Nih bang 50.000." Tukang ketoprak tidak ada, ada satpam komplek kasih 50.000. Tidak ada semuanya, tetangga lagi nyiram bunga, kasih 50.000. Pokoknya siapa aja kasihlah.

Atau ada pembantu, kasih 50.000. Istri kita ada itu, kasih 50.000, atau istri kasih suaminya 50.000. Pokoknya 50.000 harus hilang.

Nah itu baru Ramadhan,  harus ada target. Tanpa target, tidak bisa. 30 hari itu sebentar.

Harus berani memperioritaskan akhirat dan mengorbankan sebagian aktivitas dunia kita.

Ini Ramadhan, bukan bulan yang lain. Cancel yang bisa di cancel.

Para ulama itu liburnya 2 bulan, satu bulan TC (training center) Sya'ban, satu bulan Ramadhan, total 2 bulan. Itu toko tutup, usaha berhenti dan masuk lagi Syawal.

Ini luar biasa. Belum tentu kita ketemu lagi. Maksimalkan 1 bulan ini. Yang bisa di cancel, di cancel. Selama kita tidak melalaikan kewajiban kita dan tanggung jawab kita.

Berkah Ramadhan pas kita benar-benar berusaha beribadah kepada Allāh.

Saya punya kenalan, dia pingin 'itikaf. Tapi di ultimatum oleh kampungnya, disuruh pulang, dusuruh mudik. Orangnya pas-pasan, biasa-biasa saja. Galau sekali, karena dia ingin malam-malam terakhir, prime timenya (puncaknya) Ramadhan, dia bisa beribadah, tapi dia disuruh mudik.

Akhirnya dia putuskan saya mudik dengan jalur udara, padahal dia tidak punya uang.

Terus saya bilang, "Kan mahal Pak?"

"Daripada saya naik mobil, malam 27 saya di pantura Pak, macet segala macam dan seterusnya, mendingan saya naik pesawat saja."

Eh, ketika dia beli tiket pesawat, ekonomi class habis, dia beli bisnis, dia, istrinya, anak-anaknya bisnis semua. Padahal saya tau kemampuannya tuh biasa-biasa aja, tidak nutuplah.

Tapi itu Ramadhan, para ulama, para sahabat rādiallahuta'ala anhum, mereka bisa sehari khatam.

Jika Ustman sibuk dengan tokonya bagaimana sehari khatam? Tidak mungkinlah.

Itu menurut para ulama. Itu Ramadhan. Kalau cuma kongkow, cuman ngumpul, cuman curhat, itu bukan Ramadhan.

Ramadhan, fastabiqul khairāt.

Ini yang perlu kita camkan hadirin hadirat yang dirahmati oleh Allāh Subhanahu wa Ta'ala. *Berani.*

Ada sebagian ibu-ibu kalau Ramadhan katering, tidak mau masak.

"Habis waktu saya."

Katering dan suaminya ridhā. Saur dibawa, buka puasa dan makan malam katering. Jadi dia bisa baca Qurān. Itu yang harus kita pikirkan.

Kenapa ahli dunia berani mengorbankan uang untuk dunia mereka, kita tidak berani mengorbankan uang untuk akhirat kita?

Allāh akan ganti, tidak mungkin Allāh tidak ganti.

Jika kita korbankan dunia, di Sya'ban, di Rājab Allāh akan ganti. Tidak mungkin di Ramadhan tidak diganti.

Ingat sekali lagi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu."

(HR Ahmad)

*(7) Yang ketujuh*

Dan yang terakhir, doktrin diri kita, bangun perasaan bisa jadi Ramadhan ini, Ramadhan terakhir kita.

Ramadhan terakhir, tiada Ramadhan di tahun depan. Tidak ada Ramadhan di 2 tahun yang akan datang.

Ini kesempatan terakhir kita:

√ Kesempatan terakhir kita berpuasa.

√ Kesempatan terakhir kita merasakan syahdunya sahur bersama pasangan tercinta kita, dengan anak-anak kita.

√ Kesempatan terakhir melihat gelak tawa cucu kita, anak-anak kita ketika berbuka, ini kesempatan terakhir.

√ Kesempatan terakhir membaca Al Qur'an di bulan Qur'an.

√ Kesempatan terakhir mencatatkan nama kita sebagai pengkhatam-pengkhatam Al Qur'an dibulan suci Ramadhan.

√ Kesempatan terakhir untuk qiyamul lail.

√ Kesempatan terakhir untuk tahajud dibulan yang penuh berkah ini.

Tanamkan perasaan ini, doktrin diri kita, ini bisa jadi kesempatan terakhir, ini kesempatan terakhir.

Dan ini bukan sugesti belaka, ini riil, persentasenya 50% 50%. Karena kita tidak tahu kapan kita meninggal dunia.

Dan kita buktikan betapa banyak diantara kita yang Ramadhan tahun lalu ditemani oleh salah satu orang terdekatnya sekarang sudah tidak ada, sekarang sudah masuk bersama hewan-hewan di dalam tanah.

Seseorang yang merasakan bahwa ini adalah Ramadhan terakhirnya, maka dia akan luar biasa beribadah. Orang akan mengeluarkan seluruh potensinya ketika dia merasa ini adalah kesempatan terakhir.

Ini "The Last Chance".

Dipertandingan final piala dunia, kalau sudah perpanjangan waktu, itu keeper maju lho. Dia sudah tidak peduli lagi, dia akan habis-habisan. Apalagi kalau dia ketinggalan.

Kita ini ketinggalannya banyak banget lho. Masa lalu kita berlumuran dosa dan maksiat.

Keeper maju, dia tidak peduli lagi tuh gawang. Apalagi kalau tendangan sudut, tendangan bebas, dia akan maju sampai kotak pinalti lawan.

Ini saatnya kita mengejar ketinggalan kita. Ini kelas akselerasi. Dimana amal ibadah dilipatgandakan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita.

Nabi shālallahu 'alayhi wassalam bersabda:

فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

"Shālatlah anda seperti anda mengerjakan shālat terakhir di muka bumi ini."

(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401))

Kita akan khusyu', kita akan menangis kepada Allāh Subhanahu wa Ta'ala, kita akan merintih, kita akan sujud selama-lamanya.

Ramadhan ini bisa jadi kesempatan terakhir rekan-rekan sekalian. Perjumpaan kita dengan Ramadhan tahun ini, insya Allāhu Ta'ala adalah sebuah momentum dan pengalaman emas dalam kehidupan kita.

Dan bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir kita untuk berinteraksi dengan Ramadhan, maka siapkanlah perbekalan kita dan siapkanlah seluruh amunisi kita untuk fight di Ramadhan.

Dan jangan lupa berdo'a kepada Allāh agar Allāh pertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini. Karena walaupun sudah di depan mata kita, tetapi tidak ada yang tahu ajal. Betapa banyak orang yang meninggal H-1 Ramadhan, betapa banyak orang yang meninggal sebelum matahari terbenam masuknya bulan suci Ramadhan.

Maka berdo'alah kepada Allāh Subhanahu wa Ta'ala agar Allāh berikan kesempatan kita untuk mencuci segala dosa-dosa kita.

Dan sekali lagi kalau Allāh sudah berikan kita kesempatan, maka itu nikmat dari Allāh. Hendaklah kita bersyukur dengan memaksimalkannya sebaik dan sebaik-baik mungkin sehingga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang divonis celaka oleh Nabi kita shālallahu 'alayhi wassalam.

Dan Allāh akan menguji kita mana yang akan kita pilih, apakah akhirat atau dunia?

Dan betapa banyak orang yang Allāh katakan:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

"Namun kalian lebih memilih dunia."

(QS Al A'lā: 16)

Saya harap rekan-rekan sekalian benar-benar bisa berpikir jernih dan bisa memaksimalkan Ramadhan tahun ini.

Semoga bermanfa'at.

Wa'alikumsalam Warāhmatullāāh Wabarākaatuh

____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Meet and Greet Ramadhan (4)

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 21 Sya'ban 1437 H / 28 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 4)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-04
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 4)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(4) Yang keempat*

Sebelum 1 Ramadhan, perbanyak istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemana-mana:

استغفر الله وآتوب إليه

Resapi dan ingat dosa-dosa kita.

Ustdadz, kok begitu, korelasinya apa ya? Kan kita mau ketemu Ramadhan, bukan mau dugem, bukan mau clubing.

Ulama mengatakan, yang membuat kita malas ibadah, yang membuat kita capek baru ibadah sebentar saja, itu karena beban dosa di pundak kita terlalu banyak.

Allāh berfirman dalam surat Al Muthaffin ayat 14:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekali kali tidak, dosa-dosa mereka itulah yang menutup hati mereka."

Sehingga mereka malas ibadah, mereka tidak beriman kepada Allāh, mereka meninggalkan amal shalih.

Jadi, semakin banyak beban dosa kita, semakin susah beribadah. Dan dosa itu akan mengundang teman-temannya.

Kata para ulama:

إِنَّ المَعْصَيَةَ تنادي أخته

"Sesungguhnya maksiat itu akan mengundang teman-temannya."

Dan celakanya, itu terjadi di Ramadhan. Harus diputus mata rantai itu dengan istighfar, dengan taubat. Banyak istghfar, banyak taubat kalau kita ingin semangat dan bisa nyaman, bisa ringan di tubuh untuk  beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Istighfar dan istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini kunci dan ini nasehat para ulama kita agar "meet and Greet" kita dengan Ramadhan begitu bermakna.

*(5) Yang kelima*

Masuk Ramadhan, syiar kita adalah "lā haula walā quwata illā billāh", tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jangan mengandalkan kemampuan kita semata, jangan mengandalkan ilmu kita saja, jangan mengandalkan pengalaman.
 
Nggak bisa.

Ibadah itu taufiq dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dan inilah, sekali lagi, bumerang bagi orang yang merasa dirinya  pengalaman. Dia cenderung mengandalkan pengalamannya, "Insya Allāh, tahun lalu juga bisa gua."

Nggak bisa.

Bertumpulah kepada Allāh.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan."

Apa korelasinya?

Bapaknya ilmu tafsir, Al Imam Thabary rahimahullāh mengatakan:

"Iyya kana' budu, adalah tujuan. Hanya kepada Allāh kami beribadah. Dan, iyya kanas ta'in, adalah sarana (jembatanya, jalannya)."

Artinya, anda tidak akan bisa beribadah kepada Allāh kalau anda tidak ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nggak bisa, nggak bisa, hanya sekedar teori nggak bisa.

Masih ingat apa yang terjadi di perang Hunain, ketika fase pertama, kita kalah oleh musuh?

Dan Allāh berfirman dalam surat At Taubah ayat 25:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ

"Allāh telah menolong kalian di berbagai macam peperangan (Allāh yang tolong kalian, kata Allāh). Dan ingatlah, apa yang terjadi di perang Hunain, ketika sebagan kalian (segelintir kalian) ujub, mengandalkan banyaknya pasukan kalian (mengandalkan kekuatan militer kalian lupa bahwa selama ini anda ditolong oleh Allāh)."

K a l a h.

Padahal di dalam pasukan itu pakar-pakar perang semua, di dalam pasukan tersebut ada Rasullullāh shallallāhu 'alaihi wasallam, panglima perang nomer satu di dunia.

Ada Abu Bakar Ash Shdidiq, 'Umar bin Khatbab, 'Ustman bin Affan dan ada 'Ali bin Abi Thalib, namun gara-gara segelintir yang ujub, bukan Nabi yang ujub, maka satu pasukan kalah, padahal mereka adalah pakar.

Kita sudah sepakat, testimoni tentang kita:

√ kita bukan pakar puasa,
√ kita bukan pakar tahajjud,
√ kita bukan pakar baca Al Qur'an.

Lalu kita masuk Ramadhan hanya mengandalkan pengalaman kita?

Kalah, nggak bisa.

Minta kepada Allāh, berdoa agar Allāh mudahkan, agar Allāh lancarkan, agar Allāh kuatkan mata kita untuk begadang membaca Al Qur'anul karim.

Kalau nggak?

Nggak bisa, susah, jangan mengandalkan kemampuan kita. Andalkan kemampuan Allāh Subhānahu wa Ta'āla

Nabi mendidik kita, disetiap hari 2 kali kita diminta membaca doa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

"Wahai Allāh yang maha hidup dan mengatur kehidupan seluruh alam semesta ini, dengan rahmat-Mu aku meminta keselamatan, perbaiki segala urusanku (shalatku, dzikirku, puasaku dan seterusnya) dan jangan biarkan aku bertumpu pada diriku walaupun sekejap mata."

Ini Nabi lho yang membaca pertama kali. Nabi nggak mau bertumpu dengan dirinya.

Lalu kita masuk Ramadhan dengan bertumpu dengan kedua kaki kita yang keropos ini?

Nggak bisa.

Nabi, yang apabila shalat tahajjud sampai kaki Beliau bengkak, saking lamanya shalat, nggak bisa dan minta pertolongan pada Allāh.

Jangan masuk Ramadahan hanya mengandalkan ilmu kita, pengalaman kita, nggak bisa.

Walaupun pengalaman kita puluhan tahun, (hendaknya) seakan akan kita baru pertama kali. Kita membutuhkan bimbingan dari Al 'Alim, Al Khabir, Arrahman, Arrahim.

____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Meet and Greet Ramadhan (3)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 20 Sya'ban 1437 H / 27 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 3)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-03
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 3)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(2) Yang Kedua*

Pastikan sebelum 1 Ramadhan, ilmu kita tentang puasa telah komplit, ilmu kita tentang Ramadhan telah komplit.

Ilmu tentang fiqih puasa, bagaimana sahur? Bagaimana buka? Apa doanya? Lalu tawarih seperti apa? Lalu i’tikaf? Lalu apa beda tarawih dengan tahajud? Lalu bagaimana jika kita sedang safar?

Itu komponen yang harus komplit, karena dalam shahih Bukhari, kaidah kita mengatakan:

العلم قبل القول والعمل

"Ilmu dulu sebelum berbicara dan beramal."

Ilmu dulu, agama kita adalah agama ilmu. Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam surat Al Isrā’ ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah anda mengikuti berbicara, melakukan sesuatu yang anda tidak tahu ilmunya.”

Jangan lakukan sesuatu, Allāh marah jika mengatakan.

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran anda, penglihatan anda dan hati anda, semuanya akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

(QS Al Isrā': 36)

Jadi pastikan ilmu kita komplit, jangan tanggal 15 Ramadhan baru mulai membuka buku, ini terlambat.

Tanggal 20 Ramadhan baru membuat kajian pembatal-pembatal puasa. Kemana saja?  Ini sudah tinggal 10 hari lagi.

Ini analogi sederhana saja, kita akan travelling, naik pesawat, begitu masuk ke pintu pesawat kita lihat pilotnya lagi buka-buka buku panduan bagaimana menerbangkan pesawat.

Kira-kira kita akan duduk di pesawat itu tidak?

Tidak, pilotnya saja baru belajar. Bagaimana bisa sukses?

Begitu juga dengan Ramadhan, bagaimana kita bisa sukses, jika kita tidak tahu panduannya, jika kita ikut-ikutan? Tidak bisa.

Dalam hadits Imam Ahmad, ini statement Nabi, bukan statement saya. Nabi kita mengatakan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa ganjarannya hanya lapar dan dahaga.”

(HR Ath Thabraniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi –yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya)

Tidak mendapatkan apa-apa.

Dan hadits ini menariknya menggunakan kata-kata rubba. Rubba dalam bahasa Arab adalah sebuah kata untuk mengungkapkan sesuatu dengan kuantitas (jumlah) yang banyak.

Jika kuantitasnya hanya 1, 2, 3, maka tidak memakai kata “rubba” dalam  bahas arab. Nabi menggunakan kata “rubba”, artinya banyak orang gagal puasa Ramadhan. Itu sabda Nabi.

Ini harus kita pikirkan, sudah komplit atau belum ilmu kita, komponen kita itu ? Baca! Ikuti kajian! Browsing! Goggling! Lalu crosschecked dengan ustadz yang mempunyai kapasitas di bidang ilmu fiqih, tanya. Sekarang waktunya.

Begitu masuk 1 Ramadhan, kita sudah tahu apa yang harus diperbuat. Apa yang harus kita prioritaskan. Amal-amal apa saja yang pahalanya luar biasa di sisi Allah. Ini harus kita maksimalkan.

Itu kiat yang kedua atau PR kita yang kedua sebelum kita bertemu dengan tamu yang begitu istimewa tersebut (Ramadhan).

*(3) Yang ketiga*

Kita harus mengetahui apa makna dibalik ibadah-ibadah yang kita kerjakan pada bulan Ramadhan.

Apa maknanya? Apa substansinya? apa hikmahnya?

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullāh, dalam Mukhtashar Minhajjil Qashidin, beliau menjelaskan bahwa salah satu faktor kegagalan seseorang padahal dia sudah beribadah, adalah dia tidak paham makna dari ibadah yang dia kerjakan.

Jadi, dia pikir hanya nahan lapar dan haus, hanya sujud rukuk begitu saja, akhirnya apa?

Akhirnya sikapnya kehidupannya tidak selaras dengan ibadah yang baru saja dia kerjakan, karena tidak mengerti apa maksud ibadah yang di lakukan. Jadi tidak selaras, tidak berjalan secara parallel.

Agar Ramadhan kali ini lebih bemakna, kita mendapatkan ampunan dari Allah, kita mendapatkan pembebasan dari siksa api neraka, kita harus tahu makna dibalik ibadah-ibadah tersebut.

Sebagai contoh saja, salah satu makna dari puasa Ramadhan itu apa sih?

Salah satu makna penting dari dan dibalik puasa Ramadhan adalah *Allāh ingin mengajarkan kita bahwa dalam hidup itu kita harus menginjak pedal rem, tidak bisa gas terus.*

Kita harus injak pedal rem ketika ada maksiat di depan kita, ketika ada hal yang haram di hadapan kita, ketika hawa nafsu kita bergelora dan meledak ledak di dalam hati kita, injak pedal rem.

Itu yang dilatih oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Oleh karena itu dalam dua belas bulan Allãh meminta kita:

√ menahan nafsu makan kita,
√ menahan minum kita,
√ menahan nafsu syahwat kita.

Ini pelajaran penting.

Oleh karena itu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadits Imam Ibnu Khuzaimah:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

"Inti puasa itu bukan tidak makan dan tidak minum, namun inti puasa kita menahan dari hal-hal yang sia-sia dan bermaksiat kepada Allãh."

(HR. Ibnu Khuzaimah 7: 282 dan Hakim 4: 111. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jika kita menginginkan bahagia di dunia dan di akhirat, maka kita harus memainkan pedal rem (menahan), tidak boleh gas terus.

Misal, kita mendapatkan mobil sport “Lamborghini”, ini kan symbol kekayaan. Saya ingin tanya, Lamborghini memiki rem atau tidak?

Punya. Padahal symbol mobil sport saat ini, tapi ada remnya juga. Jika anda mendapatkan Lamborghini tetapi tanpa rem, kira-kira anda terharu atau protes?

Protes, “Lho, ini tidak ada remnya."

Jadi kita paham, rem itu penting. Ketika kanvas rem kita bermasalah, maka kita akan service. Nah, kok bisa hidup tanpa rem?

Padahal, walaupun perjalanan hanya satu atau dua jam saja kita membutuhkan rem.

Begitu juga, anda ingin surga, tetapi tanpa rem, tidak mungkin, mustahil. Harus rem (menahan) ketika ada maksiat, tidak boleh gas terus, harus rem.

Tanpa rem, kita tidak akan bahagia, kita akan sengsara, karena ketika kendaraan kita remnya blong. Sementara kecepatan terus melaju, kita akan panik, kita bukan senang, tetapi kita akan panik.

Begitu juga dalam hidup, ketika rem kita blong, hidup kita tidak akan bahagia, kita akan galau dan galau. Kenapa?

Karena maksiat kita tabrak.

Tapi saya bisa mengerti, siapa yang suka menginjak rem? Kan tidak ada. Semua ingin gas, ketika kita sedang di depan traffic light, lampunya kuning, maka kita injak apa?

Injak gas! Tidak ada yang suka menginjak rem, semua ingin gas dan gas.

Itu fitrah, sama dalam hidup ini memang tidak enak ngerem (menahan), Nabi mengatakan:

وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

"Neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang cocok dengan syahwat."

(Shahih: HR. Ahmad (III/153), Muslim (no. 2822), Tirmidzi (no. 2559), dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

Memang yang haram itu kelihatan enak-enak semua, tidak ada yang tidak enak, tetapi harus ngerem (menahan). Anda tidak akan bahagia, jika anda turuti terus hawa nafsu anda. Itulah yang diajarkan puasa.

*Apa sebetulnya yang membuat kita tidak bisa ngerem (menahan)?*

Ketika ada harta haram tetap injak gas, ada cewek (perempuan) yang tidak boleh didekatin tetap injak gas, kira-kira apa tuh yang membuat kita tidak atau susah mengontrol?

*Diantaranya, karena kita lebih banyak bermain dengan logika kita, bukan dengan dalil. Kita terlalu bermain dengan matematika kita.*

Contoh:

~~> Ada teman kita mengambil uang haram, kita katakan: "Bro, kok ngambil uang haram? Itu kan tidak boleh."

"Iya sih, tapi anakku tiga-tiganya besok tahun ajaran baru, uang gedung mahal, sudah hitung tuh, anak-anak tidak akan bisa sekolah jika aku tidak ngambil duit itu."

Nah, itu matematika kita yang dipakai, lupa kepada janji Allāh.

~~> "Mbak, kenapa tidak memakai jilbab?"

"Pengen sih, aku tahu jilbab itu wajib, tapi kalau aku pakai jilbab, jobku (pekerjaanku) hilang. Padahal aku masih singel parent, siapa yang memberi makan anak-anakku?"

Ini matematika kita lagi yang dipakai. Hitung-hitungan.

Saya kasih analogi, misalnya kita duduk dibangku sekolah. Kita mendapat soal matematika, soalnya begini:

Akh Fani berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan konstan 140 km/jam. Sedangkan akh Amor berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan yang tidak konstan, karena sering ngerem.

Pertanyaan, siapa diantara mereka yang paling cepat sampai Tanjung Priuk?

Jika kita sebagai siswa dan mengerjakan soal matematika, kira-kira yang sampai dulu ke Tanjung Priuk siapa? Fani atau Amor?

Tentu saja Fani.

Permasalahannya, jika saja matematika yang teori ini, kita terapkan dalam kehidupan yang nyata, siapa yang pertama kali sampai ke Tanjung Priuk? Fani atau Amor?

Maka, Amor.

Matematika itu bagus, tetapi bukan pondasi kita. Tidak semua rumus matematika bisa diterapkan, jangan memakai ini hitungan kita, Allāh mempunyai banyak rumus yang bisa membalikan teori kita.

Jika semuanya sejalan dengan matematika kita, maka tidak ada Ath Thalaq ayat 2-3:

.... وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ .....(٣)

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allāh, Allāh akan berikan jalan keluar dan Allāh akan memberikan rizki dari arah yang tidak ia duga-duga."

Jadi, jangan main-main. Dengan itu kita akan injak rem, semua orang jika memakai logika maka 140 km/jam akan lebih cepat sampai, tapi realitanya tidak demikian.

Harus injak rem!

Begitu juga dalam hidup, dan ini kita lupakan, sehingga begitu keluar Ramadhan, kembali lagi ke habitat kita. Kembali lagi ke komunitas kita, kembali lagi dengan habits kita, atau behavior kita.

Ramadhan, mengajarkan kita untuk selalu menginjak rem. Dan ini harus kita resapi selama sebulan penuh kita digembleng, ditraining oleh Allāh, di madrasah yang bernama Ramadhan.
____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Wali Paidi (Eps.12)

Gus Dur menerima dengan lapang dada isyarah yang ditafsirkan Kiai Rohimi. Gus Dur tidak peduli jika dalam kepimpinanya kelak, akan direcoki ...