Banner

Monday, June 06, 2016

Meet and Greet Ramadhan (4)

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 21 Sya'ban 1437 H / 28 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 4)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-04
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 4)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(4) Yang keempat*

Sebelum 1 Ramadhan, perbanyak istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemana-mana:

استغفر الله وآتوب إليه

Resapi dan ingat dosa-dosa kita.

Ustdadz, kok begitu, korelasinya apa ya? Kan kita mau ketemu Ramadhan, bukan mau dugem, bukan mau clubing.

Ulama mengatakan, yang membuat kita malas ibadah, yang membuat kita capek baru ibadah sebentar saja, itu karena beban dosa di pundak kita terlalu banyak.

Allāh berfirman dalam surat Al Muthaffin ayat 14:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekali kali tidak, dosa-dosa mereka itulah yang menutup hati mereka."

Sehingga mereka malas ibadah, mereka tidak beriman kepada Allāh, mereka meninggalkan amal shalih.

Jadi, semakin banyak beban dosa kita, semakin susah beribadah. Dan dosa itu akan mengundang teman-temannya.

Kata para ulama:

إِنَّ المَعْصَيَةَ تنادي أخته

"Sesungguhnya maksiat itu akan mengundang teman-temannya."

Dan celakanya, itu terjadi di Ramadhan. Harus diputus mata rantai itu dengan istighfar, dengan taubat. Banyak istghfar, banyak taubat kalau kita ingin semangat dan bisa nyaman, bisa ringan di tubuh untuk  beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Istighfar dan istighfar dan taubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Ini kunci dan ini nasehat para ulama kita agar "meet and Greet" kita dengan Ramadhan begitu bermakna.

*(5) Yang kelima*

Masuk Ramadhan, syiar kita adalah "lā haula walā quwata illā billāh", tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jangan mengandalkan kemampuan kita semata, jangan mengandalkan ilmu kita saja, jangan mengandalkan pengalaman.
 
Nggak bisa.

Ibadah itu taufiq dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dan inilah, sekali lagi, bumerang bagi orang yang merasa dirinya  pengalaman. Dia cenderung mengandalkan pengalamannya, "Insya Allāh, tahun lalu juga bisa gua."

Nggak bisa.

Bertumpulah kepada Allāh.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan."

Apa korelasinya?

Bapaknya ilmu tafsir, Al Imam Thabary rahimahullāh mengatakan:

"Iyya kana' budu, adalah tujuan. Hanya kepada Allāh kami beribadah. Dan, iyya kanas ta'in, adalah sarana (jembatanya, jalannya)."

Artinya, anda tidak akan bisa beribadah kepada Allāh kalau anda tidak ditolong oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Nggak bisa, nggak bisa, hanya sekedar teori nggak bisa.

Masih ingat apa yang terjadi di perang Hunain, ketika fase pertama, kita kalah oleh musuh?

Dan Allāh berfirman dalam surat At Taubah ayat 25:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ

"Allāh telah menolong kalian di berbagai macam peperangan (Allāh yang tolong kalian, kata Allāh). Dan ingatlah, apa yang terjadi di perang Hunain, ketika sebagan kalian (segelintir kalian) ujub, mengandalkan banyaknya pasukan kalian (mengandalkan kekuatan militer kalian lupa bahwa selama ini anda ditolong oleh Allāh)."

K a l a h.

Padahal di dalam pasukan itu pakar-pakar perang semua, di dalam pasukan tersebut ada Rasullullāh shallallāhu 'alaihi wasallam, panglima perang nomer satu di dunia.

Ada Abu Bakar Ash Shdidiq, 'Umar bin Khatbab, 'Ustman bin Affan dan ada 'Ali bin Abi Thalib, namun gara-gara segelintir yang ujub, bukan Nabi yang ujub, maka satu pasukan kalah, padahal mereka adalah pakar.

Kita sudah sepakat, testimoni tentang kita:

√ kita bukan pakar puasa,
√ kita bukan pakar tahajjud,
√ kita bukan pakar baca Al Qur'an.

Lalu kita masuk Ramadhan hanya mengandalkan pengalaman kita?

Kalah, nggak bisa.

Minta kepada Allāh, berdoa agar Allāh mudahkan, agar Allāh lancarkan, agar Allāh kuatkan mata kita untuk begadang membaca Al Qur'anul karim.

Kalau nggak?

Nggak bisa, susah, jangan mengandalkan kemampuan kita. Andalkan kemampuan Allāh Subhānahu wa Ta'āla

Nabi mendidik kita, disetiap hari 2 kali kita diminta membaca doa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

"Wahai Allāh yang maha hidup dan mengatur kehidupan seluruh alam semesta ini, dengan rahmat-Mu aku meminta keselamatan, perbaiki segala urusanku (shalatku, dzikirku, puasaku dan seterusnya) dan jangan biarkan aku bertumpu pada diriku walaupun sekejap mata."

Ini Nabi lho yang membaca pertama kali. Nabi nggak mau bertumpu dengan dirinya.

Lalu kita masuk Ramadhan dengan bertumpu dengan kedua kaki kita yang keropos ini?

Nggak bisa.

Nabi, yang apabila shalat tahajjud sampai kaki Beliau bengkak, saking lamanya shalat, nggak bisa dan minta pertolongan pada Allāh.

Jangan masuk Ramadahan hanya mengandalkan ilmu kita, pengalaman kita, nggak bisa.

Walaupun pengalaman kita puluhan tahun, (hendaknya) seakan akan kita baru pertama kali. Kita membutuhkan bimbingan dari Al 'Alim, Al Khabir, Arrahman, Arrahim.

____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Meet and Greet Ramadhan (3)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 20 Sya'ban 1437 H / 27 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 3)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-03
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 3)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan agar bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

*(2) Yang Kedua*

Pastikan sebelum 1 Ramadhan, ilmu kita tentang puasa telah komplit, ilmu kita tentang Ramadhan telah komplit.

Ilmu tentang fiqih puasa, bagaimana sahur? Bagaimana buka? Apa doanya? Lalu tawarih seperti apa? Lalu i’tikaf? Lalu apa beda tarawih dengan tahajud? Lalu bagaimana jika kita sedang safar?

Itu komponen yang harus komplit, karena dalam shahih Bukhari, kaidah kita mengatakan:

العلم قبل القول والعمل

"Ilmu dulu sebelum berbicara dan beramal."

Ilmu dulu, agama kita adalah agama ilmu. Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam surat Al Isrā’ ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah anda mengikuti berbicara, melakukan sesuatu yang anda tidak tahu ilmunya.”

Jangan lakukan sesuatu, Allāh marah jika mengatakan.

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran anda, penglihatan anda dan hati anda, semuanya akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

(QS Al Isrā': 36)

Jadi pastikan ilmu kita komplit, jangan tanggal 15 Ramadhan baru mulai membuka buku, ini terlambat.

Tanggal 20 Ramadhan baru membuat kajian pembatal-pembatal puasa. Kemana saja?  Ini sudah tinggal 10 hari lagi.

Ini analogi sederhana saja, kita akan travelling, naik pesawat, begitu masuk ke pintu pesawat kita lihat pilotnya lagi buka-buka buku panduan bagaimana menerbangkan pesawat.

Kira-kira kita akan duduk di pesawat itu tidak?

Tidak, pilotnya saja baru belajar. Bagaimana bisa sukses?

Begitu juga dengan Ramadhan, bagaimana kita bisa sukses, jika kita tidak tahu panduannya, jika kita ikut-ikutan? Tidak bisa.

Dalam hadits Imam Ahmad, ini statement Nabi, bukan statement saya. Nabi kita mengatakan:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa ganjarannya hanya lapar dan dahaga.”

(HR Ath Thabraniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi –yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya)

Tidak mendapatkan apa-apa.

Dan hadits ini menariknya menggunakan kata-kata rubba. Rubba dalam bahasa Arab adalah sebuah kata untuk mengungkapkan sesuatu dengan kuantitas (jumlah) yang banyak.

Jika kuantitasnya hanya 1, 2, 3, maka tidak memakai kata “rubba” dalam  bahas arab. Nabi menggunakan kata “rubba”, artinya banyak orang gagal puasa Ramadhan. Itu sabda Nabi.

Ini harus kita pikirkan, sudah komplit atau belum ilmu kita, komponen kita itu ? Baca! Ikuti kajian! Browsing! Goggling! Lalu crosschecked dengan ustadz yang mempunyai kapasitas di bidang ilmu fiqih, tanya. Sekarang waktunya.

Begitu masuk 1 Ramadhan, kita sudah tahu apa yang harus diperbuat. Apa yang harus kita prioritaskan. Amal-amal apa saja yang pahalanya luar biasa di sisi Allah. Ini harus kita maksimalkan.

Itu kiat yang kedua atau PR kita yang kedua sebelum kita bertemu dengan tamu yang begitu istimewa tersebut (Ramadhan).

*(3) Yang ketiga*

Kita harus mengetahui apa makna dibalik ibadah-ibadah yang kita kerjakan pada bulan Ramadhan.

Apa maknanya? Apa substansinya? apa hikmahnya?

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullāh, dalam Mukhtashar Minhajjil Qashidin, beliau menjelaskan bahwa salah satu faktor kegagalan seseorang padahal dia sudah beribadah, adalah dia tidak paham makna dari ibadah yang dia kerjakan.

Jadi, dia pikir hanya nahan lapar dan haus, hanya sujud rukuk begitu saja, akhirnya apa?

Akhirnya sikapnya kehidupannya tidak selaras dengan ibadah yang baru saja dia kerjakan, karena tidak mengerti apa maksud ibadah yang di lakukan. Jadi tidak selaras, tidak berjalan secara parallel.

Agar Ramadhan kali ini lebih bemakna, kita mendapatkan ampunan dari Allah, kita mendapatkan pembebasan dari siksa api neraka, kita harus tahu makna dibalik ibadah-ibadah tersebut.

Sebagai contoh saja, salah satu makna dari puasa Ramadhan itu apa sih?

Salah satu makna penting dari dan dibalik puasa Ramadhan adalah *Allāh ingin mengajarkan kita bahwa dalam hidup itu kita harus menginjak pedal rem, tidak bisa gas terus.*

Kita harus injak pedal rem ketika ada maksiat di depan kita, ketika ada hal yang haram di hadapan kita, ketika hawa nafsu kita bergelora dan meledak ledak di dalam hati kita, injak pedal rem.

Itu yang dilatih oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Oleh karena itu dalam dua belas bulan Allãh meminta kita:

√ menahan nafsu makan kita,
√ menahan minum kita,
√ menahan nafsu syahwat kita.

Ini pelajaran penting.

Oleh karena itu, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadits Imam Ibnu Khuzaimah:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

"Inti puasa itu bukan tidak makan dan tidak minum, namun inti puasa kita menahan dari hal-hal yang sia-sia dan bermaksiat kepada Allãh."

(HR. Ibnu Khuzaimah 7: 282 dan Hakim 4: 111. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jika kita menginginkan bahagia di dunia dan di akhirat, maka kita harus memainkan pedal rem (menahan), tidak boleh gas terus.

Misal, kita mendapatkan mobil sport “Lamborghini”, ini kan symbol kekayaan. Saya ingin tanya, Lamborghini memiki rem atau tidak?

Punya. Padahal symbol mobil sport saat ini, tapi ada remnya juga. Jika anda mendapatkan Lamborghini tetapi tanpa rem, kira-kira anda terharu atau protes?

Protes, “Lho, ini tidak ada remnya."

Jadi kita paham, rem itu penting. Ketika kanvas rem kita bermasalah, maka kita akan service. Nah, kok bisa hidup tanpa rem?

Padahal, walaupun perjalanan hanya satu atau dua jam saja kita membutuhkan rem.

Begitu juga, anda ingin surga, tetapi tanpa rem, tidak mungkin, mustahil. Harus rem (menahan) ketika ada maksiat, tidak boleh gas terus, harus rem.

Tanpa rem, kita tidak akan bahagia, kita akan sengsara, karena ketika kendaraan kita remnya blong. Sementara kecepatan terus melaju, kita akan panik, kita bukan senang, tetapi kita akan panik.

Begitu juga dalam hidup, ketika rem kita blong, hidup kita tidak akan bahagia, kita akan galau dan galau. Kenapa?

Karena maksiat kita tabrak.

Tapi saya bisa mengerti, siapa yang suka menginjak rem? Kan tidak ada. Semua ingin gas, ketika kita sedang di depan traffic light, lampunya kuning, maka kita injak apa?

Injak gas! Tidak ada yang suka menginjak rem, semua ingin gas dan gas.

Itu fitrah, sama dalam hidup ini memang tidak enak ngerem (menahan), Nabi mengatakan:

وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

"Neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang cocok dengan syahwat."

(Shahih: HR. Ahmad (III/153), Muslim (no. 2822), Tirmidzi (no. 2559), dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

Memang yang haram itu kelihatan enak-enak semua, tidak ada yang tidak enak, tetapi harus ngerem (menahan). Anda tidak akan bahagia, jika anda turuti terus hawa nafsu anda. Itulah yang diajarkan puasa.

*Apa sebetulnya yang membuat kita tidak bisa ngerem (menahan)?*

Ketika ada harta haram tetap injak gas, ada cewek (perempuan) yang tidak boleh didekatin tetap injak gas, kira-kira apa tuh yang membuat kita tidak atau susah mengontrol?

*Diantaranya, karena kita lebih banyak bermain dengan logika kita, bukan dengan dalil. Kita terlalu bermain dengan matematika kita.*

Contoh:

~~> Ada teman kita mengambil uang haram, kita katakan: "Bro, kok ngambil uang haram? Itu kan tidak boleh."

"Iya sih, tapi anakku tiga-tiganya besok tahun ajaran baru, uang gedung mahal, sudah hitung tuh, anak-anak tidak akan bisa sekolah jika aku tidak ngambil duit itu."

Nah, itu matematika kita yang dipakai, lupa kepada janji Allāh.

~~> "Mbak, kenapa tidak memakai jilbab?"

"Pengen sih, aku tahu jilbab itu wajib, tapi kalau aku pakai jilbab, jobku (pekerjaanku) hilang. Padahal aku masih singel parent, siapa yang memberi makan anak-anakku?"

Ini matematika kita lagi yang dipakai. Hitung-hitungan.

Saya kasih analogi, misalnya kita duduk dibangku sekolah. Kita mendapat soal matematika, soalnya begini:

Akh Fani berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan konstan 140 km/jam. Sedangkan akh Amor berangkat dari Al Azhar ke Tanjung Priuk dengan kecepatan yang tidak konstan, karena sering ngerem.

Pertanyaan, siapa diantara mereka yang paling cepat sampai Tanjung Priuk?

Jika kita sebagai siswa dan mengerjakan soal matematika, kira-kira yang sampai dulu ke Tanjung Priuk siapa? Fani atau Amor?

Tentu saja Fani.

Permasalahannya, jika saja matematika yang teori ini, kita terapkan dalam kehidupan yang nyata, siapa yang pertama kali sampai ke Tanjung Priuk? Fani atau Amor?

Maka, Amor.

Matematika itu bagus, tetapi bukan pondasi kita. Tidak semua rumus matematika bisa diterapkan, jangan memakai ini hitungan kita, Allāh mempunyai banyak rumus yang bisa membalikan teori kita.

Jika semuanya sejalan dengan matematika kita, maka tidak ada Ath Thalaq ayat 2-3:

.... وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ .....(٣)

"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allāh, Allāh akan berikan jalan keluar dan Allāh akan memberikan rizki dari arah yang tidak ia duga-duga."

Jadi, jangan main-main. Dengan itu kita akan injak rem, semua orang jika memakai logika maka 140 km/jam akan lebih cepat sampai, tapi realitanya tidak demikian.

Harus injak rem!

Begitu juga dalam hidup, dan ini kita lupakan, sehingga begitu keluar Ramadhan, kembali lagi ke habitat kita. Kembali lagi ke komunitas kita, kembali lagi dengan habits kita, atau behavior kita.

Ramadhan, mengajarkan kita untuk selalu menginjak rem. Dan ini harus kita resapi selama sebulan penuh kita digembleng, ditraining oleh Allāh, di madrasah yang bernama Ramadhan.
____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Thursday, May 26, 2016

Meet and Greet Ramadhan (2)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 2)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-02
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 2)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita?

PR kita yang pertama dituju hari ini adalah:

*(1) Yang Pertama*

Lakukan pemanasan.

Di beberapa ayat di dalam Al Qurānul karīm, Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyatakan bahwa ibadah itu adalah perlombaan:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam melakukan kebaikan.”

(QS Al Baqarah: 148).

Jika ibadah satuannya perlombaan, maka bagaimana dengan musim ibadah yang bernama Ramadhan? Bagaimana dengan sebuah bulan yang isinya adalah ibadah ? Dan berbagai macam varian ibadah ada di sana?

Maka tidak heran jika sebagian orang mengatakan bahwa Ramadhan itu ibarat olimpiadenya ahli taqwa, olimpiadenya orang-orang yang beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena Allāh yang mengqiyaskan, Allāh yang menganalogikan.

Simple saja, apakah ada seorang atlit mengikuti olimpiade tanpa TC (training center), tanpa pemanasan, tanpa stretching, tanpa warming up, lalu dia mendapatkan medali emas ?

Tidak ada.

Misalnya cabang olah raga, dia akan dipertandingkan atau diperlombakan tanggal 16 atau 17 Juni, jadi dari hari ini kerjanya makan-tidur makan-tidur, lalu tanggal 16 Juni datang ke stadion untuk berlomba, juara?

Tidak ada ceritanya. Kalah…

Padahal kita tahu bersama, bahwa olimpiade itu hanya bisa diikuti oleh atlit-atlit papan atas dunia, jika misalnya besok kita datang ke komite olimpiade, daftar ikut tenis, kira-kira diterima tidak ?

Tidak diterima, karena ini hanya khusus pemain-pemain papan atas.

Sekarang kita tanya diri kita, Ramadhan ada di depan mata kita, kira-kira:

√ kita ahli tahajud papan atas bukan?
√ kita ahli Qurān papan atas bukan?
√ kita ahli puasa papan atas bukan?
√ kita ahli infak dan sedekah papan atas bukan?

Kalau bukan, lalu kita masuk Ramadhan begitu saja tanpa ada pemanasan?

Jangan bermimpi bisa mendapatkan medali taqwa dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Harus pemanasan. Dan hari-hari ini penentuannya, karena Ramadhan ibarat lari marathon, Ramadhan kita diminta berada di level atas bukan 1 atau 2 hari, tapi 30 hari, sebulan. Tidak mudah…

Dan grafik diminta naik dari hari pertama ke hari terakhir kita tidak boleh menurunkan tempo, bahkan harus naik, naik, naik, dan klimaksnya adalah 10 hari terakhir.

Itu berat, makanya kesebelasan sebelum memasuki piala dunia, mereka selalu ujicoba, fungsi ujicoba itu apa ?

Untuk memainkan grafik dan ritme, agar ketika masuk piala dunia mereka sudah main di level paling atas.

Begitu juga Allāh mengqiyaskan bahwa ibadah adalah perlombaan, lalu kita tidak ada persiapan sama sekali? Tidak ada pemanasan? Masuk begitu saja?

Atau kita qiyaskan ke tempat yang lain. Kita punya mobil canggih, x class, 3 bulan tidak pernah dipanasin. Apalagi dipakai, tiba-tiba hari ini starter dan injak gas. Kira-kira jalan tidak?

Tidak jalan.

Begitu juga, jika kita sudah lama tidak membaca Al Qurān, jangankan baca, mushafnya lupa ada di mana. Lalu 1 Ramadhan membacanya tiga juz?

Tidak mungkin bisa, harus ada pemanasan.

Dan hari-hari ini, tidak bisa ditunda lagi, tinggal satu minggu waktu kita.

Jika dibandingkan dengan ulama sudah terlambat. Para ulama dari Sya’ban. Al Imam Al Mula-i, salah satu ulama besar, begitu masuk 1 Sya’ban libur, tokonya ditutup selama dua bulan. Buka lagi Syawwal.  Sibuk apa?

Sibuk pemanasan, masuk TC, baca Qurān, tingkatkan tempo qiamul lail, perbanyak puasa Sya’ban. Oleh karena itu, tidak heranpara ulama terdahulu setiap tiga hari khatam. ‘Utsman setiap satu hari khatam. 

Harus ada pemanasan, minimal kita dalam tujuh hari ini:

√ Yang sudah terbiasa dari awal Sya’ban menjaga puasa sunnah, pertahankan dan tingkatkan tempo.

√ Yang sudah terbiasa qiyamul lail atau membaca !Al Qurān, tambah lagi.

√ Yang belum pernah atau sudah postponed agak lama, maka mulai lagi, nanti malam bangun lagi.

Harus, dalam tujuh hari ini, minimal kita tidak kaget ketika tanggal 1 Ramadhan.

Tantangan Ramadhan itu besar, dan semakin kepuncak semakin besar tantangannya. Karena bukan hanya Allāh saja yang memberi promo, mall memberi promo, barang-barang banded memberi promo, semua memberikan promonya.

Pecah konsentrasi kita.

Belum lagi acara Ramadhan itu padat, belum lagi bukber (buka bersama), bukber angkatan 85, bukber angkatan 90, bukber angkatan 95, bukber angkatan 2000, bukber teman-teman SMP ketemu di Ramadhan, teman SMA di Ramadhan. Lalu kampus di Ramadhan, lalu teman-teman BEM di Ramadhan. Lalu teman-teman kantor Ramadhan lagi.

Jadi isinya bukber semua tuh. Ketemu sana, ketemu sini. Dan jika kita bertemu teman SMP kan tidak bisa 10 menit, akhirnya tarawih lewat, isya di rumah, dan terkadang banyak yang tidak shalat maghrib, na'udzubillāh.

Itu halus, hati-hati !!!!

Ramadhan berat, tidak semudah yang kita bayangkan, kita harus persiapan, kita harus pemanasan. Dan terbukti fenomena tahunan di mayoritas masjid malam demi malam, setiap melewati malam mengalami kemajuan terus, shafnya yang maju, maju dan maju.

Nanti anti klimaksnya shalat shubuh pas lebaran tinggal imam sama muadzin saja. Sedangkan yang lainnya sibuk mudik, ada yang fitting baju lebaran dan seterusnya.

Lupa, tidak konsentrasi.

Pemanasan ini penting, semua pasti harus pemanasan, tidak ada yang tidak pemanasan. Jika semangat ibadah 1 Ramadhan terlambat, harusnya anda semangat ibadah dari sekarang.

Tidak ada waktu lagi, tinggal tujuh hari lagi kita masuk Ramadhan.

Jika memang “MEET AND GREET” kita dengan Ramadhan berjalan sukses, kita harus pemanasan dari sekarang. Ini yang pertama.

____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Meet and Greet Ramadhan (1)

🌍 BimbinganIslam.com
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 1)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-01
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 1)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Tidak ada kata yang pantas untuk kita ucapkan kecuali kata demi kata yang kita bingkai dalam rangka bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla atas segala nikmat dan karunia yang Allāh limpahkan kepada kita.

Berikutnya shalawat dan salam, semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam beserta keluarga beliau, para sahabat beliau dan orang–orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat kelak.

Insya Allah, tamu itu akan datang. Ramadhan sudah bersiap untuk mengetuk pintu kehidupan kita dan menemani derap langkah kita.

Apa yang harus kita persiapkan? Tahukah kita?

Pengalaman kita bertemu Ramadhan bertahun-tahun itu bisa menjadi bumerang.

Ada sebuah kaedah yang dijelaskan oleh para ulama kita:

"Seringnya berinteraksi itu bisa mematikan sensitifitas."

Seringnya berinteraksi itu membuat kita tidak sensitif lagi, biasa-biasa saja.

Misalnya kita pindah rumah ke dekat atau di samping pembuangan sampah. Mungkin begitu keluar pintu mobil, mual mungkin muntah, itu hari pertama. Hari kedua paling pusing-pusing, hari ketiga pusing udah enakan, hari ketujuh udah bisa jogging di keliling tong sampah.

Lalu kita balik lagi ke rumah kita yang lama, begitu buka pintu mobil menghirup hawa rumah kita yang lama, itu mungkin ada yang hilang dalam hidup kita, aroma terapi itu yang tidak kita cium lagi.

Yang menjadi masalah ini jika terjadi dalam hal ibadah.

Saya pengalaman jika mengantar jama’ah umrah, itu  khususnya yang baru pertama kali umroh.

Sampai masjidil Haram dan melihat ka’bah pertama kali, nangis, luar biasa.  Tapi kita bisa paham, karena untuk pertama kali. Dan kadang-kadang, ada yang hari pertama tidak mau pulang ke hotel, i’tikaf, tidak mau pulang, doa, dzikir, shalat-shalat sunnah.

Hari kedua sudah mau diajak pulang ke hotel, hari ketiga keempat mulai berimbang antara hotel dan masjid, hari ketujuh, tawafnya sudah pindah di Zam-zam Tower.

Kenapa beda antara hari pertama dan hari ketujuh?

Karena sudah merasa biasa. Seringnya berinteraksi bisa membunuh sensitivitas dan bahayanya kalau itu terjadi dengan Ramadhan.

Karena merasa sudah sering ketemu Ramadhan, maka jadi biasa, seperti fenomena tahunan saja.

Inilah yang bahaya.

Dan yang lebih bahaya lagi, banyak diantara umat Islam yang melihat Ramadhan dari satu sisi saja.

Jika kita dengar Ramadhan yang terbersit di benak kita apa sih?

Bulan ampunan, bulan penuh rahmat, bulan penuh berkah.

Tapi tahukah kita, bahwa Ramadhan, jika tidak kita sikapi dengan benar, maka bisa menjadi mimpi buruk bagi kita pada hari kiamat. Ramadhan bisa menjadi kuburan bagi kita pada hari kiamat.

Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ

“Celaka seseorang."

Allāhu akbar, manusia sebaik Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam, semulia akhlak beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam, sampai mengatakan, “Celaka seseorang."

Beliau, ketika dizhalimi beliau mendoakan:

اللٰهُمَّ اغْفْرْ لِقَوْمٍيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ((متفق عليه))

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kaumku, bisa jadi mereka tidak tahu.”

Itu ketika terluka.

Coba kita bandingkan dengan hadits ini, “Celaka seseorang.”

Ini menimbulkan tanda tanya besar di benak kita, ini orang salah apasih? Kok bisa Nabi terpaksa memvonis.

Mari kita simak lanjutan hadits tersebut:

دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Yaitu seseorang yang memasuki Ramadhan, lalu dia lalui hari-harinya di bulan Ramadhan, sampai Ramadhan berpisah dengannya dan dosanya belum diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

(HR Tirmidzi nomor 3468, versi Maktabatu al Maarif nomor 3545)

~~> Celaka dia, celaka dia, celaka dia.

Allāhu Akbar.

Ramadhan, bulan dimana kata Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa sallam, pintu surga dibuka selebar-lebarnya, sebagai simbol seluruh akses dan sarana beribadah dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Lalu anda tidak shalat, tidak puasa, tidak terawih, tidak membaca Qurān, tidak tahajud, tidak infak/sedekah? Keterlaluan orang tersebut.

Semua akses dimudahkan, atsmofir, lingkungan, rumah, kantor atmosfirnya ibadah jika Ramadhan. Semua lingkungan mendukung. Jika anda tidak shalat, tidak punya waktu untuk terawih, anda ngobrol-ngobrol sama teman-teman ?

Ramadhan, di mana pintu neraka ditutup rapat-rapat sebagaimana hadits yang shahih, dan gembong-gembong syetan dibelenggu oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Lalu anda bermaksiat? Anda masih clubbing? Anda hang-out pulang jam 2 malam? Keterlaluan.

“Celaka dia, celaka dia, celaka dia,” kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam

Nabi tidak pernah mengatakan, “Barangsiapa yang berpisah dengan Sya’ban dan dosa-dosanya belum diampuni, maka celaka.” Tidak ada.

Hanya Ramadhan, “Barangsiapa, yang masuk Ramadhan, lalu keluar dari Ramadhan dan dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah, celaka dia, celaka dia, celaka dia.”

Ini yang kadang-kadang dilupakan oleh banyak umat Islam

Banyak dari kita berfikir bahwa Ramadhan itu nothing to lose, artinya ya sudah dijalani saja, kalaupun tidak ibadah kan kosong-kosong.

Tidak demikian, jika kita tidak memanfaatkan tamu ini, maka habis kita pada hari kiamat, Nabi mengatakan kita celaka.

Tujuh hari lagi tamu itu akan datang dan hadir, tamu itu akan mengetuk setiap pintu kehidupan kita, apa yang kita persiapkan dalam tujuh hari ini, menentukan.

Kita bisa memanfaatkan tujuh hari ini, maka insya Allāh Ramadhan kita akan bermakna.

Tetapi jika kita blunder, maka dikhawatirkan kita termasuk ke dalam sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, "Celaka dia, celaka dia, celaka dia."
____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Thursday, December 24, 2015

Harta yang hakiki

Ijin share.. untuk seseorang yg telah mengirimkam artikel ini melalui sosmed

Bahan renungan di malam Maulid Nabi Besar Muhammad Saw 1437H (24Dec2015) ini....semoga bermanfaat.

===
Sebelum pulang kantor, sang suami telp istrinya, "Sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun, Rp. 150 juta." Dibalik telp, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa syukurnya, "Alhamdulillah, semoga barokah ya mas".

Sejak beberapa bulan yg lalu mereka sudah merencanakan beli mobil sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang yg turun mereka rasa cukup pas sesuai budget.

Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelp oleh ibunya di kampung, "Nak, kamu ada tabungan? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. 50 juta." Tanpa pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, "Iya, Bu, insyaAllah ada." Dalam perjalanan pulang ia pun sambil berpikir, "Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yg 100 jutaan. Mungkin ini lebih baik."

Ia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, HP-nya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya semasa SMA tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil terbata mengabarkan bahwa anaknya harus segera operasi minggu ini. Banyak biaya yg tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit Rp. 80 juta.

Ia pun berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, "Berikan padanya. Mungkin kamu memang jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang datang melalui perantara dirimu." Ia pun menuruti panggilan nuraninya.

Setibanya di rumah, ia menemui istrinya dg wajah yg lesu. Sang istri bertanya, "Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak seperti biasanya pulang kantor murung gini?" Sang suami mengambil napas panjang, "Tadi ibu di kampung telp, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat abang juga telp, butuh 80 juta untuk operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini kita nggak jadi beli mobil dulu."

Sang istri pun tersenyum, "Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas, uang kita yg sebenarnya bukan yg 20 juta itu, tapi yg 130 juta. Uang yg kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yg sesungguhnya. Yg akan kita bawa menghadap Allah, yg tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yg 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain."

Sang istri pun memegang tangan suaminya, "Mas, insyaAllah ini yg terbaik. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, jsutru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil itu hadir saat ini. Maka mari baik sangka kepada Allah, karena kita hanya tahu yg kita inginkan, sementara Allah-lah yg lebih tahu apa yg kita butuhkan."

***
Kawan, ada tiga pilihan hidup yg harus kita pilih dg sangat hati-hati. Yakni: pendidikan, pekerjaan, dan pendamping hidup. Bukan sekadar yg favorit dikampusnya, tapi yg sesuai dg bidang yg ingin kita pelajari. Bukan sekadar yg gajinya besar, tapi yg sesuai dg passion yg ada pada diri. Bukan sekadar yg indah parasnya, tapi yg bisa menjadi penyejuk dikala kita gundah, sahabat serta penasehat untuk mendekat pada Sang khalik Allah SWT.

Semoga kita beruntung memiliki ketiganya, karena anda sudah menggenggam sedikit modal kesuksesan unt dunia akhirat. InsyaAllah.

Sunday, December 20, 2015

Shalat 5 menit susah..

Kadang focus itu amat susah... sudah fitrahnya manusia senang menuruti keinginan dan hawa nafsunya, lbh senang bersantai daripada sibuk berbuat kebaikan..

Benarlah kata Allah swt yang terjemahan bebasnya ..."sesungguhnya dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka.." karena teramat singkatnya kita hidup didunia. Padahal, bukankah kita diciptakan kedunia hanya untuk beribadah kepada Allah swt?

Semoga kita senantiasa memperbaiki amalan kita, untuk bekal hidup kita kelak.
Wallahu'alam bishshowab.

Friday, June 08, 2012

Lima Tahun Dikubur Jasad Pelacur Itu Masih Utuh dan Wangi

JAKARTA- Mawar masih terus bergulat dengan laki-laki manapun. Dari orang kantoran sampai kuli bangunan Ia layani. Mereka bebas menikmati tubuhnya yang Indah, asalkan memiliki uang.

Seluruh warga kampung tersebut sudah muak dengan tingkah polah Mawar, ya. Mawar Lia Amelia si Pelacur. Ia hanya dianggap sebagai biang kesialan di kampung. Tidak ada saudara yang bisa membujuk Mawar untuk kembali ke jalan yang benar. Karena Mawar tidak pernah mau menggubrisnya. Sebenarnya Mawar anak yang baik, hanya karena disakiti pacarnya, yang menjadikan ia nekad, terjun dalam lembah hitam.
Seorang kawannya menunjukkan jalan terbaik melampiaskan dendam Mawar pada laki-laki, pada keadaan yang kejam terhadapnya. Hari-harinya dilalui dalam pelukan laki-laki yang berbeda-beda, silih berganti.
Bertahun sudah waktu berlalu, Mawar terjangkit penyakit kronis. Tidak seorang pun kawan, saudara, atau tetangga desa yang peduli padanya. Apalagi menengok melihat sakitnya.
Bahkan pas meninggalpun dianggap biasa saja. Layaknya kematian binatang. Mawar tidak dikuburkan dengan layak. Orang kampungnya memang termasuk kolot. Jasadnya saja tidak boleh dikuburkan di Pemakaman desa.
Terkuburlah Mawar, sang pelacur pada suatu tempat, di tanah kosong. Dia dikuburkan alakadarnya oleh seorang teman dekat sesama Pelacur, dian meratapi kematian mawar seorang diri.
Lima tahun sudah waktu berlalu dari saat itu. Saat penguburan Mawar. Tidak seorangpun yang mengenang Mawar. Mawar hanyalah satu potret yang harus dirobek dari sejarah kampung, dari riwayat kampung yang teramat kolot. Yang masih menganggap kesalahan fatal, adalah hukuman seumur hidup bagi si pelaku. Apalagi bagi seorang Mawar, yang tidak berdaya apa-apa.
Lima bulan yang lalu kampung tersebut geger. Kampung di mana Mawar terkubur dengan begitu saja, tanpa tata cara tanpa ritual. Sebuah proyek besar untuk Pembuatan jalan tol, kebetulan melewati kampung tersebut. juga melewati kuburan Mawar.
Buldozer yang memiliki kekuatan ratusan ton, tidak mampu menembus tanah di mana Mawar dikuburkan. Berkali-kali moncong bulldozer diarahkan, berkali pula orang terkesima. Karena tanah itu bagaikan batu karang yang teramat kokoh, tidak tersentuh sama sekali. Namun saat gali dengan cangkul petani biasa, tanah itu begitu mudah dikeruk. Seakan tidak pernah terjadi keanehan apa-apa.
Semua mata terbelalak menyaksikan jasad yang masih membujur, dengan kondisi tubuh yang masih kelihatan segar, tidak seperti layaknya mayat yang sudah terkubur lima tahun lamanya. Bau harum semerbak tercium dari jasad itu. Harum yang lain dari parfum manapun. Harum yang belum pernah ada sebelumnya dibumi. Harum yang keluar dari jasad seorang Mawar yang sudah terkubur lima tahun lamanya. Teman saya yang kebetulan sebagai mandor di situ, ikut kaget dan bingung juga. Semua warga gempar.
Oleh penduduk, dilacaklah keberadaan si jasad. Dari teman almarhum Mawar yang masih menjalankan profesinya sebagai pelacur, terungkap bahwa
"Dia sudah taubat satu tahun sebelum meninggal, dia tidak menceritakan taubatnya itu kepada siapapun, termasuk kepada saya" Ujar Dian teman dekatnya Mawar Lia Amelia.
sebenarnya, satu tahun sebelum kematiannya, Mawar sudah bertaubat. Tapi taubat itu tidak pernah Mawar ungkapkan kepada siapapun. Termasuk kepada teman akrabnya. Semua Mawar curahkan pada buku hariannya. Tertulis lengkap.
Mawar berusaha menjalankan semua perintahNya. Dari yang wajib dan yang sunah, bahkan semua yang sunah dia kerjakan. Mawar menjalankan dengan Ikhlas. Buku harian itulah saksi utama semua ratapan dan jerit penyesalan seorang Mawar, seorang Pelacur yang bertobat dengan diam-diam?
Semua mata berkaca-kaca. Terlihat begitu sedih dengan roman penyesalan yang jelas tergambar. Hari itu pemakaman Mawar. Pemakaman kembali seorang (bekas) Pelacur yang pernah terhina begitu rupa.
Setelah terkubur selama lima tahun, Mawar dimakamkan kembali dengan layak. Dimakamkan selayaknya pemakaman seorang manusia biasa. Diiringai doa-doa dan ratap penyesalan dari saudara dan warga kampung.
Kisah ini benar-benar terjadi, pada suatu tempat, di sebuah daerah di Indonesia.(sal)
Sumber :  jakartapress.com

Wali Paidi (Eps.12)

Gus Dur menerima dengan lapang dada isyarah yang ditafsirkan Kiai Rohimi. Gus Dur tidak peduli jika dalam kepimpinanya kelak, akan direcoki ...