Banner

Monday, May 01, 2006

Perbedaan antara Roh dan Nafs

Memang banyak sekali orang yang bercerita seolah-olah dia sangat mengerti mengenai roh, adapula ulama yang mungkin tanpa disadarinya telah keliru memberikan pengertian tentang roh kepada masyarakat, sehingga manakala ada yang kerasukan Jin maka dia telah disebut kemasukan roh halus, roh nenek moyangnya, roh gentayangan dan sebagainya sehingga kemurnian ajaran Islam sebagai agama fitrah semakin terpuruk, bercampur dengan mitos, tradisi maupun sisa-sisa kepercayaan yang masih mengakar kuat ditengah masyarakat.
Belum lagi maraknya sinetron misteri ataupun reality show yang mengedepankan penampakan Jin dengan embel-embel agama. Padahal Allah sendiri didalam al-Qur'an telah berfirman :
Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh. Jawablah : 'Roh itu masalah Tuhanku; dan kamu tidak diberi ilmu mengenainya kecuali sedikit saja' - Qs. 17 al-Israa : 85
Bahwa untuk bisa berbicara terlalu jauh dan detil mengenai roh rasanya sangatlah mustahil sebab Allah secara khusus sudah membatasi pengetahuan manusia mengenai hakekat roh, mungkin pembatasan ini diberikan karena sedemikian kompleks dan rumitnya permasalahan tersebut untuk bisa diterima oleh akal manusia sekalipun misalnya hal itu tetap bisa untuk dijabarkan. Hidup manusia yang nyata didunia adalah jauh lebih berguna dan lebih patut untuk mendapat perhatian ketimbang mengurusi masalah Roh ini.
Roh, meskipun tidak banyak yang bisa kita bicarakan namun al-Qur'an telah mengulang istilah ini sebanyak 24 kali dengan berbagai konteks dan makna namun uniknya semuanya itu merujuk pada sesuatu yang mulia, tinggi, bersih dan terhormat. Tidak pernah kita dapati istilah roh yang disiksa, mengikuti syahwatnya atau ternoda. Dalam penyebutannya juga al-Qur'an tidak melekatkan istilah roh sebagai milik suatu makhluk tertentu akan tetapi langsung dinisbatkan kepada Allah.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya roh-Ku; maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud - Qs. 15 al-Hijr : 29
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya roh-Nya, lalu Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati namun sedikit sekali dari kamu yang bersyukur - Qs. 32 as-Sajdah : 9
Sebuah jasad tanpa roh maka jasad itu akan mati, tidak mampu bergerak tidak kuasa untuk menarik nafas dan dalam hitungan jam tubuhnya akan kaku karena darah berhenti mengalir. Orang yang sedang tidur bukan berarti roh yang ada didalam jasadnya sedang keluar, sebab bila demikian adanya berarti saat dia tidur maka dia seharusnya mati dalam pengertian yang sesungguhnya tapi kenyataannya saat seseorang tertidur, dia masih bisa bergerak membalikkan badan, jantungnya masih berdenyut, mulutnya masih bisa mengeluarkan suara mendengkur dan malah tidak jarang orang yang tidurpun bisa tiba-tiba tertawa ataupun menangis bahkan buang air kecil tanpa disadarinya, semua ini mengindikasikan kepada kita bahwa tidur bukanlah suatu keadaan dimana roh meninggalkan badan.
Oleh karena itulah saat menceritakan kisah ashabul kahfi, al-Qur'an menyebut mereka bukan dalam keadaan mati dimana roh penghuni jasadnya dicabut Allah tetapi disebut bahwa mereka sedang tidur dan ciri bahwa mereka tidur adalah tubuh mereka bergerak berbalik-balik.
Dan kamu mengira mereka itu sadar padahal mereka tidur ; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka melunjurkan dua kaki depannya dipintu gua. ; Jika kamu melihat mereka niscaya kamu akan berpaling dan lari dengan penuh ketakutan terhadap mereka. - Qs. 18 al-Kahf : 18
Kejadian ashabul kahfi yang tidur selama 309 tahun ini mungkin bisa dihubungkan juga dengan teori relativitasnya Einstein seperti yang pernah kita bahas dalam pembicaraan Isra' Mi'raj Nabi, dimana objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya akan mengalami perlambatan waktu dengan objek yang memiliki kecepatan statis, tubuh para pemudia ashabul kahfi mungkin digetarkan oleh Allah molekul-molekulnya mendekati kecepatan cahaya sehingga tubuh mereka bergetar dan membalik-balik agar tahan terhadap perubahan waktu diluar gua yang berjalan lambat sehingga kita yang melihat mereka bagaikan melihat sinar yang berkilatan dan sesuai isi akhir ayat ini kejadian tersebut pasti akan membuat kita lari ketakutan; Bukti dari kebenaran teori ini adalah usia mereka ketika bangun sama seperti saat mereka tidur padahal waktu yang berjalan diluar gua sudah berlalu 309 tahun.
Dengan demikian roh itu bisa kita ibaratkan sebagai energi listrik yang mengisi baterai pada sebuah ponsel yang membuatnya bisa hidup dan mengadakan komunikasi secara wajar. Roh adalah energi kehidupan, dia adalah listrik pembangkit sumber daya bagi semua makhluk Allah. Manakala listrik ini mati, maka akan hilanglah kehidupan, meskipun perangkat televisi masih tetap ada, provider jaringan masih tetap eksis dan ponsel masih dalam keadaan layak pakai, tetapi tanpa keberadaan energi listrik yang mengisinya maka semua menjadi tidak berguna. Jasad yang masih muda, segar tanpa cacat tidak akan bisa melakukan aktifitas apapun walau hanya untuk menarik nafas dalam hitungan milidetik bila roh sudah meninggalkannya.
Allah mewafatkan nafs pada saat kematiannya, dan nafs orang-orang yang belum mati didalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) nafs yang sudah ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu - Qs. 39 az-Zumar : 42
Ayat diatas ini menceritakan seputar kekuasaan Allah terhadap diri manusia yang mampu membiarkan seseorang tetap hidup ataupun menentukan kapan dia harus mati. Menariknya ayat tersebut telah memperkenalkan istilah Nafs yang oleh sebagian besar ahli tafsir diterjemahkan dengan kata jiwa ataupun nyawa.
Inti ayat ini bahwa orang tidur pada dasarnya rohnya tetap ada, bisa dibuktikan dengan gerakan, igauan maupun helaan napas. Pada kondisi ini Nafs yang bersangkutan dibiarkan lepas kealam imajinasi, alam bawah sadar atau juga sebuah alam metafisika terlepas dari jasad phisiknya yang sedang berbaring untuk menjalani berbagai pengalaman melalui mimpi-mimpinya.; Bahkan kemampuan orang-orang yang melatih ilmu proyeksi astral (meraga sukma) tidak lain dari perbuatan yang dilakukan dalam rangka melepaskan Nafsnya dari tubuh kasarnya.
Sebaliknya Nafs yang sudah diwafatkan oleh Allah berarti Nafs yang bersangkutan sudah ditahan oleh Allah untuk tidak dapat lagi melakukan petualangan dialam bawah sadar melalui mimpi-mimpinya maupun juga melalui proyeksi astral secara sengaja. Proses pembatasan Nafs ini ditandai dengan dihilangkannya roh yang berfungsi membangkitkan kehidupan bagi jasad dan Nafs.
Karena itulah kita tegaskan lagi bahwa dongeng arwah gentayangan maupun roh penasaran tidaklah bisa dibenarkan, semua itu hanyalah tipu muslihat dari Jin yang sudah menjadi bawahan Iblis. Semua suara yang keluar dari benda mati, suara tanpa wujud sampai pada fenomena penampakan tidak lebih dari perbuatan setan yang ingin menyesatkan pemahaman manusia dari jalan Tuhannya.
Orang yang sudah wafat selamanya tidak akan pernah bisa kembali dalam kehidupan nyata didunia, masanya untuk berkiprah melangsungkan kegiatan duniawi sudah berakhir, roh suci yang menjadi energi pembangkit kehidupan sudah hilang kembali kepada Allah. Tanpa roh, nafs tidak akan mampu menggerakkan jasadnya, tanpa roh nafs akan menjadi terhalang kembali kealam duniawi.
Jika Nafs mampu bergentayangan selepas kematian jasadnya, tentu keseimbangan alam semesta ini akan rusak binasa, jutaan nafs yang kehilangan tubuh materilnya dari jaman kejaman akan berebut merasuki semua tubuh makhluk hidup dan mengusir nafs yang menghuni jasad tersebut. Sungguh akan menjadi lelucon paling lucu yang pernah ada. Oleh sebab itu, Islam tidak mengenal istilah reinkarnasi maupun penitisan sebagaimana yang bisa dijumpai pada beberapa agama bumi. Kitab suci al-Qur'an jelas mengatakan bahwa antara orang yang sudah wafat dengan orang yang masih hidup didunia ini tidak akan bisa saling mencampuri lagi karena diantara mereka ada batasan yang disebut barzakh.
Hingga apabila datang maut kepada seseorang dari mereka, ia berkata : Ya Tuhanku ... kembalikanlah aku kedunia, supaya aku berbuat baik dalam urusan yang telah aku sia-siakan sebelumnya.; Tidak sekali-kali !!! Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja, padahal diantara mereka (dan dunia) ada dinding (barzakh) sampai mereka dibangkitkan. -- Qs. 23 al-Mu'minun : 99 - 100
Ruh selamanya akan tetap suci tak bernoda, sebaliknya Nafs kitalah yang kelak akan mempertanggung jawabkan semua kelakuannya semasa hidup hingga kematian menjemput dihadapan Allah dihari akhir.
Wahai, Nafs yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan ridho dan diridhoi; bergabunglah kedalam kelompok hamba-hambaKu lalu masuklah kedalam syurga-Ku - Qs. 89 al-Fajr : 27-30
Dan Nafs serta yang menyempurnakannya, lalu mengilhamkan kepadanya jalan kesesatan dan jalan kebenaran; maka berbahagialah orang yang membersihkan (Nafs) tersebut serta celakalah orang yang mengotorinya. - Qs. 91 asy-Syams : 7-10
Wassalam,
Armansyah

Jin, apa dan bagaimana ?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Sebagaimana telah disinggung oleh surah ar-Rahman dan al-Hijr, bahwa Jin tercipta dari api yang sangat panas, dan dari jenis Jin ini jugalah Iblis berasal.
Dia menciptakan Jin dari nyala api - Qs. 55 ar-rahman : 15
Iblis, adalah dia dari golongan jin - Qs. 18 al-Kahfi : 50
Tetapi apakah semua Jin itu berlaku jahat seperti Iblis ?
Mari kita simak pengakuan langsung dari Jin kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang ada di firmankan ALLAH dalam al-Qur'an : Sesungguhnya diantara kami ada orang-orang sholeh dan diantara kami ada juga yang tidak, karena kami menempuh jalan yang berbeda-beda - Qs. 72 al-Jin : 11
Bagaimana bisa ada Jin yang sholeh dan ada yang jahat ?
Hai umat Jin dan manusia ! Apakah belum datang kepada kalian Rasul-Rasul dari jenismu sendiri ? Yang menyampaikan kepada kalian ayat-ayat Ku ? - Qs. 6 al-an'am : 130
Jelas, Tuhan sudah mengutus kepada bangsa Jin dan manusia sejumlah Rasul-Nya dari jenis mereka sendiri (untuk bangsa Jin Rasulnya juga Jin dan untuk bangsa manusia Rasulnya juga manusia), sehingga seperti umumnya manusia, maka meskipun sudah ada utusan Tuhan, Jin pun tetap saja ada yang ingkar dan ada juga yang beriman. Sepanjang sejarah kerasulan, hanya dua kali penyimpangan pengutusan Rasul manusia yang juga berfungsi selaku Rasul bagi bangsa Jin, mereka adalah Nabi Sulaiman putra Daud dan Nabi Muhammad Saw ayah dari Fatimah az-Zahra.
Apakah ini berarti menentang surah al-an'am diatas ? Saya tidak melihatnya seperti itu, saya berpendapat bahwa pengutusan Nabi Sulaiman kepada bangsa Jin berhubungan erat dengan mukjizat kenabiannya, bukankah masing-masing Nabi diutus dengan membawa kelebihan tersendiri dari sisi Tuhan?
Kami tundukkan juga untuk (Sulaiman) setan-setan - Qs. 38 Shaad : 37
Lalu sebagian Jin ada yang bekerja dihadapan Sulaiman dengan izin Tuhannya - Qs. 34 Sabaa' : 12
Sementara pengutusan Nabi Muhammad kepada bangsa Jin berhubungan erat dengan status kenabian beliau selaku Khataman Nabi atau penutup para Nabi yang berfungsi menyebarkan rahmat bagi seluruh alam.
Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai pembawa rahmat untuk seluruh alam - Qs. 21 al-anbiya : 107
Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. - Qs. 33 al-ahzaab : 40
Diayat terakhir, Allah tidak menceritakan kepada kita mengenai status kenabian dari Muhammad yang terakhir apakah hanya berlaku untuk bangsa manusia saja ataukah juga berlaku bagi Nabi dari bangsa Jin ? Namun berasumsi dari surah al-anbiya, saya berpendapat bahwa status Khataman-Nabi dari Muhammad bersifat menyeluruh, artinya Beliau adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Tuhan bagi Jin dan Manusia.
Darimana kita tahu Nabi Muhammad pernah berdakwah didunia Jin ?
Ceritakanlah : Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan Jin telah mendengar al-Qur'an - Qs. 72 al-Jin : 1
Dan ketika Kami hadapkan serombongan Jin kepadamu untuk mendengarkan al-Qur'an - Qs. 46 al-ahqaaf : 1
Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan dari Jin Maka aku mendatangi mereka lalu aku membacakan al-Qur'an terhadap mereka - Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad
Adakah Nabi menjelaskan tentang keadaan atau jenis-jenis Jin yang ada ?
Jin itu tiga jenis : Jenis yang memiliki sayap dan terbang diudara, Jenis ular dan kalajengking dan jenis menetap atau berpindah-pindah - Hadis Riwayat Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi
Apakah wujud Jin itu masih berbentuk api ? Saya belum mendapatkan informasi pastinya dari al-Qur'an maupun Hadist, akan tetapi menurut saya pribadi, Tidak ! Karena logikanya, manusia pun asalnya adalah tanah, lalu apakah kita ini masih berbentuk tanah juga ? demikian juga pasti dengan Jin, asalnya api, namun keadaan mereka sekarang pasti tidak lagi berbentuk api.
Buktinya, Nabi Muhammad pernah bermaksud untuk mengikat Jin 'Ifrit yang mencoba mengganggu sholat beliau sehingga wujud dari Jin itu bisa dilihat oleh orang awam dengan mata telanjang namun niat tersebut dibatalkan oleh Nabi sendiri mengingat hal itu sudah pernah menjadi mukjizat Nabi Sulaiman, dan ini mengindikasikan bahwa Jin itu sudah tidak lagi berwujud api, jika tidak, bagaimana cara Nabi mengikat Jin itu ?
Sesungguhnya 'Ifrit dari Jin telah meloncat kepadaku semalam untuk menghentikan Sholatku dan Allah memberi kuasa kepadaku terhadap Jin itu, maka aku bawa dia. Sebenarnya aku ingin mengikatnya kesebelah pagar masjid sehingga dengan demikian waktu pagi kamu semua dapat melihatnya tapi aku ingat perkataan saudaraku Sulaiman : Ya Tuhanku, ampunilah aku dan berilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku, karena itu Allah menolaknya dengan mengusirnya - Hadis Riwayat Muslim
Permintaan Nabi Sulaiman pada hadist diatas bisa juga dibaca pada surah 38 Shaad ayat 35, yang intinya Nabi Sulaiman meminta diberikan oleh ALLAH kekuasaan dan mukjizat istimewa yang tidak akan sama dengan manusia dan Nabi manapun yang hidup setelah kematiannya nanti (terbukti dengan di-izinkannya beliau memerintah bangsa Jin dan menguasai bahasa semut dan burung - lihat surah 27 an-Naml ayat 18 dan seterusnya).
Kembali lagi pada wujud Jin, masih menurut saya, tanah maupun api merupakan unsur pembentuk pertama dan setelah melalui proses-proses yang ada, maka unsur-unsur tersebut hanya akan membekas pada sifat dan bukan lagi pada bentuk atau wujud tubuh dari manusia atau Jin. Sifat tanah itu keras, maka sifat dan hati manusia pun banyak yang keras, begitu pula sifat tanah itu lembut dan lengket, maka manusia juga tidak jarang memiliki sifat yang lemah lembut serta penyayang (melekatkan hati kepada sesuatu, baik dari sisi positip atau negatip). Sementara sifat api adalah panas, membakar, mudah dibawa oleh angin serta menghancurkan, maka ini juga yang menjadi sifat dari Jin dan mempengaruhi watak Iblis yang sombong, egoisme, mau menang sendiri, jahat, kejam serta siap menghancurkan atau menjerumuskan musuh-musuhnya.
Selanjutnya, apakah Jin memiliki markas besar tempat semua jenisnya berkumpul ? Tidak ada informasi yang pasti seputar hal ini, namun Nabi ada menyatakan bahwa istana Iblis ada diatas air.
Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya diatas air, Kemudian dia mengutus pasukannya Maka yang paling dekat kepadanya adalah yang paling hebat fitnahnya - Hadis Riwayat Muslim dari Jabir
Mungkinkah lautan Bermuda adalah tempat dimana singgasana Iblis berada seperti hadis diatas, mengingat banyaknya kejadian aneh seperti hilangnya kapal laut dan udara yang melalui tempat tersebut ?
Jawabnya pun kita tidak tahu pasti mengenai hal ini, namun harus diketahui juga bahwa laut Bermuda bukan satu-satunya tempat yang dianggap lautan setan, di Jepang terbukti ada juga lautan sejenis yang bernama Laut Formosa bahkan dipulau Jawa sendiri juga ada Laut Selatan yang dianggap orang sebagai pusat kerajaan Roro Kidul.
Wassalam.
Armansyah

Apa beda Setan dan Iblis ?


Assalamu 'alaikum Wr. Wb,
Mendengar kata Setan, maka seketika pikiran kita biasanya akan langsung membayangkan sesosok makhluk yang seram, hitam, bertanduk dikepalanya, kedua matanya merah, gigi tajam tak ubahnya drakula, dan memiliki ekor dengan ujungnya seperti anak panah.
Akan tetapi apakah memang demikian keadaan setan sebenarnya ?
Jika kita membuka lembaran-lembaran kitab suci dan juga hadis-hadis yang meriwayatkan perihal setan itu sendiri, ternyata kita TIDAK akan menemukan penggambaran sosok setan seperti yang kita bayangkan itu. Tidak ada keterangan apapun dari Allah didalam al-Qur'an maupun juga dari Rasul didalam Hadisnya mengenai perwujudan asli dari makhluk yang bernama setan ini.
Satu hal lain yang sangat lumrah terjadi dimasyarakat, bila kita menyebut setan maka biasanya kitapun akan sering mengindentikkannya dengan Iblis, yaitu suatu makhluk yang diceritakan oleh al-Qu'ran sebagai pembangkang perintah Tuhan saat disuruh bersujud kepada manusia yang oleh Tuhan berfungsi sebagai Khalifah dibumi (Lihat Qs. 2 al-Baqarah : 34, Qs. 7 al-A'raaf : 11, Qs. 15 al-Hijr : 31, Qs. 17 al-Israa' : 61, Qs. 18 al-Kahfi : 50, Qs. 20 Thaaha : 116 dan Qs. 38 Shaad : 74).
Menurut Encyclopedia Britannica, kata setan sebenarnya berasal dari bahasa Ibrani yang berarti "musuh" dan biasanya ditujukan kepada jenis Jin yang ingkar dan melakukan bisikan jahat terhadap manusia sebagai tindakan godaan dan kesuksesan mereka adalah bergantung dari kecerdikannya.
Pernyataan tersebut tidak bertentangan dengan pernyataan al-Qur'an maupun hadis Nabi berikut: Kami jadikan para Nabi itu musuh-musuh setan, yaitu dari jenis manusia dan Jin (Qs. 6 al-an'am : 112)
Sungguh, aku melihat setan-setan Jin dan manusia lari dari Umar (Hadis Riwayat Tirmidzi)
Dari ayat dan hadis tersebut, digambarkan oleh al-Qur'an bahwa setan itu terbagi atas dua jenis, yaitu setan dalam wujud manusia dan setan dalam wujud Jin. Dan dari sini juga ada indikasi bahwa yang namanya setan itu tidak selamanya identik dengan Iblis.
Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, adalah dia dari golongan jin (Qs. 18 al-Kahfi : 50)
Jadi, Iblis itu sendiri dinyatakan Allah berasal dari golongan Jin, tidak ada Iblis dari golongan manusia, sehingga mengidentikkan antara Iblis dan Setan tidaklah selamanya benar. Lalu, setan dari jenis manusia itu apa dan bagaimana ?
Sabda Nabi : Apabila tiba bulan Ramadhan, dibukalah pintu langit, dikunci pintu neraka dan setan dibelenggu (Hadis Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah)
Pernyataan Nabi bahwa pintu langit dibuka pada bulan Ramadhan tentunya dimaksudkan sebagai terbukanya pintu rahmat dan pintu ampunan Allah bagi para hamba-Nya yang berpuasa, sementara terkuncinya pintu neraka adalah tertutupnya pintu azab Allah selagi kita menggunakan kesempatan dibulan suci itu untuk melakukan introspeksi diri (bahasa agamanya : bertaubat) serta memperbanyak amal ibadah.
Dan pernyataan setan dibelenggu pada bulan Ramadhan juga tidak mungkin kita artikan secara kontekstual yang sebenarnya, sebab memang pada kenyataannya dibulan Ramadhan masih banyak kejahatan merajalela, penyembahan berhala, minum-minuman keras, main perempuan dan aneka tindak kriminal lainnya.
Jadi, yang dimaksud oleh Nabi itu tidak lain adalah pada bulan Ramadhan itu sewajarnya hawa nafsu kejahatan yang senantiasa ada pada diri manusia itu lebih terkekang karena simanusianya seharusnya sibuk melakukan pendekatan diri kepada Tuhan, banyak melakukan dzikir serta menahan makan dan minum yang merupakan sumber dari timbulnya nafsu negatif.
Kesimpulan ini sesuai juga dengan sabda Nabi yang lain :
Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia melalui tempat jalannya darah Maka persempitlah tempat jalannya dengan lapar (Hadis Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah)
Tidaklah mungkin pada tubuh kita ini ada setan (dalam pengertian makhluk Jin) yang berdiam, sebab jika itu benar maka kita semua ini bisa dikatakan kesurupan setiap hari, karena itulah maka yang disebut sebagai setan itu adalah dorongan negatif yang selalu berusaha mendominasi semua perbuatan dan pikiran kita setiap waktu (seiring dengan perjalanan darah).
Bukankah Nabi juga pernah bersabda tatkala beliau kembali dari medan perang : Kita baru saja kembali dari peperangan kecil menuju keperang yang besar Yaitu perang melawan hawa nafsu (Hadis Riwayat al-Khatib dari Jabir)
Pada Hadis yang sudah kita kutip sebelumnya Nabi menyatakan bahwa lapar (berpuasa) merupakan salah satu cara mengekang diri dari tindakan negatif yang justru merugikan diri kita sendiri.
Sabda Nabi yang lain : Jika kalian mendengar suara keledai maka belindunglah kepada Allah dari setan. Karena sesungguhnya dia melihat setan (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Sekali lagi, jika memang didalam diri manusia ini ada setan dalam pengertian makhluk halus, maka apakah setiap keledai melihat manusia juga pasti akan bersuara (melenguh) sebab pada saat yang sama seharusnya dia juga melihat setan didalam diri manusia ?
Sementara jika kita mengartikan setan sebagai energi negatif atau dorongan nafsu untuk berbuat kejahatan (menentang jalan Tuhan) maka hal ini sesuai dengan pernyataan al-Qur'an :
Lalu ALLAH mengilhamkan kepada jiwa (Nafs) itu (nilai-nilai) fasiq dan (nilai-nilai) taqwa - Qs. 91 asy-syams : 8
Bersesuaian pula dengan teori yang ada pada ilmu Psiko-linguistik yang menyatakan bahwa manusia dilahirkan didunia bukan dengan piring kosong (teori Tabula rasa), manusia dilahirkan dengan dibekali faculties of the mind atau ada juga yang mengistilahkannya sebagai innate properties [1].
Semuanya berpulang kepada kita, mana yang akan kita ikuti, apakah semangat berbuat kebaikan ataukah semangat untuk berlaku jahat ?
Ketahuilah, bahwa didalam jasad ada gumpalan, bila gumpalan itu baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasad ketahuilah bahwa itulah hati (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Semakin kita condong pada perbuatan negatif (hawa nafsu), maka Iblis yang sejak awal mengumumkan permusuhannya dengan manusia, akan mengerahkan semua bala tentaranya dari kalangan Jin yang juga memiliki sifat jahat untuk menambah semangat kita berbuat hal yang batil dengan jalan membisik-bisikkan rayuan fatamorgana didalam hati.
Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka (Qs. 3 an-nisa' : 120)
... Kejahatan setan yang biasa bersembunyi, yang berbisik kedalam dada manusia dari Jin dan manusia (Qs.114 an-nas : 4 – 6)
Kita semua sudah mengetahui bahwa antara ALLAH dan Iblis telah terjadi satu perjanjian dimana Iblis diberi kebebasan oleh Tuhan untuk mengadakan cobaan serta ujian atas keimanan manusia terhadap-Nya.
Dan ajaklah siapa yang kamu sanggupi diantara mereka dengan ajakanmu, kerahkanlah kepada mereka pasukanmu yang berkendaraan dan pasukanmu yang berjalan kaki lalu bersekutulah bersama mereka dalam urusan harta dan anak-anak dan berilah mereka janji (Qs. 17 al-Isra : 64)
Disamping itu, mungkin kita juga perlu melakukan kajian secara komprehensif terhadap beberapa hadis Nabi yang menghubungkan penyakit dengan setan dan menghubungkan pula antara suatu perbuatan dengan setan misalnya :
  • Hendaklah seseorang diantara kamu makan, minum dan mengambil dengan tangan kanannya karena setan itu makan, minum dan memberi dengan tangan kirinya (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
  • Apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaklah diletakkan tangannya dimulutnya dan tidak memanjangkan suaranya, karena sungguh setan mentertawakannya (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
  • Tutuplah bejana, tutuplah tempat-tempat air, tutuplah pintu dan padamkanlah lampu Sebab setan tidak singgah ditempat air yang tertutup, tidak membuka pintu tertutup Serta tidak membuka bejana yang tertutup (Hadis Riwayat Bukhari)
  • Janganlah kalian kencing dilobang (Hadis Riwayat Abu Daud, Nasa'i dan Ahmad)
  • Jangan kalian melepas ternak-ternak kalian dan anak-anak kalian saat matahari terbenam hingga kegelapan malam, sebab sungguh, setan bergentayangan saat matahari terbenam hingga hilang gelapnya malam (Hadis Riwayat Muslim)

Beberapa hadis diatas meskipun teksnya dihubungkan dengan setan, namun bisa kita tinjau dari sisi tata krama, medis maupun keselamatan.

Orang yang makan, minum atau melakukan aktivitas dengan tangan kirinya berkesan orang yang tidak sopan dan jorok, sebab secara umum, tangan kiri kita gunakan untuk -maaf- mencebok sisa kotoran dipantat. Lalu secara psikologis, apakah kita mau makan makanan yang bersih dan sehat dengan tangan yang biasa memegang kotoran ?

Lalu bayangkan kita menguap lebar-lebar sambil bersuara "hhaaaahhh..." ditengah orang banyak atau didekat orang yang anda sayangi ataupun malah didalam suatu rapat, apa kesan orang-orang tersebut kepada kita ? Selain itu jika saat kita menguap lebar itupun akan memungkinkan virus-virus tertentu yang ada diudara masuk melalui mulut.
Perintah Nabi untuk menutup tempat-tempat air yang terbuka, mematikan lampu dan menutup pintu tidak lain agar makanan dan minuman kita bersih dari penyakit yang berbahaya seperti jentik nyamuk demam berdarah atau jilatan binatang sejenis kucing, tikus dan sebagainya.

Mematikan lampu sebelum tidur adalah langkah efisiensi atau penghematan sekaligus mencegah terjadinya arus pendek yang bisa mengakibatkan kebakaran apalagi pada masa lalu orang menggunakan lampu teplok dan lilin untuk penerangan sehingga tidak menutup kemunginan lampu teplok itu jatuh kelantai dan mengenai kain sehingga terjadi kebakaran.

Dan larangan kencing dilobang menurut saya agar tidak timbul penyakit maupun aroma tak sedap dari lobang bekas kencing, ini tentu saja pengecualian bagi lobang WC yang bisa disiram sehingga tidak menimbulkan bau dan penyakit sebagaimana pernah diungkapkan oleh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manarnya bahwa makhluk-makhluk hidup yang halus yang dikenal orang sekarang dengan perantaraan mikroskop dan diberi nama mikroba ada kemungkinan juga termasuk jenis Jin jahat (setan) yang menjadi penyebab dari berbagai macam penyakit [2].

Menutup pintu tidak lain agar rumah kita tidak dimasuki setan manusia berupa maling, rampok atau sejenisnya yang dapat merugikan kita sendiri. Sementara larangan Nabi agar tidak melepaskan ternak dan anak-anak diwaktu matahari tenggelam hingga pagi hari tidak lain untuk menghindarkan kita dari ulah penculik anak dan maling binatang.

Kesimpulan akhir adalah setan itu merupakan segala sesuatu yang bersifat jahat yang bisa menjerumuskan seseorang dalam suatu bahaya, baik bahaya didunia maupun bahaya diakhirat. Setan bisa berupa hawa nafsu negatif yang merangsang seseorang untuk berlaku jahat dan menyimpang dari kebenaran. Setan juga bisa menimbulkan penyakit tertentu dan setan juga bisa berwujud Jin yang jahat.

Jadi, jika ada manusia yang selalu melakukan kejahatan, kebiadaban atau kenistaan maka dia adalah setan berwujud manusia, demikian pula bila ada Jin yang berlaku sama seperti itu maka dia adalah setan berwujud Jin.

Sebagai tambahan penutup, dalam al-Qur'an Allah tidak pernah menyinggung asal penciptaan setan, namun Allah telah menyinggung asal penciptaan Jin dan Manusia didalam banyak ayatnya, sementara asal penciptaan Malaikat disinggung oleh Nabi dalam sebuah Hadisnya :
Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat ALLAH, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Qs. 7 al-a'raf : 201)

Jika setan mengganggumu, maka mohonlah perlindungan kepada ALLAH, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui (Qs. 41 fushilat : 36)

Referensi : ----------
[1]Soenjono Dardjowidjojo, Psiko-linguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia, Yayasan Obor Indonesia, 2003
[2]Syaikh Muhammad al-Ghazali, Studi Kritis atas Hadis Nabi Saw : Antara pemahaman tekstual dan kontekstual dengan pengantar : Dr. M. Quraish Shihab, Terj. Muhammad al-Baqir, Penerbit Mizan, 1993, hal. 125
Wassalam.
Armansyah

Ingin Mendapat Hikmah?

Hikmah adalah harta umat Islam yang hilang. Kita dianjurkan mencari hikmah oleh Rasul yang mulia, Muhammad saw. Kita dianjurkan pula untuk mengambil hikmah dari manapun. Begitu pentingnya anjuran untuk mencari hikmah, sampai-sampai Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Jikalau hikmah itu ada di dalam gunung, niscaya akan aku goncangkan gunung itu!"

Bagaimana caranya untuk mendapat hikmah?
Mari kita buka al-Qur'an. QS al-Baqarah ayat 261 sampai dengan ayat 268 berbicara tentang infak dan sedekah.Pada ayat 269 tiba-tiba Allah mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain. Ayat 270 sampai dengan 274 pada surat yang sama kembali berbicara tentang sedekah dan infak.

Menurut hemat saya, tentu ada rahasia tersendiri ketika Alah tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan. Inilah ayat 269 itu: "Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."

Ternyata, di antara kumpulan ayat mengenai sedekah dan infak, Allah cantumkan ayat tentang hikmah. Ini berarti, wa Allahu a'lam, berinfak dan bersedekah menjadi kriteria penting jika kita ingin meraih hikmah.

Rupanya untuk mencari "harta" (baca: hikmah) umat Islam yang hilang itu, umat Islam dianjurkan untuk menyedekahkan hartanya terlebih dahulu.

Jangan-jangan anda tak perlu mengguncang gunung untuk mencari hikmah.
Hikmah di masa sekarang bukan bersembunyi di dalam gunung.. Ia hadir di sekeliling kita. Ia hadir pada tangan yang menengadah meminta belas kasih, ia muncul di wajah-wajah nestapa akibat menahan lapar, ia hinggap di rumah-rumah yang pemiliknya baru saja di PHK, ia hadir dalam senyum penghuni panti asuhan. Ia mengalir bersama derasnya aliran air mata mereka yang tidur di bawah kolong jembatan. Berikan sedikit harta kita (yang sebenarnya merupakan hak mereka), insya Allah akan anda temukan hikmah. Bila anda sudah temukan hikmah itu, maka sesuai QS 2: 269, anda telah mendapat karunia yang banyak dari sisi Allah swt.

Nadirsyah Hosen

Khanzab, setan spesialis shalat

Shalat adalah ibadah paling menentukan posisi seorang hamba di akhirat kelak. Jika shalatnya baik, maka baiklah nilai amal yang lain, begitu pula sebaliknya. Wajar jika iblis menugaskan tentara khususnya untuk menggarap proyek ini. Ada setan spesialis yang mengganggu orang shalat, menempuh segala cara agar shalat seorang hamba kosong dari nilai atau minimal rendah kualitasnya. Setan itu bernama 'Khanzab'.
Utsman pernah bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, setan telah mengganggu shalat dan bacaanku." Beliau bersabda: "Itulah setan yang disebut dengan 'Khanzab', jika engkau merasakan kehadirannya maka bacalah ta'awudz kepada Allah dan meludah kecillah ke arah kiri tiga kali." (HR Ahmad)
Utsman melanjutkan: "Akupun melaksanakan wejangan Nabi tersebut dan Allah mengusir gangguan tersebut dariku."

Melafazhkan Niat
Sebagaimana halnya dengan wudhu, serangan pertama yang dilakukan setan kepada orang yang shalat adalah menyibukkan ia untuk melafazhkan niat. Terkadang diiringi dengan gerakan aneh, dia membaca niat lalu mengangkat tangannya, lalu gagal dan idturunkan kembali tangannya. Dia ulangi lagi seperti itu berkali-kali hingga terkadang imam sudah rukuk atau sujud, sementara ia masih dipermainkan setan dalam niat dan takbirnya.
Niat dan usaha menghadirkan hati memang dituntut ketika hendak shalat, namun tak ada tuntunan sedikitpun bagi orang yang hendak shalat untuk melafazhkan niatnya.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam Zaadul Ma'ad berkata: Nabi memulai shalatnya dengan bacaan 'Allahu Akbar', dari Nabi beliau tidak membaca apapun sebelumnya dan tidak melafazhkan niatnya sama sekali. Beliau tidak mengatakan: ushalli.., 'aku niat shalat anu karena Allah menghadap kiblat empat rekaat sebagai imam (sebagai makmum).." Tidak pula beliau mengatakan 'ada'an' atau 'qadha'an', atau 'fardhan' dan sebagainya.
Semua itu adalah bid'ah yang tidak disebutkan sedikitpun dalam hadits yang shahih, atau dha'if, tidak pula terdapat dalam musnad atau mursal, walau hanya satu kalimat saja. Bahkan tak satupun sahabat mengerjakannya, tidak ada tabi'in yang menganggapnya baik, begitupun dengan empat imam madzhab.
Orang-orang belakangan yang membacanya keliru memahami perkataan Imam Syafi'i yang berbunyi 'shalat itu tidak sebagaimana shaum, tidak ada orang yang memulai shalat kecuali dengan dzikir'. Mereka menyangka bahwa maksud beliau adalah melafazhkan niat, padahal yang dimaksud tidak lain hanyalah takbiratul ihram."

Ingat Ini..Ingat Itu !
Serangan kedua, setan akan mendatangi orang yang tengah mengerjakan shalat untuk mengingatkan urusan di luar shalat. Maka berapa banyak orang yang jasadnya mengerjakan shalat namun hatinya sibuk menghitung laba rugi perniagaan, mengingat barang yang telah hilang, atau bahkan urusan 'kebaikan ' yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Tidak heran jika usai shalat seseorang menjadi ingat letak barang yang mana ia telah lupa sebelumnya. Setan rela 'membantu' orang itu untuk mengingatkan dan menemukan barangnya kembali, asalkan shalat yang dikerjakan menjadi rusak dan tidak bermutu.
Pernah di zaman salaf seseorang kehilangan barang, seseorang menyarankan agar ia mengerjakan shalat dan diapun segera melaksanakan shalat. Ajaib, usai shalat tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya dan mengambil barang yang telah dia ingat letaknya ketika shalat. Diapun ditanya: "Apa yang Anda dapatkan ketika shalat?" Dia menjawab: "Aku mendapatkan bahwa setan mencuri perhatian saya dari shalat."

Lupa, terlalu asyik dengan khayalannya
Ada yang terlalu asyik dengan khayalan dan pikirannya tentang urusan di luar shalat, hingga dia lupa sudah berapa rekaat yang telah dia kerjakan. Tentang godaan setan ini, Nabi SAW. bersabda: "Jika adzan untuk shalat dikumandangkan, setan akan lari terbirit-birit sambil mengeluarkan bunyi kentutnya sehingga tidak mendengar adzan. Jika adzan telah usai diapun akan kembali menggoda. Ketika iqamah dikumandangkan setanpun akan lari hingga usai iqamah setan akan mendatangi orang yang shalat lalu membisikkan ke hati seseorang sembari berkata: 'Ingat ini..ingat itu..' setan mengingatkan apa-apa yang telah dia lupakan hingga seseorang tidak mengetahui berapa rekaat yang telah ia kerjakan." (HR al-Bukhari)

Ragu antara Kentut dan Tidak
Ada kalanya muncul dalam benak seseorang keraguan, apakah dia kentut ataukah tidak. Ini adalah keraguan yang dihembuskan oleh setan untuk mengacaukan shalat seseorang. Dia tidak lagi konsentrasi dengan shalatnya karena ragu, atau dia akan membatalkan shalatnya, lalu dia berwudhu dan memulai shalatnya lagi, lalu akan digoda lagi dengan cara yang sama. Sehingga untuk satu shalat dia bisa mengulangi tiga sampai empat kali berwudhu. Bisa dibayangkan, seandainya ada lima orang saja dalam satu masjid yang terkena godaan ini, niscaya cukup membuat kacau jama'ah yang lain.
Untuk menangkal godaan tersebut Nabi memberikan solusi dan informasi: "Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan yang demikian itu maka janganlah membatalkan shalatnya hingga dia mendengar suaranya dan mencium baunya tanpa ragu. (HR Ahmad)
Di antara ulama ada yang menyebutkan bahwa hadits ini merupakan salah satu pengecualian dari hadits da' ma yariibuka ilaa ma laa yariibuka, tinggalkan apa yang meragukan dan ambil sesuatu yang tidak meragukan. Dalam kasus ini kita dilarang membatalkan shalat kendati berada dalam keraguan antara kentut dan tidak, kecuali jika mencium bau kentut atau mendengar suaranya.

Mencuri Perhatian
Kita juga sering melihat atau bahkan mengalami sendiri menengok ketika shalat terkadang tanpa terasa karena terbiasa. Ini juga tak lepas dari serangan setan yang ingin merusak shalat kita. Nabi ditanya tentang orang yang menoleh ke kanan dan ke kiri, beliau menjawab: "Itu adalah setan yang mencuri perhatian seorang hamba dari shalatnya." (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud)

Untuk menangkal serangan ini, hendaknya orang yang shalat berusaha menghadirkan hatinya, bahwa dia tengah berhadapan dengan Allah Yang Maha Berkuasa atas segalanya. Jika Anda malu atau takut menoleh ke kanan dan ke kiri ketika berbicara kepada pejabat, lantas bagaimana halnya jika Anda sedang berkomunikasi dengan sang pencipta dan Penguasa para pejabat itu?

(Ar risalah)

Hari Ini, Sepiring Berdua


''Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?'' (QS. Al-Qashash : 60)
Suatu ketika seorang suami pulang dari kantor membawa sekotak nasi. Ia disambut oleh istrinya yang sedang hamil anak pertamanya. Dengan perasaan bersalah, sang suami menatap sedih dan segera menyodorkan kotak itu kepada istrinya "Bunda, hari ini kita makan sepiring berdua yah!". Sekalipun sang istri seharian baru makan nasi sisa dari malam sebelumnya, ditambah lauk mentega, ia dengan sabar menjawab, "Iya tidak apa-apa. Tapi kasihan ayah, kan hari ini puasa...". Sang suami itu pun membalasnya dengan tenang untuk menutupi dan menahan rasa sedihnya menghadapi ujian rezeki kala itu. "Alhamdulillah, ini yang kita dapatkan hari ini". Sedangkan pikirannya sudah terisi kegundahan, apa yang akan dimakan esok hari.
Begitulah salah satu gambaran nuansa kehidupan sebuah keluarga. Ada kalanya sebuah keluarga mengalami masa-masa kekurangan dan kesempitan. Terlebih lagi bagi mereka yang mengawali rumah tangga dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Hidup yang memprihatinkan harus dijalani dengan pengorbanan dan kemampuan 'berhitung' terhadap pengeluaran dan pemasukan. Berdirinya sebuah rumah tangga dapat diawali dengan adanya kesepakatan pasangan terhadap berbagai hal. Yang terpenting, masing-masing dapat menjaga citra diri demi berlangsungnya pernikahan. Semangat ini pun mesti dibalut dengan keyakinan bahwa rezeki pasti akan diperoleh. Meski demikian, setelah akad nikah, dalam perjalanan hidup rumah tangga, komitmen yang telah disepakati tak jarang berubah menjadi hal yang berbeda.
Selain karena perubahanan waktu dan suasana, keinginan dan harapan yang ada akan mengarahkan pada sesuatu yang lebih ideal untuk diwujudkan. Bahkan hal-hal yang dulu tidak sempat kita pikirkan, satu per satu akan mulai tampak. Yaitu, mulai dari sifat, sikap, dan kemampuan pasangan dalam menghadapi dan mengelola hiruk pikuk rumah tangga. Masalah-masalah yang sebenarnya sepele, sangat mungkin menimbulkan permasalahan sehingga memicu ketidakharmonisan hubungan antara suami istri.
Pasangan suami istri yang tengah menghadapi ujian seperti itu, sebaiknya menengok kembali kesepakatan yang pernah dibuat bersama dengan penuh tanggung jawab. Tidak saling menyalahkan atau bahkan membebankan dan menuntut kepada suami atau mencari kesalahan dan sebab akibat kepada istri, merupakan salah satu alternatif solusi terbaik. Dalam rumah tangga tak mungkin antara suami dan istri hidup hanya berdasarkan kebutuhan dan keputusan masing-masing. Semuanya harus bersama siap menghadapi berbagai risiko.
Nikmati sebuah 'tim kerja' yang diikat oleh ikatan hati dan semangat dalam kebersamaan. Dalam keadaan yang tak nyaman inilah menjadi saat tepat untuk memperbaharui komitmen dan membuat rencana kedepan yang lebih matang. Mulailah membangun indahnya kebersamaan penuh kesabaran. Terimalah keadaan dengan menikmatinya dan berbahagia dengan apa yang ada. Janganlah ragu untuk menahan diri dari meminta dan berharap dari orang lain. Pertahankan harga diri bersama-sama, sekalipun harus makan sepiring berdua atau menahan lapar bersama-sama. Curahkan isi hati kepada orang-orang yang bijak dan memiliki ilmu. Masukan pendapat orang lain tak jarang akan membuat cara kita berpikir dan bertindak lebih memiliki nilai ilmu daripada mengedepankan emosional.
Semuanya itu tak pelak pada akhirnya akan mengantarkan kita lebih mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Tambahkan kekuatan semangat dalam menjalani kehidupan dengan terus mendekat kepada pemilik kehidupan ini dalam rangkaian ikhtiar kita. Ringankan hati dengan terus berupaya berbaik sangka terhadap semua yang terjadi pada diri kita. Sadarilah bahwa episode yang terlewati merupakan jalan mematangkan dan memuliakan diri kita di hadapan-Nya. Dalam situasi apapun, bila kita telah memperbaiki komitmen, maka tak ada sesuatu hal yang sulit dan menyedihkan. Sebab kita akan mengetahui arti senang ketika telah merasakan kesedihan. Maka janganlah sedih bila hari ini makan malam kita hanya sepiring berdua.
Wallahu'alam.

Monday, April 24, 2006

PERINGATAN BAGI SUAMI SHOLEH

Assalamu’alaikum wr. wb.

Suami yang baik adalah konsisten dengan kebenaran. Ia hendaknya memahami suatu asas yang berbunyi: “Seorang laki-laki sebaiknya mengikuti kebenaran, bukan kebenaran yang mengkuti laki-laki.” Beberapa peringatan untuk para suami:

1.Tidak memperkenankan istri melakukan hal yang bertentangan dengan syariat. (Al-mukhalafah asy-syar’iyyah artinya adalah semua perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Perbuatan tersebut tidak hanya pada hal berdandan dan berhias yang berlebihan atau membuka aurat) Terkadang kita menemukan sebagian suami yang mengizinkan istrinya berpakaian dan bepergian semaunya, bahkan memberi kesempatan kepada istrinya untuk melakukan segala sesuatu yang dilihat oleh semua orang. Nabi bersabda: “Allah melaknat alwashilah (orang yang menyambung rambutnya dengan rambut lain) dan mustaushilah (orang yang minta disambungkan rambutnya) serta wasyimah (orang yang membuat tato) dan mustaushimah (orang yang minta dibuatkan tato)” (Hadits sahih. HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Utsaimin berkata, “Allah melaknat orang yang bertato dan orang yang membuatnya, orang yang menghilangkan bulu di mukanya dengan menggunakan alat semacam pinset, dan orang yang merubah organ tubuhnya agar terlihat lebih menarik”. Lalu seorang perempuan datang kepadanya dan berkata, “Ada kabar yang telah sampai kepada saya bahwa engkau melaknat orang seperti itu?” Dia menjawab, “Kenapa saya tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah dan telah disebutkan di dalam Al Qur’an?” Kemudian perempuan itu berkata, “Saya telah membaca dua kitab dan tidak menemukan apa yang engkau ucapkan. “ Ibnu Utsaimin lalu berkata, “Jika engkau benar-benar membacanya, niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah kau membaca ayat…’apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…’ (QS. A Hasyr (59) : 7) Perempuan tersebut menjawab, “Ya, saya telah membacanya.” Ibnu Utsaimin pun berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarangnya.” (Hadits shahih. HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Ashakir, Thabrani, Darimi, dan Ahmad)

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda: “Dua golongan penghuni neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya yaitu: (satu) kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang digunakan untuk mendera manusia, dan (dua) wanita yang menggunakan pakaian tapi (seperti) telanjang, berjalan dengan melenggak lenggok (erotis saat berjalan). Mereka tidak masuk surga dan tidak dapat mencium aromanya, padahal aroma surga dapat tercium dari jarak sekian sekian (jarak yang sangat jauh).” (Hadits sahih. HR Muslim, Ahmad dan Baihaqi) Orang yang berpakaian telanjang mempunyai beberapa makna antara lain: memakai pakaian pendek, sehingga sebagian besar tubuhnya terlihat, memakai pakaian yang sangat tipis (transparan), sehingga seluruh tubuhnya terlihat dengan jelas, memakai pakaian yang ketat, sehingga lekuk tubuh terlihat jelas.

2. Bergaul hanya dengan orang-orang yang baik Hal ini sangat penting, karena teman yang perangainya buruk laksana syetan, yang dapat menyeretnya pada lembah kenistaan. Simaklah insiden ini! “Ada seorang lelaki dari keturunan Bani Israil yang mempunyai istri dan seekor anjing. Dia seorang yang baik, namun ia bergaul dengan orang yang berakhlak buruk. Kebiasaan mereka adalah berburu. Pada suatu ketika dia pergi bersama teman-temannya untuk berburu. Ditengah perjalanan salah seorang dari mereka kembali pulang namun tanpa sepengetahuan yang lainnya. Ternyata anjing milik laki-laki tadi membuntuti orang yang kembali pulang tersebut. Orang tersebut menuju rumah laki-laki yang memiliki anjing itu dan menemui istrinya. Singkat cerita keduanya melakukan perzinahan. Tiba-tiba anjing itu menerkam kedua orang tersebut. Tatkala laki-laki tersebut datang dari perburuannya, ia terkejut melihat seekor anjing yang telah dibunuh masyarakat sekitar dan melihat istrinya bersama temannya terbunuh dalam keadaan bugil dan mengerikan. Lalu dia menangis sambil meratap, “alangkah mengherankan! Seorang teman berkhianat, sedangkan seekor anjing tidak berkhianat (menjaga kepercayaannya)?” Dari cerita tadi dapat dipahami bahwa pertemuan antara istri dan teman tersebut secara tidak langsung, disebabkan oleh suaminya. Kesalahan tidak seluruhnya dilimpahkan kepada istri, karena suami dalam hal ini mempunyai andil yang besar. Rasulullah SAW memberi peringatan kepada kita dalam sebuah hadits: “Seseorang akan (mengikuti) agama (kepercayaan) temannya, karena itu hendaklah ia melihat (memilih) siapa yang akan ia pergauli” (Hadits hasan. HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Hakim yang mengatakan hadits ini shahih, insya Allah)

Imam Ghazali berkata,“Bergaulah dengan orang yang dermawan akan mendorong seseorang untuk menderma dan berteman dengan orang yang zuhud akan mendoronmg seseorang untuk berlaku zuhud terhadap dunia, karena biasanya manusia meniru watak yang lain, tanpa ia sadari.” (Adz-Dzahabi, Khatib, Abu Na’im dan Al Baghawi menyetujui hadits tersebut)

3. Membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah. Sebagian suami biasanya tidk membantu istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah, karena mereka menganggap pekerjaan tersebut dapat mengurangi harga dirinya sebagai laki-laki, padahal membantu istri adalah sesuatu yang dianjurkan, karena pekerjaan rumah tangga juga boleh dikerjakan oleh seorang suami.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah menjahit sandalnya, menghilangkan kutu dari pakaiannya dan bekerja di rumahnya, seperti salah seorang diantara kamu yang melakukan pekerjaan di rumahnya. “ (Hadits sahih. HR ahmad, Bukhari, Abdurrazak dan Ibnu Hibban)

Dalam Hadits lain dia berkata, “Orang yang sejati adalah orang yang menghilangkan kutu di pakaiannya, memeras susu kambingnya dan mengurus dirinya sendiri” (Hadits hasan. HR Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Baihaqi)
Oleh karena itu kehidupan rumah tangga dapat tegak apabila didasari dengan kebersamaan. Dengan demikian, tidak mungkin keduanya dipisahkan. Kita harus ingat bahwa Allah telah memberi keutamaan pada orang lain di atas keutamaan yang lain.

Wallahu’alam bishowab. Semoga bermanfaat!

Wassalamu’alaikum wr.wb.
(Sumber: Kriteria Suami yang Shalih menurut Al Qur'an dan Sunnah, Mahmud Abdul Malik Az-Zoughbi, Penerbit Cendekia, 2004)

Wali Paidi (Eps.12)

Gus Dur menerima dengan lapang dada isyarah yang ditafsirkan Kiai Rohimi. Gus Dur tidak peduli jika dalam kepimpinanya kelak, akan direcoki ...